LGBT: Sebuah perspektif


“Kamu kan religius, kenapa ngambil topik skripsi semacam LGBT bahkan ini… transgender pengidap AIDS?” Tanya dosenku hari itu.

Aku diam.

Banyak hal yang harus aku jelaskan walaupun beliau hanya memberikanku satu pertanyaan. Dan aku rasa, aku harus menuliskan juga perpektifku terhadap isu yang sangat-sensitif ini.
-

Pertama, aku tidak religius.

Aku tidak mengerti apa yang dinilai dari diri seseorang sehingga ia bisa disebut sebagai religius. Jika religius berarti patuh dalam menjalankan aturan agama, jawabannya adalah tidak, aku tidak religius. Aku masih begitu banyak memiliki kecacatan dalam perjalanan mematuhkan diri dengan Sang Ilahi. Aku belum sepenuhnya patuh.

Mungkin, banyak yang menilai aku religius karena pakaianku. Tapi ada yang harus ku tekankan, pakaian hanyalah satu dari sekian banyak aspek yang ada dalam diri seseorang, oleh karena itu aku menolak digeneralisir dengan penilaian religius hanya karena pakaian.

Aku menolak disebut religius, karena aku sangat-belum-cukup untuk dikelompokkan ke dalam kelompok manusia-manusia baik. Aku hanyalah manusia, yang -berusaha- menjadi patuh. Mungkin lebih tepat, jika pertanyaannya ditambah, “Kamu kan orang yang berusaha menjadi religus”, aku baru akan menerimanya—Karena mungkin, orang yang melabeli aku sebagai “religius” adalah orang yang lebih “religus” (lebih taat, lebih patuh, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah) daripada aku.


Kedua, aku tidak memandang kelompok LGBT sebagai kelompok yang mesti aku jauhi.

Beberapa orang menyalah-artikan maksudku ini sebagai….aku adalah orang yang menerima LGBT atau aku termasuk ke dalam kelompok islam liberal. Fyuh. Bismillah, semoga perpektif yang aku punya setidaknya sedikit menjelaskan maksudku yang sebenarnya.

Aku ingin menekankan dulu sebelumnya, aku tidak menerima LGBT. Karena nilai yang mereka punya sangat bertentangan dengan nilai yang aku punya. Aku heteroseksual dan agama ku melarang hubungan homoseksual/biseksual, pun merubah status kelamin sebagaimana ia dilahirkan adalah sesuatu yang dilarang atau bisa disebut sebagai “perilaku dosa”. Tapi aku tidak mau memusuhi mereka.

Pertama, dalam perspektif ku, meskipun mereka berbuat dosa bukan berarti derajatku lebih baik dibanding mereka di sisi Tuhan. Aku pun sama, melakukan dosa. Banyak? Ya, sangat-banyak-sekali. Hanya saja, perbedaannya, aku melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi (kadang aku pun tidak merasa sedang melakukan dosa). Sedangkan mereka, lebih “terlihat”.

Ada beberapa orang yang mungkin akan menyanggahku dengan “Tapi mereka kan melakukan dosa besar”. Ya, aku setuju, tapi bukan berarti aku tidak melakukan dosa besar, jujur saja--kamu hanya tidak melihatnya. Selain itu, dosa-dosa kecil yang aku lakukan, aku tidak tau sudah seberapa besar jumlahnya, aku tidak tau apakah dosa-dosaku sudah diaampuni atau belum, yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha bertaubat. Dosa kecil pun lama-lama akan menumpuk, itu sebabnya kita tidak boleh meremehkan dosa kecil bukan?

Dan karena segala tumpukkan dosa yang ku punya tidak bisa dibandingkan dengan dosa yang mereka punya, karena tidak terlihat, aku tidak bisa menghitungnya. Lantas, kenapa aku harus memposisikan diri menjadi sosok yang ‘lebih tinggi’ dibandingkan mereka?

Masih ada beberapa alasan lain.

Kedua, aku memandang mereka sebagai orang-orang yang harus berjuang dengan melawan nafsu nya, sama sepertiku. Bedanya, untuk yang homoseksual seperti lesbian dan gay, mereka harus berjuang melawan hawa nafsu kepada sesama jenis. Sedangkan aku, kepada lawan jenis. Apalagi bagi homoseksual yang sedari kecil, tidak pernah sama sekali merasakan perasaan suka kepada lawan jenis, dalam tanda kutip mereka disebut sebagai homoseksual karena hormon yang ia miliki (karena manusia lahir berbeda-beda), atau yang merasakan salahnya didikan orangtua sehingga tidak familiar dengan hubungan heteroseksual. Dan mungkin teman-teman biseksual, lebih berat lagi dalam melawan nafsunya.

Kenapa aku memiliki perspektif ini? Aku beberapa kali melakukan wawancara dengan yang bersangkutan. Dan beberapa dari mereka mengaku merasa ingin menjadi heteroseksual tapi tidak bisa. Mengerti bahwa agama melarang sehingga ingin menjadi heteroseksual. Berusaha sehingga mereka terkadang merasa diri mereka orang-yang-dilahirkan-dengan-sangat-buruk, frustasi bahkan depresi. Meski beberapa dari mereka pun, merasa tidak ada yang salah dengan diri mereka, itu adalah pilihan mereka bukan pilihanku jadi tidak berpengaruh apapun pada diriku.

Kembali fokus ke homoseksual yang ingin menjadi heteroseksual dan berjuang melawan hawa nafsunya. Aku pun sama, berjuang dengan hawa nafsuku. Ada beberapa waktu di mana aku tidak bisa menahan hawa nafsu ku kepada lawan jenis. Aku pernah sangat ingin memiliki seseorang. Pernah berusaha menjadikannya agar menjadi pasangan hidup dengan cara yang salah. Aku pun pernah merasa diri ini orang-yang-sangat-buruk karena tidak dapat mengontrolnya. Kita semua sama-sama berperang melawan hawa-nafsu.

Dan untuk transgender, keinginannya menjadi gender yang berlawanan. Mereka pun berjuang dengan keinginannya menjadi lawan jenis, memakai pakaian yang dinginkan, dan lainnya. Aku pun sama, meski tidak ada keinginan untuk berubah gender. Aku ada keinginan untuk memakai apa yang aku inginkan. Misalnya? pakaian pendek, dengan potongan yang lucu-lucu, modis nan trendy. Tapi aku mau-tidak-mau harus menahannya.

Aku tau betapa sulitnya mengontrol hawa nafsu ini, kenginan-keinginan yang tidak diperbolehkan, oleh karena itu, apa yang membuatku pantas merasa ‘lebih-baik’ sehingga aku ‘layak memusuhi’ mereka? Padahal aku sendiri berjuang melawan itu semua.

Dan yang terakhir, poin yang paling inti. Aku tau mereka melakukan dosa besar. Jika aku memusuhinya, lantas apa peran dakwahku terhadap mereka? Dimana peranku padahal aku di tempatkan oleh Tuhannku berada di era di mana LGBT menjadi isu hangat. Bagaimana jika suatu hari nanti, di hari pertanggungjawaban, aku di tanya oleh Tuhan mengenai hal ini?

Aku tau, tidak semua dari mereka menginginkan untuk didakwahi. Menurutku, itu bukanlah sebuah masalah. Aku tidak ingin memaksa mereka. Peranku, adalah menghadirkan dengan akhlak (meski aku tau akhlak yang kumiliki sangat amburadul), bahwa menjadi beragama bukan berarti orang yang bersangkutan suci sehingga dapat merendahkan orang lain. Peranku adalah menghadirkan dakwah melalui obrolan dan perilaku. Meski aku tau beberapa orang dari mereka berpegang-teguh dengan nilai yang dipunya. Tidak apa-apa. Aku pun memiliki nilai yang ku pegang dan aku pun tidak ingin seseorang mengganggu nilai-nilai yang ku punya. Yang penting, aku sudah melakukan suatu ‘action’---kepada diriku sendiri untuk tidak menjadi sombong, dan kepada mereka. Soal hasilnya, kan bukan urusanku. Aku serahkan pada Tuhan. Aku yakin Tuhan hanya melihat usahaku. Aku tidak ingin memaksa karena setiap orang tidak suka keinginannya dipaksakan. Karena aku dihisab oleh apa yang aku kerjakan, bukan apa yang orang lain kerjakan.

Setidaknya, aku ingin menghadirkan “tempat-untuk-kembali” jika mereka ingin, meskipun aku tidak dapat begitu memfasilitasi, tapi aku ingin mengusahakannya. Karena aku juga ingin melakukan apa yang ingin aku dapatkan dari orang lain, yaitu, ketika aku melakukan sebuah dosa, aku tidak distigma, aku tidak dihindari, aku tidak dikucilkan melainkan dirangkul, melainkan aku-memiliki-orang-dimana-aku-bisa-kembali.

Aku terinspirasi dengan adanya pesantren Al-Fatah di Yogyakarta bagi waria atau pesantren “Senin-Kamis” untuk para homoseksual. Memang paradoks, antara agama dan apa yang dilabeli dengan ‘dosa’ disatukan. Tapi bagiku… semua orang memiliki hak untuk kembali pada Tuhannya. Tanpa terkecuali.

Itu sebabnya. Aku tidak setuju dengan pembatasan lapangan pekerjaan kepada kelompok LGBT., pembatasan fasilitas kesehatan, dan lainnya. Jika kamu adalah orang yang pernah membaca buku mengenai stigma kelompok LGBT, pasti kamu tau. Karena adanya diskriminasi yang diberikan, mereka tidak dapat hidup layak, mereka semakin terjerembab dalam jurang. Banyak lho dari mereka yang menjadi PSK karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang diberikan. Kamu bisa baca buku-buku yang berkaitan dengan stigma untuk mengetahui lebih lanjut (uhuy yang lagi berusaha nyusun mah beda x’D) atau membuka diri dengan mengobrol dengan mereka yang kamu anggap berbeda. Aku tidak mau kehadiranku karena melakukan hal yang sama, alih-alih menyelamatkan mereka, malah semakin memperburuk keadaan yang mereka alami.

Menurutku, menghukumi seseorang atas perilakunya bukanlah tugasku, tugasku adalah melakukan sesuatu yang kuanggap benar untuk membantu mereka.

Sekian perspektif yang sangat panjangnya.

Jika ada perbedaan nilai, aku harap kamu sebagai pembaca dapat menghargai perspektif ku dengan tidak melakukan cancelling. Atau menghukumi ku sebagai liberal, karena pada kenyataannya aku tidak merubah satu pun aturan dari agama. Ini merupakan pilihan aksi yang ku pilih.
Terimakasih. <3


Kok Dia Bisa Gitu Ya? Munafik atau..


Pernah gak melihat seseorang yang kamu anggap sebagai “orang yang baik”, melakukan hal-yang-sangat-burukyang gak pernah terpikirkan bahwa orang seperti dia akan melakukannya? Misalnya, seorang ustadz di suatu daerah yang ku tahu, mengadakan pengajian untuk anak-anak agar lebih mendalami Al-Qur’an, eh, tapi malah.…menghamili salah satu muridnya. Atau kejadian serupa di Boston Amerika, yang diangkat menjadi film berjudul Spotlight (harus nonton), bahwa di tahun 2002 terungkap bahwa ratusan -bahkan berbentuk jaringan- pastor di AS melecehkan anak-anak.

Atau kamu pernah mendengar hal yang lebih mengagetkan lainnya?

Maka hari ini, ingin menulis mengenai.. Kok dia bisa gitu ya? Padahal kan….

Dari sini jelas bisa disimpulkan, bahwa dunia ini nggak cuma terdiri dari warna hitam dan putih. Semua manusia memiliki warna nya sendiri. Kita kerap kali merasa bisa menilai seseorang dengan baik, tapi sering kali penilaian itu gagal.

Hal ini dijelaskan oleh Prof. Deddy Mulyana dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi. Beliau menuliskan bahwa kesalahan persepsi terhadap seseorang ini disebut sebagai Halo Effect. Merujuk kepada fakta bahwa kita membentuk kesan menyeluruh karena sifat-sifat yang menonjol dari pribadi seseorang. Bila sifat negatif yang menonjol, kita sulit mengakui bahwa ia memiliki beberapa sifat positif. Pun, sebaliknya. Dengan kata lain, kita mengelompokkan sifat-sifat seseorang secara kaku.

Maksudnya, aku beri contoh seorang-yang-sepertinya-semua-orang-kenal: Awkarin. Dengan akun Instagramnya, ia menampilkan bahwa ia adalah seorang bad girl. Banyak hujatan mendatangi nya di kolom komentar. Bahkan seringkali ia di cap sebagai bad influencer.  Nah. Sekarang pertanyaannya.. apa dia benar-benar seburuk yang dipikirkan?

Beberapa waktu yang lalu, sosok Awkarin ini pergi ke Palu membantu korban gempa. Yang kemudian, menggetarkan (yaila?) jagat internet :p. Salah satu komentar yang ku baca (dan masih teringat) dari sebuah postingan, seperti ini: Awkarin udah berubah ya. Yups! Bisa jadi dia berubah, atau bisa jadi kita yang mengelompokkan dan menggeneralisir sifatnya secara kaku. Kalau yang kita lihat bernilai buruk, maka kita mempersepsikan ia orang yang seperti itu. Padahal belum tentu. Semua orang selalu punya sisi kebaikan dan keburukan. Dan kita nggak pernah tau, sebenarnya keburukan atau kebaikan yang mendominasi dalam diri seseorang itu.

Selain menggeneralisir seseorang melalui sikap nya yang kita lihat, Prof. Deddy Mulyana juga menyatakan bahwa kita mempunyai ekpektasi sifat seseorang melalui penampilannya. Yang ganteng dan cantik mah…dinilai punya kebaikan lebih.

Contoh nya, beberapa waktu yang lalu (bahkan sampai sekarang), dunia per-kpop-an heboh dengan kasus Burning Sun. Buat yang enggak tahu apa itu Burning Sun… Burning Sun ini nama sebuah club malam di Korea Selatan. Kasus ini rame banget karena yang punya club malam ini adalah salah-satu anggota Boyband terkenal Korea, Bigbang. Kasus ini menarik.. karena ternyata di dalamnya terdapat kasus penyuapan petinggi polisi Korea, pengedaran narkoba, penjualan perempuan dengan membiusnya, bahkan merekam hubungan seksual dengan diam-diam dan menyebarkannya! Makin gila nya lagi, setelah kasus semakin didalami, yang termasuk di dalam kasus ini bukan hanya pemilik club malam Burning Sun, tapi banyak nama idol lain yang terseret dalam kasus pelecehan seksual. Ah, panjang banget kalau diceritain, bisa klik di sini aja buat penjelasan lebih lengkapnya.

Yang bikin kagetnya, yah itu idol kan mukanya ganteng-ganteng.. bukan muka kriminal lah, siapa sangka. Nah, salah satu hal yang sering kita lupa adalah semua orang ingin menunjukkan sisi terbaiknya. Selain para idol yang secara manusiawi ingin menunjukkan sisi baik dirinya, dalam dunia entertainment, pasti seseorang dibuat sedemikian rupa agar ia terlihat memiliki sikap yang baik. Yah.. bak perfect. Bahkan salah satu idol yang terlibat kasus ini yang ku tahu, suka memberi donasi uang untuk yang membutuhkan (diluar variety shows). Ketika kasus ini pertama kali muncul, banyak orang yang nggak percaya idolnya melakukan hal buruk seeprti itu. Bahkan sempat masih mensupport idolnya.

Padahal kembali lagi manusia tetaplah manusia. Dia baik, tapi pasti selalu ada keburukan didalamnya. Dia buruk, tapi pasti selalu ada kebaikan didalamnya. Karena kita manusia, bukan setan pun malaikat. Dia cantik, pasti dia punya kebaikan dan keburukan. Dia ganteng, sama! Dia punya kebaikan dan keburukan. Karena kita semua manusia, bukan iblis pun bukan malaikat.

Manusia pasti melakukan salah dan pasti melakukan kebaikan. Soal derajat siapa yang lebih baik, kita tidak pernah tau. Karena kita bukan lah penilai yang baik---yang kita nilai baik ternyata buruk, yang buruk pun sebaliknya.  Dan tugas kita di dunia ini pun bukan untuk menjadi penilai. Hihi, kita adalah makhluk yang nggak tau apa-apa, tapi sering sok tau T__T.

Manusia dengan keunikannya membawa banyak kejutan. Seorang yang terlihat ahli di bidang agama, bisa jadi menipu banyak orang. Seorang yang periang, bisa jadi melakukan tindakan bunuh diri. Seorang pencuri, bisa saja melakukan tindak pencurian karena ingin membahagiakan anaknya. Seorang yang berpenampilan sederhana, bisa jadi adalah seorang miliyader. Seorang yang pemarah, bisa jadi adalah seorang yang penyayang. Singkat kata, karena keunikan yang terdapat pada masing-masing individu kita seyogyanya berhati-hati dalam mempersepsikan seseorang, karena Halo Effect ini dapat menipu setiap orang.

Pada akhirnya, aku ingin mengutip kalimat yang sangat terngiang dari Yasmin Mogahed, bahwa manusia yang baik bukanlah manusia yang nggak pernah melakukan kesalahan (keburukan). Tapi manusia yang melakukan kesalahan, namun menyesalinya dan bertaubat, serta terus-menerus berusaha memperbaiki dirinya. 

Dan karena kita tidak pernah tahu siapa itu orangnya, sudah sepantasnya kita tidak menilai orang lain. Karena kita -sebagai manusia- tidak memiliki kapasitas dalam melihat itu.


Tentang Memantaskan Diri

Kata ‘memantaskan diri’ erat dikaitkan dengan......jodoh. Yup, memang, pernikahan itu bukanlah sebuah jenjang yang bisa dilalui dengan mudah. Akan banyak tanggung jawab besar yang dihadapi ke depannya, maka banyak yang harus dipersiapkan dan prosesnya bisa disebut sebagai proses ‘memantaskan diri’.

Aku sangat setuju dengan pemaknaan di atas. Tapi, mungkin, aku memiliki pemaknaan lain dalam memaknai kata ‘memantaskan diri’.

Menurutku, memantaskan diri dapat dimaknai secara luas. Memantaskan diri adalah proses yang harus (karena mau-tidak-mau) dilakukan oleh semua manusia dalam segala aspek kehidupan.

Ketika aku mengajar, maka aku akan mencari bahan yang akan ku sampaikan. Aku tidak bisa datang ke kelas sekedarnya tanpa adanya persiapan. Jika aku datang tanpa belajar terlebih dahulu, bisa-bisa aku salah memberikan informasi. Bisa-bisa aku menyesatkan.. aku harus memantaskan diri menjadi soerang guru dalam versi terbaik. 

Ketika aku dihadapkan dengan seorang dosen. Maka aku harus mengerti bagaimana cara nya ia mengajar, agar aku dapat dengan maksimal menyerap materi yang beliau disampaikan. Aku juga harus mempelajari karakteristik dosen tersebut, bagaimana aku dapat memiliki hubungan yang baik dengannya. Bagaimana aku bisa berkonsultasi dengannya.. aku harus memantaskan diri menjadi mahasiswa yang baik.

Ketika aku menginginkan diri untuk lulus dengan nilai baik dan dalam tempo waktu yang cepat. Maka aku harus banyak belajar..banyak membaca. Aku mesti mendisiplinkan diri.. aku memantaskan diri untuk menjadi seorang sarjana.

Ketika aku menginginkan diri untuk bekerja disuatu tempat. Maka aku harus mengikuti segala rangkaian proses penerimaan. Aku harus mempersiapkan diri terlebih dahulu.. aku memantaskan diri agar 'pantas' diterima oleh tempat dimana aku ingin bekerja.

cr: islampos.com/7291-7291/

Segala proses yang dilalui dalam hidup ini adalah proses memantaskan-diri, memantaskan diri menurutku adalah segala proses yang dilalui dalam mencapai apa yang diinginkan.

Bahkan sedari kecil sebagai manusia, kita terbiasa memantaskan diri kita untuk mencapai sesuatu.

Misalnya, ketika dulu aku ingin sama seperti orang lain, bisa bermain sepeda, maka aku harus melalui proses jatuh, menabrak dan tidak menyerah dalam melatih diri.

Dari sudut pandang ini, aku menyadari semangat memantaskan diri sebenarnya sudah ditanamkan sejak lahir dalam diri setiap insan. Konteks memantaskan-diri menurutku bukanlah hanya terbatas dalam konteks pernikahan. Tetapi dalam segala konteks-kehidupan. Sesudah menikah pun, tetap harus memantaskan diri untuk menjadi pasangan yang baik, menjadi menantu yang baik, menjadi tetangga yang baik, menjadi orangtua yang baik dan terus berlanjut dalam segala detailnya sampai kematian menjemput.

Pada akhirnya, konsep memantaskan-diri adalah konsep besar dalam kehidupan. Sebuah konsep yang dihadirkan oleh Tuhan (pasti) dengan tidak sia-sia. Menurutmu apa maksud utama dalam memantaskan-diri? Menurutku, konsep memantaskan-diri dihadirkan agar kita terus-menerus berproses menjadi pribadi yang baik agar kelak dapat kembali menemui-Nya dalam keadaan yang sebaik-baiknya.

Hadiah

 
cr. outerbloom


 Semua orang suka sama hadiah. Tapi kadang, ehm, sering nya, saya lupa kasih hadiah ke orangtua. Kapan ya terakhir saya kasih hadiah ke orangtua? 

Yah, Mungkin karena saking baik dan tulusnya, mereka jadi gak mengharap imbalan apapun. Cukup liat saya tumbuh dan berkembang dengan baik, itu udah jadi hadiah tersendiri, katanya.

Omong-omong soal tumbuh dan berkembang, saya jadi kepikiran;

Apa… saya sudah tumbuh dan berkembang dengan baik? Apakah sudah sesuai dengan harapan dari orangtua saya?

Dan lagi-lagi muncul pertanyaan, apa mungkin selama ini saya keasyikan tumbuh dan berkembang? Sehingga terkadang saya terlena dengan keasyikan lingkungan dan sering secara sengaja maupun enggak, melupakan mereka karena saya lebih memprioritaskan hal lain?.

Apakah saya sudah menjadi hadiah yang baik?

Malu rasanya. Saya masih banyak banget kurangnya, apalagi dihadapan orangtua. Yang tau segala seluk-beluknya saya, tapi -anehnya- masih mencintai dan berusaha membuat saya bahagia.

Cuma hadiah doang, saya suka gak inget. Mereka susah payah kasih segala kebutuhan, cari nafkah walau capek, tapi menghadiahi mereka saja saya gak ingat.

Mereka memang gak minta hadiah sih, tapi bukan berarti juga mereka gak mau. Sekali-kali mungkin ada baiknya sebagai anak walaupun masih dapet uang jajan dari orangtua untuk mengembalikan uang itu dalam bentuk lain. Nabung buat orang yang memang dicinta. Memang gak cukup untuk membalas kebaikan mereka, tapi saya ingin membuat mereka senang, walaupun hanya sebuah letupan kecil dalam hati.

Apalagi Ibu. Sebagai seorang perempuan saya gak bisa menapik bahwa saya suka hadiah, dalam bentuk apapun. Perempuan pasti ngerasain hal ini. Dan laki-laki juga tau kalo perempuan suka banget sama hadiah. Makanya laki-laki seringkali ngasih gebetan/pacar nya sesuatu (hadiah) buat dapetin hatinya. Nah, tapi suka lupa kan, Ibu juga perempuan. Dan beliau juga suka hadiah.  Coba bayangin kalau kita punya anak (eh kejauhan), hm.. keponakan/adek deh yang sering maen sama kita. Dia tiba-tiba kasih kita hadiah, memang gak seberapa sih, kita gaminta juga, gausah beliin juga, tapi kita gak bisa menepis rasa senang itu. Rasa senang akan ia yang menunjukkan adanya kepedulian terhadap kita. Bayangkan, Apalagi kalau itu anak sendiri, apa gak bakal senang?

Saya masih suka malu buat bilang kalo saya sayang sama orangtua. Kadang saya berani, kadang ciut.

Hadiah berupa verbal gak bisa selalu saya berikan karena kalah melawan gengsi. Jika saya memberi sebuah hadiah berupa non-verbal, saya yakin mamah-bapak pasti tau bahwa hadiah yang gak seberapa itu merupakan bentuk kepedulian dan sayang yang gak bisa diucapkan secara langsung.

Saya ingin terus memberi mereka hadiah. Dalam hal apapun. Kabar, Do’a, maupun materil.
Semoga saya selalu bisa. Dan semoga Allah memudahkan saya untuk membahagiakan mereka.

Aamiin Yarabal Alamin.

 - was written on Tumbr

Tempat Berlindung


Beberapa waktu yang lalu, aku menonton liputan mengenai Sesar lembang.

"Bahaya nih", pikirku waktu itu.

Kemudian, sempat terpikir untuk mencari tempat kerja di luar Bandung. Rencananya, setelah lulus, (awalnya) aku ingin menetap di kota ini. Tapi setelah menonton liputan tsb. Ada keraguan, meski Bandung merupakan kota yang begitu nyaman. Apa artinya nyaman kan kalau hidup ada dalam bahaya?

Hmmm... Apa aku tinggal di Jakarta aja ya? atau di Jogja aja?

"Semuanya sama aja, Shin.. Dimana-mana itu bahaya.", Ujar temanku, lembut, mengingatkan.

Aku terdiam, lantas mengangguk tersadar.

YaAllah..

Aku merasa.. aku sama seperti orang yang takut untuk pergi menggunakan pesawat karena ada pemberitaan mengenai kecelakaan pesawat.

Yang karena ketakutannya akan berita kecelakaan pesawat tersebut, akhirnya memilih jalur darat untuk bepergian. Karena ber-'asumsi' akan lebih aman jika menggunakan jalur darat dibanding jalur udara.

Padahal... sama saja.
Berapa banyak kecelakaan darat yang menewaskan?




Pun, kalau aku tidak pergi kemana-mana dan hanya berdiam diri di rumah.

Sama saja. Bahaya itu bisa saja datang.

Nyatanya, rumah juga bukanlah tempat yang bisa disebut aman secara 'absolut'.

Meski rumah selalu diidentikan dengan tempat yang 'aman'.

Tidak ada yang menjamin keamanan 100 %.

Berapa banyak orang yang mati terkena reruntuhan atap rumahnya ketika terjadi gempa bumi? 

Berapa banyak orang yang mati di atas kasurnya?


Jadi, dimana pun aku. Bahaya bisa selalu mengintai.

Tidak ada tempat yang benar-benar aman.

Tidak ada tempat yang bisa betul-betul disebut sebagai tempat berlindung.

Karena dimana-mana ada bahaya.

Dan apapun dapat terjadi.

Kita selama ini dapat hidup dengan aman.

Bukan karena tempatnya yang membuat kita aman.

Dimanapun tempat yang melindungi hanya perantara.

Dari Tuhan yang Maha Pengasih.

Arti Kehadiran

Hari itu, sahabatku menangis tersedu di depan banyak orang. Aku diam seribu bahasa. Ya. Aku tahu apa-apa yang telah ia lalui. Dan aku tau betapa sulit untuknya melewati itu semua.

"Makasih, udah ada di kehidupan aku. Walaupun kalian gak tau apa-apa. Walaupun aku cuma cerita ke Shintia. Tapi justru dengan ke-enggak-tahuan kalian itu yang membantu aku." Ucapnya tersedu.

Mungkin, bagi sebagian orang ucapannya itu membingungkan. Tidak merasa telah membantu apapun, bahkan masalahnya pun tidak tahu, tapi merasa telah terbantu?

Namun, tidak bagiku.
Kalimat tersebut, merupakan kalimat yang manis. Begitu manis. Bagaimana dia terpikirkan untuk menghargai seseorang yang bisa dibilang tidak-peduli (karena tidak tahu apa yang dilewati) padanya?


Bagiku.. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Yang sudah mengenal aku dengan baik, pasti sering melihat sikap tidak percaya diriku saat menghadapi sesuatu. Aku terkadang melihat diri, tidak berarti di kehidupan orang lain. Melihat diri, tidak memiliki manfaat barang sedikitpun bagi orang lain. Melihat diri, tidak pantas berada disekitar orang lain.


"Justru karena kehadiran kalian yang gak tau apa-apa. Aku jadi teralihkan buat mikirin masalah aku. Kalo gak ada kalian aku gatau bakal gimana. Mungkin aku bakal sedih terus." Lanjutnya, masih tersedu.

Suasana hening. Beberapa orang ikut meneteskan air mata. Aku menarik nafas yang panjang, dan menghembuskannya dalam sekali hembusan. Sahabatku, orang yang paling tsundere yang pernah kutemui ini.. ternyata bisa mengungkapkan perasaannya dengan sedemikian apik.

Dan aku sangat berterimakasih, ucapannya telah membangunkanku dari tidur. 
Kehadiranku yang menurutku tidak penting bagi orang lain. Kehadiranku yang menurutku adalah beban untuk orang lain. Belum tentu seperti itu.


Bahkan dengan tidak melakukan apapun. Dengan ketidaktahuanku. Hanya dengan aku 'hadir' di kehidupan seseorang. Bisa menjadi kebaikan baginya. Bisa memberikan manfaat tanpa diketahui.

Dan bagi yang merasa sendirian.
Bagi yang merasa tidak berharga.
Bagi yang merasa eksistensi hidupnya tidak penting.

Ternyata tidak begitu, mungkin kehadiranmu berarti bagi seseorang. Tanpa ia ucapkan. Tanpa kamu ketahui.

#RamadhanJourney: Ketemu Teteh di Salman

Alhamdulillah, InsyaAllah sebentar lagi kita akan bertemu bulan Ramadhan 1440 H. Tapi tulisan tentang bulan ramadhan 1439 H kemarin belum ditulis semua hehehe. Bulan Ramadhan nya selesai kapan, masih belum selesai aja nulis ramadhan journey nya, yaAllah, Shintia.. :’) 

Yah, Sebenernya mau nulis tentang ramadhan journey gak jadi-jadi karena ada kendala nya.. *ngeles
Jadi, buku catatan pembelajaran bulan ramadhan tahun kemarin itu lupa disimpen dimana, setelah nyari kesana-kemari sampai sekarang belum ketemu juga :’) . Jadi gak begitu inget secara detail apa-apa yang mau ditulis. Tapi, tulisan yang sekarang insyaAllah menjadi salah-satu pembelajaran yang paling berkesan di Bulan Ramadhan tahun lalu, Alhamdulillah lebih diingat dibanding yang lainnya.


-

-


Hari itu, hari ke sekian Ramadhan. Sekitar pukul 9 pagi, aku memesan ojek online untuk pergi ke Masjid Salman ITB. Rencana nya hari itu aku akan mendaftar untuk ikut salah satu program Ramadhan yang telah disediakan. Namun, sesampainya disana, mungkin karena terlalu pagi. Booth pendaftaran belum dibuka.

Lantas saja aku melangkahkan kaki ke lantai 2 Masjid Salman. Di sana aku melihat beberapa akhwat yang sedang mengobrol, ada yang tertidur, pun ada yang sedang tilawah. Aku duduk di barisan paling belakang, bersandar ke dinding, menunggu booth pendaftaran dibuka. Memperkirakan mungkin selepas dzuhur booth pendaftarannya akan dibuka.

Aku mengedarkan pandangan sejenak, mengamati pemandangan yang jarang kulihat. Jarang sekali aku datang ke masjid ini, karena jarak yang cukup lumayan dari tempat tinggalku. Teringat, ITB pernah menjadi salah satu perguruan tinggi impian, namun pada akhirnya aku sama-sekali nggak memasukannya ke dalam pilihan perguruan tinggi saat seleksi masuk PTN.

Asyik mengamati, tiba-tiba saja dada ku terasa sesak, ingin menangis rasanya. Seperti yang aku sudah ceritakan di beberapa tulisan sebelumnya. Tahun lalu merupakan salah satu tahun yang –bisa di bilang- berat dalam hidupku. Rasa sedih sering datang menyeruak. Ku tengok kanan dan kiri, bagaimanapun, aku malu menangis di depan banyak orang. Tapi rasa sesak kian menggeliat, meminta untuk dikeluarkan.

Ada satu ucapan yang sangat ku ingat tentang kesedihan setelah menonton salah satu video milik Teh Ghaida dan Teh Ica (anak dari Aa Gym), bisa di tonton di sini.

“Kalau lagi sedih jangan langsung curhat kemana-mana atau ke manusia. Karena khawatirnya kita lebih  banyak curhat ke manusia daripada ke Allah. Cepet aja langsung ngaji, gak apa-apa sambil nangis juga bentuk curhat. InsyaAllah, air mata nya nanti bersaksi. Semoga ini bukan air mata sia-sia.”

Secepat mungkin aku membuka tas dan mengambil Al-Qur’an sebelum air mata ku tumpah. Bukan hanya dengan harapan air mata ku gak terbuang sia-sia. Namun, juga aku ingin mendistraksi pikiran negatif dengan Al-Qur’an. Yaa..syukur-syukur aku gak jadi nangis. hehehe

“Laa Tahzan Inallaha Ma’ana”, merupakan sebuah kalimat yang ku temukan ketika mulai membaca Al-Qur’an, pas sekali ketika rasa sedih hadir. Seakan Allah yang mengatakan, “Sin, jangan sedih terus. Allah ada sama kamu kok!”  iya Sin, ada Allah, ada Allah. Dan terus melanjutkan bacaan sehingga dada terasa menjadi lebih lapang. Alhamdulillah..

“Teh Maaf” ucap sebuah suara, seorang akhwat yang tadi sedang tertidur tidak jauh dari tempatku duduk datang menyapa.

“Iya teh, kenapa?”

“Bawa Charger enggak, teh? Boleh pinjem? Hp saya low”

“Gak bawa teh, tapi saya bawa powerbank. Ini..” Jawabku sembari mengulurkan benda kotak berwarna putih itu dari dalam tas.

Hening. Terbaca ada guratan tanda tanya pada raut mukanya.

‘Eh kenapa? Masa gatau powerbank?’ aku bertanya-tanya dalam hati.

Ia lantas mengambil powerbank tersebut, lantas bertanya. “Ini cara pakenya gimana teh?”

“Oh.. Sama aja kaya charger teh kayak gini (aku mencontohkan cara pemakaiannya), Cuma bedanya 
bisa dibawa kemana-mana aja”

“Harganya berapa ya teh?”

“Macem-macem teh, kalau beli kayaknya kisaran 100ribu ke atas”

“Oh gitu. Saya pinjem dulu ya teh.”

“Oh iya..”

Hening lagi. Beberapa menit tidak ada yang memulai pembicaraan. Aku ingin memulai pembicaraan. Tapi takut salah. Aku mendapati perasaan bahwa teteh ini nggak seperti orang pada umumnya. Dari cara nya berbicara, entah mengapa, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa selama ini beliau menjalani kehidupan yang rumit dan beliau selama ini kesepian. Beliau duduk-diam disampingku, sembari melihat hp-nya yang sedang dicharge.

Karena tidak enak terus-menerus dalam keheningan. Lantas, aku kembali membuka Al-Qur’an. Ingin mengisi kekosongan jiwa sebelum diisi kembali oleh kesedihan.

“Sebenernya... saya lagi sakit teh” Ungkap teteh itu tiba-tiba saat aku baru saja membuka Al-Qur’an.

“Iya teh?” Jawabku kaget.

“Oh, maaf.. sakit apa teh?”

“Ini” ucapnya sembari menunjuk kepala.

“Saya suka pusing.” Lanjutnya.

“Emm.... teteh udah minum obat sebelumnya teh? Teteh lagi puasa?”

Beliau mengangguk pelan. “Obatnya mahal. Saya sakit ini udah lama, syaraf saya yang kena.”

Aku terdiam. Bingung menjawab apa.


“Tapi teh, alhamdulillah setelah saya ketemu islam. Semuanya jadi lancar.”

“Gimana teh?”

“Dulu saya pernah karena sakit bagian syaraf, saya sampai lumpuh di bagian x (beliau menyebutkan 
bagian tubuhnya yang lumpuh, tapi aku lupa apa, detailnya ada di catatan yang hilang T_T)”.

“Sekarang alhamdulillah enggak. Padahal obat pas-pasan karena mahal.”

“Saya pisah sama suami sama anak” lanjutnya.

Aku terkejut. “Teteh..mahasiswa ITB?”

Ia jawab dengan menggelengkan kepala.

“Alumni ITB?”

Kembali beliau menggelengkan kepala.

Hening. Menyisakan aku yang kebingungan.

“Saya bukan dari sini teh. Umur saya 43 tahun (kalau gak salah ingat)”

“Oh???” Serius. Aku kaget bukan main. Aku mengira ia hanya berumur 3-5 tahun diatasku.

“Saya juga bukan orang Bandung. Saya dari Tasik. Pertama kali ke Bandung ikut konser-konser artis”
Aku terdiam, mode pendengar sedang diaktifkan.

“kalau di konser-konser artis gitu kan banyak minuman keras ya teh. Saya juga bajunya dulu pendek-pendek. Saya hilang arah teh, gak ngerti hidup.”

“Alhamdulillah nya, saya ketemu Pak/bu x (lupa namanya T_T), beliau baik banget. Sekarang beliau dosen di ITB. Sekarang saya tinggal di asrama Salman. Saya dikasih bacaan Islam, awalnya saya gak ngerti. Makin kesini makin belajar."

"Hidup jadi enteng, walaupun kondisi saya kayak gini. Gak punya siapa-siapa”
Aku termenung sebentar. Beliau cobaannya sulit banget ya. Aku gak seberapa, tapi nangis terus.

“Teteh gak pulang ke Tasik teh?” tanyaku.

Beliau menggelengkan kepala. “Udah dua tahun enggak.”

“Rencana nya saya mau ke DT (Daarut Tauhid) teh. Sebentar lagi kan 10 hari terakhir ramadhan, ada program i’tikaf. Pengen daftar jadi Keamanannya teh. Tahun kemarin saya juga jadi keamanan. Oh ya kalau teteh darimana?”

Aku tertunduk. Malu-yaAllah, malu! Beliau yang fisiknya sakit, dengan berbagai permasalahan yang ada di belakangnya. Semangat sekali. Jadi Keamanan? Dalam kondisi sakit? MasyaAllah... Aku? Aku sudah lama bersedih hanya karena satu –let’s say- takdir yang nggak sesuai dengan keinginan. Tapi masalahku ini sedikit sekali, dibandingkan dengan beliau. Jauh..

‘Bagaimana rasa nya kalau aku ada di posisi beliau?’

‘Kehilangan suami, anak, keluarga. Ditimpa penyakit’

“Saya juga suka ada di DT teh. Mau bareng nanti kesananya? Jam berapa?”

Belum sempat beliau menjawab. Suara adzan Dzuhur berkumandang.

“Teh, Makasih ya.” Beliau mengembalikan Powerbanku lantas pergi. Aku hanya melihatnya menjauh. Beliau keliatan terburu-buru sekali.

Setelah solat Dzuhur. Aku tersadar, bahwa nggak ada yang namanya kebetulan. Aku bahkan nggak tahu siapa nama Teteh itu. Begitu juga beliau. Nama saja gak saling tahu, tapi dengan begitu mudahnya, beliau bercerita padaku—pada orang asing. Lantas tiba-tiba saja aku teringat “Laa Tahzan, Inallaha Ma’ana”. Mungkin Allah kasihan melihat aku yang terus-menerus menangis, sehingga Allah berikan kepadaku kisah berat orang lain. Dan menyadarkanku, bahwa masih sangat banyak nikmat yang Allah beri.