Pendiam Tapi Masuk Ilmu Komunikasi UPI


Waktu bergulir begitu cepat, tahun ini aku sudah memasuki tingkat 3 perkuliahan. Masih teringat, hari dimana aku menangis tidak lama setelah membuka pengumuman SNMPTN. Tulisan Selamat berwarna biru yang ditunggu-tunggu oleh mayoritas murid kelas 12 SMA terpampang di depan mata. Hari itu, perasaanku membuncah. Bersyukur tapi menangis bukan karena rasa syukur itu sendiri, melainkan karena begitu takut menghadapi kenyataan bahwa aku lulus di jurusan Ilmu Komunikasi UPI. Jurusan pilihan ke dua yang dipilih dengan ragu. Aku (dulu, sangaaaat!) pendiam, bagaimana bisa aku masuk jurusan yang harus memakai kemampuan berbicara sebagai yang utama?

cr: edunews.id

 
Dari tiga pilihan jurusan di SNMPTN, aku memasukkan: 1) Sastra Inggris UPI 2) Ilmu Komunikasi UPI dan 3) Bahasa Inggris UIN. Beberapa kali aku mengganti pilihan jurusan, pilihan ke-1 dengan FSRD ITB dan Arsitektur Lansekap IPB (Aku suka menggambar sedari kecil, tapi selalu ditentang oleh orangtua dan oleh karena itu aku hiatus bertahun-tahun, masuk SMA aku baru menggelutinya lagi). Tapi entah kenapa hatiku selalu terbolak-balik. Dan sampai pada akhirnya, orangtua angkat bicara kalau mereka berdua lebih ridho, aku berkuliah di Bandung dengan jurusan Bahasa Inggris. Orangtua yakin aku bisa lebih survive di jurusan ini karena sedari SD aku memang sering mengikuti lomba storytelling dan bahasa Inggris, karena dasar itu akhirnya pilihan ke-1 jatuh pada Sastra Inggris UPI.

Lalu bagaimana dengan pilihan ke-2, Ilmu Komunikasi UPI? Awalnya, berasal dari kemiripan antara aku dan saudara sepupu yang sama-sama begitu menyukai buku. Sepupuku ini diasuh oleh mamaku saat kecil, mungkin itulah kenapa kami berdua mirip dalam hal ini.  Lah terus apa hubungannya? Saudara sepupuku ini bisa dibilang sukses, hehehe. Seringkali ia pergi-pergian ke beberapa negara---gratis! Ia juga lulusan Ilmu Komunikasi, yah meski bukan dari UPI sih. Ilmu Komunikasi UPI sendiri baru berdiri lima tahun saat aku masuk, sedangkan umur ku dan sepupu ku terbentang jarak 12 tahun. Jadi UPI belum punya jurusan Komunikasi saat itu. Nah, menurutnya, salah satu skill yang dibutuhkan dalam jurusan ini adalah membaca dan ia sangat mendukungku masuk ke Ilmu Komunikasi UPI. Tapi ada satu hal yang terlupakan, dia humble sedangkan aku pendiam. :’)

Selain itu, aku menaruh Ilmu Komunikasi UPI di pilihan karena aku senang berbicara di depan umum, aku senang bisa berbagi apa yang ku ketahui dengan banyak orang, Mungkin karena dari SD aku sudah terbiasa untuk tampil storytelling. Tapi berbeda untuk masalah berbicara dengan orang lain secara tatap muka, atau kelompok aku seringkali diam membisu, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Bahkan aku lebih memilih untuk tersesat di jalan saat berkendara daripada harus menanyakan kepada orang lain. Payah kan~



Beberapa pengumuman seleksi perguruan tinggi negeri lantas keluar. Alhamdulillah, aku lulus di Ilmu Komunikasi UPI dan Ilmu Komunikasi IPB (D3). Jurusan yang sama dan hanya universitas yang berbeda. Akhirnya orangtua lantas mendorongku untuk mengambil Ilmu Komunikasi UPI.

Hari-hari di Ilmu Komunikasi UPI, hmm, awal-awal aku begitu kerepotan. Semua orang dengan lancarnya berbicara sedangkan aku? Tersendat-sendat. Aku sempat menangis beberapa kali karena merasa berada bukan di lingkungan yang seharusnya. Memang berat, wahai introvert, I know how hard it is. Bahkan ada ketakutan terkucilkan karena aku begitu pendiam. Setiap hari, -mungkin karena khawatir- orangtua menelponku, menanyakan: “Teh, gimana udah banyak ngomong hari ini?”.  :’)

Sebagai seorang introvert, INFJ-T, dengan high social anxiety. Banyak kata-kata yang ingin ku keluarkan dalam sebuah percakapan tapi hanya berputar-putar di kepala. Entah kenapa, tapi aku begitu takut berbicara. Beberapa teman SMA ku bahkan mengolok-ngolok: pendiem kok jurusannya.....

Hey.
Tapi itu dulu.
Sekarang? Jauuuuh lebih baik, Alhamdulillaaah! :'')

Teman-teman SMA yang mengolok-olok malah sekarang  seringkali mengungkapkan bahwa aku yang dulu bukanlah yang sekarang~ (jeng-jeng!)
Teman-teman kuliah juga lho (bukan hanya yang satu jurusan di Ilmu Komunikasi UPI, tapi juga jurusan lain)  ^^

Meski, kalau disamakan dengan banyak anak komunikasi atau orang yang extrovert, aku tetap tidak terlalu banyak omong, setidaknya julukanku yang asalnya pendiam berubah menjadi… kalem. :p (eaa~)

Penerimaan mahasiswa baru Ilmu Komunikasi UPI

Untuk teman-teman yang juga pendiam, introvert, atau punya high social anxiety tapi merasa punya kecocokan dengan jurusan ilmu komunikasi, dengan sepenuh jiwa dan raga (lebay dah) kutulis ini: 

Jangan kalah dengan ketakutan dan kekhawatiranmu! Selama kamu mau berubah dengan berusaha. Kamu bakal berubah kok. Meski sulit dan tidak instant, tapi justru karena itu aku menjadi orang yang lebih menghargai setiap proses yang kulalui--yang mana tidak semua orang bisa melakukannya. Pendiam bukan berarti tidak bisa sukses. Bahkan kakak tingkatku yang juga dulunya (sebelum masuk Ilmu Komunikasi UPI) sangat pendiam berhasil menjadi lulusan terbaik. (Selanjutnya aku, hehe, aamiin).

Aku dapat cerita, banyak yang mengurungkan niatnya untuk masuk ke jurusan Ilmu Komunikasi karena pendiam dan introvert. Percaya deh, meski tidak seperti mereka. Kamu bisa bertahan kok. Di jurusan ini, kita bersama belajar dari nol cara berkomunikasi yang baik baik secara tatap muka maupun media. 

Dan yang paling penting yang harus diingat; itu hanya kekhawatiran belaka. Yang pintar berbicara tatap muka belum tentu mahir berbicara di publik. Yang mahir berbicara di publik belum tentu punya skill menulis. Yang mahir menulis belum tentu mahir berbicara di depan kamera. Yang mahir berbicara didepan kamera belum tentu bisa mendengarkan. Semua punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Dan kita sama-sama belajar. Masuk ke ilmu komunikasi UPI sempat membuatku menangis karena harus keluar dari zona nyaman, tapi sekarang? Aku begitu bersyukur menjadi bagian dari Ilmu Komunikasi bahkan bangga. Bukan berarti sekarang aku menjadi cerewet, aku masih pendiam dan introvert. Aku bisa dibilang masih berproses, tapi sejauh ini, aku jadi lebih bisa menempatkan diri. Introvert bukan berarti anti-sosial kok! Aku sudah membuktikannya. :) *kok malah jadi kayak iklan.

Semangaaat!
Di tunggu menjadi bagian komunikasi ya!













-

Oh ya, mungkin beberapa orang masih sering bertanya-tanya. Ilmu komunikasi UPI? Memangnya ada? Ada! UPI sekarang punya jurusan yang bukan hanya untuk pendidikan namun juga non-pendidikan. Ilmu Komunikasi UPI ini juga walaupun masih tergolong jurusan yang muda, selalu menjadi jurusan favorit lho tiap tahunnya teman-teman, baik di SNMPTN, SBMPTN, maupun SM. Terdiri dari tiga konsentrasi: Jurnalistik, Public Relation (PR) dan Broadcasting. 

Media Literasi: Adikku Terpapar Pornografi

“A A A A Aisyah Jatuh Cinta pa papa pada Jamilah”


Siapa yang tidak pernah mendengar lirik lagu diatas? Salah satu lagu yang viral di Indonesia menjelang Bulan Ramadhan beberapa waktu lalu. 

Dipadu dengan goyang dua jari oleh para pengguna aplikasi Tik-Tok, lagu yang berjudul Aisyah Jatuh Cinta pada Jamilah ini langsung menjadi konsumsi publik---Entah yang sekedar kepo, sampai yang ingin mengikuti trend video goyang dua jari. Karena adanya lagu dan goyang dua jari ini, aplikasi Tik-tok menjadi makin digemari dan menjadi salah satu aplikasi yang banyak dipakai oleh generasi muda Indonesia.

Cr: Asumsi.co

Kebetulan saat Tik-Tok Viral, aku sedang menjalani akhir dari semester empat. Di semester ini, aku mengontrak mata kuliah media literasi. Sebuah mata kuliah, yang hanya ada di jurusan Ilmu Komunikasi di beberapa Universitas di Indonesia (sombong, eh bangga x’p).


Dalam Final project mata kuliah media literasi ini, kami diminta turun ke masyarakat untuk mengadakan sebuah event media literasi yang sasarannya disesuaikan dengan keputusan masing-masing kelompok. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat yang masih asing dengan media literasi. Karena berbeda dengan negara Eropa dan Amerika yang sudah memiliki perhatian besar untuk mengantisipasi media baru dengan memasukan pendidikan media literasi ke dalam kurikulum sekolah sejak tahun 1970-an. Indonesia, hingga kini media baru hadir masih belum menerapkan pendidikan media literasi dalam kurikulum sekolah.


Sekolah-sekolah di Indonesia sekarang sedang berusaha menerapkan gerakan literasi karena minimnya budaya baca. Namun belum sampai pada media literasi. Maka dari itu, dengan bermodalkan sedikit ilmu tentang media literasi, kami turun dengan harapan dapat membawa perubahan di masyarakat.


Kelompokku sepakat untuk menyasar murid-murid kelas 4, 5 dan 6 di salah satu Sekolah Dasar di Bandung. Kami menyasar murid Sekolah Dasar, karena menyadari dewasa ini banyak orangtua yang memberikan Handphone kepada anaknya begitu saja, yang seringkali penggunaannya sulit bahkan tidak dikontrol. Selain itu maraknya video Tik-Tok yang beredar di Sosial Media dengan goyangan tidak patut, banyak menampilkan anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

cr: istock

Sebelum mengadakan Event, kami melakukan observasi dengan quisioner media literasi yang dibuat semenarik mungkin dan mengobrol singkat dengan guru yang mengajar di sana. Banyak fakta-fakta yang kami temukan. Selain memang banyak pegguna Tik-Tok di SD tersebut.
 Ternyata terpaparnya adik-adik ini lebih dari apa yang kami perkirakan.


Banyak anak yang sudah terpapar pornografi. Berdasarkan keterangan guru -yang sangat menyetujui kami melakukan event media literasi seperti ini-, beberapa anak diketahui sudah menonton video porno dan beliau sangat khawatir atasnya.


Ia menerangkan, ada murid yang sudah terbiasa menonton video porno sejak kecil, karena sudah diberi kebebasan oleh orangtuanya menggunakan handphone agar ia tidak rewel. Efeknya, kini ia akan meraung-raung bila tidak diberi tontonan video porno.


Ada pula anak yang menemukan film porno di handphone orangtuanya (kebetulan orangtua PSK). Guru itu sendiri pernah mendapati murid yang (maaf) menggesek-gesekkan kemaluannya ke meja di jam sekolah.  


Selain itu, beliau mendapat laporan (Wallahualam) dari tetangga salah satu murid di sekolah itu. Ketika pelapor ini bertamu, ia mendapati murid tersebut (maaf) sedang menciumi kaki ibu nya yang sedang tidur menggunakan daster. Ketika sang pelapor mencoba memberitahukan sang ibu mengenai hal ini, Ibu tersebut malah marah-marah dan tidak percaya.


Mendengar ini, aku hanya bisa geleng-geleng. Antara percaya dan tidak percaya. Adik-adikku terpapar pornografi karena keteledoran orangtua. Lahir sebagai salah satu dari generasi Z yang tidak asing dengan kecanggihan teknologi, sudah sepatutnya aku bersyukur. Perubahan sosial yang terjadi akibat adanya smartphone yang marak di generasi ini, banyak membuat banyak hal menjadi begitu mudah, bukan hanya akses informasi dan komunikasi, tapi juga berbagai kegiatan sehari-hari: transportasi, perbelanjaan, dsb. Namun, teknologi tanpa ilmu, media literasi sendiri seolah menjadi pisau bermata dua, kecanggihan justru merusak para penerus bangsa.


Di hari kami mengadakan event, aku menyusuri satu-per-satu wajah mungil mereka. Ingin rasanya kembali menjadi mereka, terlihat bebas tanpa beban. Tapi mengingat apa yang dikatakan oleh guru mereka membuatku merasa tidak rela. Mesti nya mereka masih jernih. Bukan dewasa sebelum waktunya.




Dalam pelaksanaannya, alhamdulillah, aku tidak mendapati banyak kendala. Sesi mentoring berjalan menyenangkan dengan siswa-siswi yang antusias. Bernyanyi bersama dengan yel-yel media literasi. Aku berharap mereka mengerti dan menerapkan sepenuhnya hal-hal mengenai media literasi yang sudah diajarkan.

Event selesai, kami beristirahat sejenak, rasa haus tidak tertahankan, kami harus teriak-teriak  walaupun sedang berpuasa karena kelas yang gaduh (namanya juga anak SD, buk). Dua orang temanku (perempuan) tiba-tiba datang menghampiriku, ketakutan, bercerita bahwa mereka berdua dipeluk oleh seorang anak laki-laki. Mereka merasa ia meraba bagian tubuh mereka. Sontak aku terkejut. Berani sekali. Sudah masuk ranah pelecehan seksual. YaAllah, sudah sebobrok ini kah?


Selama ini, media literasi banyak dinilai tidak penting. Karena kecanggihan media dapat dipelajari secara otodidak. Mengenyampingkan konten media yang dibuat untuk mempengaruhi dan memiliki tujuan tertentu. Media hadir datang sebelum masyarakat memiliki ilmu media literasi.


Media literasi bukan hanya keahlian sekedar tentang mengakses media. Karena tanpa buku panduan pun masyarakat dapat mengakses hanya dengan coba-coba. Media literasi berarti mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan memproduksi konten media. Sebagai orangtua hendaknya sebelum memberikan handphone, ia ikut andil dalam mengakses, menganalisis, mengevaluasi aplikasi dan apa-apa yang bisa diakses oleh anaknya. Karena jika orangtua sebagai stakeholder dalam kehidupan anak saja tidak mementingkan media literasi. Bagaimana ia dapat mengerti (membimbing) betapa (dan bagaimana) media dapat mempengaruhi psikologi anaknya?


cr: Aswida's article

Membumikan dan belajar media literasi menjadi PR penting bagi para penggiat media sosial,  (calon) orangtua, dan (calon) guru. Alih-alih mengolok-olok generasi ini dengan sebutan generasi micin. Aware media literasi merupakan langkah besar yang sangat penting untuk berkontribusi dalam pendidikan generasi penerus bangsa. Karena media baru seperti handphone bersifat bebas, tidak lagi dapat direm, kecuali dengan kesadaran diri.

Menikmati yang Biasa atau Mengacuhkan yang Biasa

Dalam seminggu, setiap harinya, aktivitas saya tidak lebih dari sebuah pengulangan. Sebagai mahasiswi, kalau bukan belajar, ya urusan organisasi. Meski hari demi hari dijalani berbeda, tapi entah kenapa tanpa disengaja semua tergeneralisir menjadi ‘biasa’. Mengulang dari hari sebelumnya atau dari minggu sebelumnya. Karena biasa, sebuah kesempatan bisa membuka mata di keesokan hari, rasanya seringkali terlupakan kenikmatannya.

Saya membayangkan, jika hari ini hidup saya normal--sehat wal-afiat. Namun keesokan harinya, kedua mata saya menjadi buta atau kedua kaki saya tidak lagi bisa digunakan (lumpuh). Saya pasti akan bersedih, bertanya-tanya mengapa, dan ingin kembali menjadi sehat. Lantas, sebuah pertanyaan muncul dalam benak. Apa sesuatu yang biasa ada harus terdistraksi terlebih dahulu, agar saya lebih banyak paham dan bersyukur?

Selain itu, rasanya, Yang dilakukan pertama kali, selalu mendapatkan apresiasi lebih, berbeda dengan pengulangan. Untuk pertama kali nya saya menginjakkan kaki di kampus sebagai mahasiswi, saya lebih aware terhadap tugas-tugas yang diberikan pun apa yang disampaikan oleh dosen. Namun semakin biasa saya pergi ke kampus, saya justru terjangkit penyakit malas bin mager. Dosen yang kehadirannya ditunggu-tunggu saat menjadi mahasiswa baru, menjadi ditunggu-tunggu ketidakhadirannya. Sedang, di sisi lain, banyak teman-teman yang terkendala oleh biaya sedang ingin masuk kuliah seperti ‘biasa’. Kembali muncul pertanyaan. Apa kebiasaan saya yang mendapatkan kenikmatan dan kemudahan dalam berkuliah ini harus terdistraksi terlebih dahulu (tersendat-sendat, kesulitan ini-itu) agar saya lebih menjalani keseharian dengan penuh syukur dan apresiasi?

Apa.. saya manusia itu--yang sangat kurang bersyukur?

Lantas, sampai kapan menjadi seperti ini terus?

Menengok ke Belakang


“Tengoklah ke belakang, Apa-apa yang membuatmu meminta dan tangisi sehingga kamu sampai di titik ini”


Kalimat di atas muncul dalam sebuah foto di timeline instagram saya, kemarin sore. Seperti sebuah kebetulan. Beberapa waktu ke belakang ini saya menyadari bahwa banyak hal yang berubah dalam hidup. Saking banyaknya, rasanya seperti sebuah keajaiban. Well, walaupun memang semua di kehidupan ini ajaib. Tapi saya benar-benar baru menyadari nya.

Beberapa orang yang asalnya jauh tiba-tiba didekatkan. Orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal sama sekali tiba-tiba datang. Aktivitas yang sebelumnya saya tidak pernah terpikirkan akan dilakoni, menjadi aktivitas harian. Tempat yang begitu asing menjadi sangat akrab.

Semua hal berubah. Begitu cepat.

source: in pict

Beberapa teman dekat mengomentari cerita saya ini dengan: memang udah jalannya.

Saya sebelumnya tidak pernah menyadari ini, bahwa.. Masing-masing dari kita saling terhubung satu sama lain. Tanpa disadari. Dan itu adalah takdir.

Selama ini, pikiran saya ketika membicarakan takdir, tidak lebih dari “orang-orang yang menetap dalam jangka waktu yang lama”. Ternyata, tidak se-simpel itu.

Kenapa dari sekian banyak orang di muka bumi ini. Saya harus dipertemukan dengan A, B, C? Kenapa bukan yang lain?

Orang-orang yang berlalu-lalang. Orang yang saya temui di suatu tempat. Orang yang sekarang berada di sekitar saya. Orang-orang yang memenuhi perasaan saya. Orang-orang datang dan pergi.  Semua terkait.

Salah satu tutor Bahasa Inggris ketika saya belajar di Pare pernah berujar: Kalian bertemu dan berpisah disini adalah karena takdir. Yang disatukan oleh dorongan hati yaitu cita-cita.

Setiap dorongan hati itu awalnya dari mana?

Stimulus yang ditangkap untuk menguatkan dorongan hati itu siapa  yang memberi?

Ya. Allah.

Takdir, ketentuan Allah.

Bukan hanya dorongan hati mengenai cita-cita. Ketika saya berpapasan dengan seseorang dijalan. Rasanya itu pun bukan hanya sebuah kebetulan belaka. Siapa yang menggerakan hati saya dan dia untuk pergi ke tempat yang dituju? Meski pun, tempat yang dituju oleh kami berbeda, siapa yang bisa menyocokkan waktu kami agar dapat berpapasan?

Kalau begitu saja diatur oleh Allah. Apalagi orang-orang yang berada dikeseharian... Memangnya ada yang dapat mengatur itu semua kecuali Allah?

Pikiran lantas melayang ke hari-hari dimana saya begitu meminta. Meminta yang terbaik sembari sesenggukan. Bulan-bulan yang dilalui dengan berat. Melepaskan banyak hal dalam satu waktu.

Yet now, Everything’s gettin’ better. And I don’t know how to explain it. I’m just...grateful.

Waktu itu, rasanya, saya adalah orang yang sangat miskin. Bukan dari harta. Tapi aspek lain yang tidak bisa dibeli menggunakan uang. Banyak hal yang jauh sekali dari keinginan. Banyak hal yang mengusik kedamaian hati.

Tapi ternyata, konsep miskin itu tidak ada. Selama yakin dan meminta pada Dzat yang Maha Kaya.

Apa saya bisa membeli teman-teman yang baik untuk tetap berada di sekitar saya?

Apa saya bisa membeli suatu momen atau situasi yang datang pada hidup saya?

“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu menginfakkan (semua) kekayaan yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana” [8:63]

Banyak sekali hal menentramkan yang datang pada saya akhir-akhir ini. Bukan karena saya baik. Saya tau jelas, betapa saya sudah banyak mengecewakan Allah. Betapa bobroknya hidup yang saya pilh untuk jalani. Hanya saja, Allah tidak memperlihatkan aib saya yang begitu banyak itu ke manusia lain. Padahal, Allah bisa aja menyingkap itu semua. Bisa saja Allah meninggalkan saya. Allah bisa aja menelantarkan saya. Tapi karena Allah Maha Baik. Allah masih saja berikan kenikmatan...

Dari sini, saya memahami bahwa konsep miskin yang sesungguhnya adalah ketika kita tidak memiliki Allah. Karena sebagai manusia, pada akhirnya, yang bisa dilakukan hanyalah meminta yang terbaik. Meminta untuk dimudahkan dalam segala urusan. Karena jika bukan karena Allah, saya tidak akan sampai pada titik dimana saya berada sekarang ini.

Meski tidak instan. Justru rentetan proses denial, menyabarkan, menerima, dan mengikhlaskan menjadi terasa begitu indah, ketika pada akhirnya.. setelah luka kian mengering Allah berikan kejutan indah. Alhamdulillah.


“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak membencimu;
dan sungguh yang kemudian itu lebih baik daripada yang sekarang;
Dan sungguh, kelak TuhanMu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas” [93:3-5]

Tentang Kehilangan

Hidup ini seperti roda berputar.
Kadang di atas dan kadang di bawah.
Tapi.. siapa sih yang mau berada di bawah?
Siapa yang mau memiliki kehidupan yang sulit?
Siapa yang mau berhadapan dengan sesuatu yang menyesakkan hati?
Sulit memang.
Tapi sebagai manusia, mau tidak mau kita harus merasakannya.

Hal yang paling menyesakkan dalam hidup versi-ku adalah kehilangan. 

Entah kehilangan sahabat yang pergi dan sulit berjumpa karena kondisi yang mengharuskan.
Entah kehilangan orangtua yang selama ini selalu ada.
Entah kehilangan seseorang yang telah lama bersemayam di hati.
Entah kehilangan teman-teman yang selama ini selalu memberi support.
Entah kehilangan pekerjaan.
Entah kehilangan posisi yang selama ini dipertahankan.
Entah kehilangan benda yang selama ini mati-matian untuk mendapatkannya.

sumber: medium.com/@gamaisitb

-


Aku pertama kali merasakan kehilangan ketika menginjak bangku kelas 3 SD.
Hari itu aku tidak diperbolehkan untuk bermain dengan pamanku.
Usianya masih muda.
Biasanya sepulang sekolah aku datang ke rumahnya.
Untuk bercengkrama dengannya.
Mengasyikan.
Meski aku tahu ia sedang sakit dan telah berkali-kali menjalani operasi.
Aku yakin ia akan sembuh.
Hari itu mama menangis tersedu.
Kehilangan seorang adik untuk selama-lamanya.
Aku tidak begitu mengeti.
Yang ku tau aku tidak akan bisa lagi melihatnya.
Ia tidak dapat lagi bercengkrama denganku..


-

Menginjak bangku kelas 5 SD.
Ada sebuah rasa yang begitu kelabu.
Teman dekatku harus pindah sekolah ke Jakarta.
Begitu jauh untuk dijangkau.
Hari itu aku menangis.
Menangis sambil memeluknya.
Berharap kami tetap menjadi kami di hari itu.
Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.
Meski awalnya kami intens berkomunikasi.
Kini kami menjadi dua insan yang asing.


-

Di bangku kelas 6 SD.
Aku kehilangan guruku.
Sosok yang kutempatkan dalam hati seperti ayah.
Beliau harus pindah ke Bangka Belitung.
Tanpa adanya sebuah kata pamit.
Beliau pergiBegitu saja.

-

Tidak lama dari itu.
Aku kehilangan sobat baruku.
Sosok perempuan kuat.
Yang juga mengalami kehilangan di usia belia.
Kehilangan seorang ayah.

-

Semakin tumbuh besar.
Diri ini semakin banyak merasakan kehilangan.

Pernah aku bertanya pada diri.
"Mengapa aku harus merasakan kehilangan?"
"Mengapa harus datang jika akhirnya pergi?"

Pertanyaan itu kian menggantung bertahun-tahun.
Tidak ada jawaban yang ku dapat.
Namun duka yang datang dari sebuah perpisahan kian bertambah.

Kenapa aku yang selalu ditinggalkan?
Kenapa bukan aku saja yang pergi?

Duka mengajarkan arti keikhlasan.
Namun..
Sampai kapan aku harus terus melulu merelakan? 

Pertanyaan-pertanyaan kian berkecamuk.
Tidak satu pun orang yang memberitahuku jawabannya.
Sampai akhirnya aku menyadari.
Bahwa aku harus selalu merasakan kehilangan.
Aku harus selalu merasakan luka.

"Karena hidup adalah  proses melewati yang namanya kehilangan dan juga mendapatkan"- Dewi Sandra.

Sempat terpikir betapa menyedihkannya hidup ini.
Sendirian.
Tidak ada yang menetap selamanya.

Kemudian aku lebih memperhatikan diriku.
Detail-detail yang jarang kuperhatikan.

Seiring perginya sesuatu,
Ternyata Tuhan memberikan lagi sesuatu.
Yang lebih baik, meski bukan yang kita inginkan.
Yang lebih baik, namun apa yang kita butuhkan.
Porsinya pas.

Ketika aku kehilangan pijakan hidup.
Datang seseorang yang jauh dari pandangan
Seseorang yang bahkan tidak pernah terpikirkan.
Memegangku erat.
Menyadarkan untuk kembali kepada Rabb-ku.
Untuk kembali lagi berpijak.

Ketika aku kehilangan sosok dalam hidupku.
Datang sahabat-sahabat baru.
Keluarga baru.
Yang merangkulku.
Mengembalikan senyum yang sempat hilang.

Ketika aku kehilangan posisi.
Ketika orang tidak lagi memperlakukanku dengan sama.
Datang sebuah posisi baru.
Datang orang-orang yang memperlakukanku dengan lebih baik.

-

-

Aku seringkali hanya berfokus kepada sakit nya kehilangan.

Seringkali sibuk dengan keluhan.

Tapi tidak sadar atas nikmat-Nya yang tidak terbayarkan.

Datang terus-menerus

Pintu melegakan hati satu persatu dibuka.

Kenikmatan yang seharusnya lebih disadari.

-

-

Aku tidak bisa memberhentikan luka agar berhenti datang.
Kehilangan akan terus-menerus ada.
Selama aku masih hidup.

Ketika aku merenungi ini.
Akhirnya aku mendapatkan sesuatu yang selama ini kulupakan.

"Innalilahi wa Innailahi Rojiun"

Aku telah mempertanyakan mengenai kehilangan.
Nyatanya dari awal aku terlahir bumi ini,
Aku tidak memiliki apapun.
Aku bukanlah siapa-siapa.
Semua hal tentang ku. Tubuhku. Mataku. Hidungku. Bukan milikku.

Semua ini titipan.
Namun aku merasa kehilangan.
Merasa sesuatu adalah milik sendiri.
Padahal bukan.

Wa Innailahi rojiun - Dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali.

Begitu juga dengan hal-hal yang datang dalam hidup.
Apapun itu hanya mampir untuk memberi hikmah.
Untuk memberi pelajaran.
Untuk meningkatkan kualitas diri
Menyiapkan diri untuk bertemu sang Pemilik Diri.

Sesuatu datang karena dengan datangnya hal itu telah merubah keadaan diri.
Sesuatu pergi karena memang sebesar itu batas waktu yang Ia berikan pada diri.
Dan aku tidak bisa memaksa nya untuk tetap tinggal.
Aku tidak memiliki kuasa apapun.

Memang menyedihkan.
Murung.
Apalagi jika ditambah tiba-tiba ada masalah baru yang datang
Seakan tidak tahu diri bahwa jiwa ini sedang bersedih.

Rasanya seperti tidak adil.
Tapi nyatanya hidup ini begitu adil..

Kembali..


"Innalilahi wa Innailahi Rojiun"

Apapun itu hal yang menyedihkan, masalah tidak ada yang permanen.
Hanya kepada-Nyalah segala sesuatu akan kembali.
Kembalikan pada-Nya.


Di Bumi ini aku hanyalah seorang perantau.
Yang akan kembali ke singgasana akhir setelah kematian menjemput.

Mungkin hari ini aku "Ada".
Tapi mungkin tidak berapa lama dari sekarang,
Aku akan menjadi tiada.

Luka yang hadir karena kehilangan.
Akan mendewasakan.
Akan memberikan nikmat baru yang tidak pernah dikira.
Yang darimana asalnya aku tidak mengerti.


Justru aku seharusnya sedih.
Jika Tuhan tidak memberikanku luka.
Aku tidak akan belajar,
Aku tidak akan memperbaiki diriku.
Aku tidak akan bersiap untuk bertemu dengan-Nya,

Kini, jika melihat ke belakang.
Aku bersyukur.
Aku tidak akan menjadi seperti sekarang jika tidak melewati masa-masa itu.
Aku tidak akan menjadi seperti sekarang jika tidak bertemu mereka.
Segala yang datang, menempa diri untuk menjadi lebih matang. 

Terimakasih telah hadir dalam hidupku...

Terimakasih telah mengajarkan pelajaran-pelajaran yang tak ternilai..

Terimakasih Allah..
Telah mengujiku dengan berbagai perasaan.



“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘innalillahi wa innaailahi raaji’uun.‘”(QS. Al-Baqarah: 156)

Ketika Anda berhak mendapatkan sesuatu, namun Anda tidak mendapatkannya, Anda akan marah. Tetapi pada ayat “Innalillahi” Anda menyatakan bahwa “Saya tidak berhak akan apapun. Saya milik Allah. Allah yang berhak, saya tidak berhak apapun. Dan itu mempermudah semuanya. Apapun yang kamu dapatkan di kehidupan ini adalah “pemberian”. Bukan sesuatu yang memang harus kamu dapatkan. Jadi ketika sesuatu tidak kamu dapatkan, kamu tahu bahwa pada dasarnya itu memang bukan milik kamu. Bukan milik kamu.- Nouman Ali Khan

Ramadhan Journey: Bermunajat Bersama di Musyawarah Mahasiswa

Hari itu, merupakan hari pertama musyawarah mahasiswa (mumas) himpunan jurusan ku. Setelah beberapa waktu berkutat dengan Lembar Pertanggung Jawaban akhirnya hari itu tiba. 

Mumas sendiri dimulai sejak pukul sepuluh, tapi aku belum juga mendapatkan giliran untuk maju ke depan untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah kulalui sebagai sekretaris umum selama satu periode, padahal hari sudah petang. Sembari deg-degan menunggu giliran untuk maju, aku membuka buku kecil berwarna kuning dari tas.

"Itu apa Shin?" Tanya seorang yang duduk di sebelahku tiba-tiba.

"Oh.. Ini Al-Matsurat, doa-doa nya Rasulullah, Mey.."

Meyuni merupakan teman satu jurusanku. Kami memang tidak terlalu sering mengobrol karena kami berada di kelas yang berbeda (jadwal pun berbeda). Namun, ia pun aktif di himpunan dan menjabat di bidang penalaran dan keilmuan. Ia memang non-islam, beragama Budha. Jadi pantas saja dia tidak mengetahui buku ini.

"Ooh.." responnya.

"Aku juga mau ikutan ah!" Lanjutnya cepat membuatku terkejut.

Ia lantas merogoh sebuah buku dari tasnya, sama-sama berwarna kuning meski warnanya tidak secerah warna bukuku, namun ukurannya lebih besar dari buku yang ku pegang. Tertulis "Sadhana Maha Welas Asih Avalokitesvara Sebelas Muka Seribu Tangan" di bagian paling depan buku tersebut.



"Itu apa Mey?" Kini giliranku yang bertanya.

"Sama. Ini buku doa-doaku"

Tidak lama.. Lantas kami berdua tenggelam dalam buku masing-masing selama beberapa menit. Bermunajat-bersama. Di tempat yang sama, ruangan mumas. Bahkan bersebelahan. Pada Tuhan yang berbeda. 

Dalam hati, aku begitu bersyukur atas respon yang ia berikan padaku. Respon yang begitu tidak biasa kuterima. Ku kira ia akan lantas beralih fokus hanya untuk menanyakan apa isi buku ini. Alih-alih hal itu malah mendonggak semangat-nya untuk bermunajat juga.

Fastabiqul Khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tidak mesti melulu satu agama.. Sama-sama mengejar kebaikan meski mungkin akhirat yang kami percayai, berbeda.

Setelah kami berdua selesai dengan buku masing-masing. Akhirnya, kami sedikit berbincang perihal agama masing-masing.

"Mey, menurut kamu.. pernah gak kamu mikir orang islam itu beribadah berlebihan?"

Aku menanyakan ini, karena selama ini sering mendengar banyak opini bahwa orang yang berislam itu biasanya berlebihan dalam beribadah: Entah dari pakaian, atau dari amalan yang ia lakukan dalam keseharian."Biasa aja deh, yang kayak gitu biasanya malah jadi sesat, jadi sok alim, jadi teroris.", seakan dengan berislam justru mendekatkan kepada hal-hal negatif.

"Enggak" Jawabnya yakin.

"Justru aku lebih menghargai orang islam yang lebih mengaplikasikan keislamannya dalam kehidupannya."

"Kenapa?"

"Aku kagum mereka memegang erat nilai-nilai yang dipercayai dari Tuhannya."

"Malah, aku kagum sama temen satu tempat tinggalku. Bangun dini hari, lagi ngantuk-ngantuknya padahal jam segitu, cuma buat solat, bermunajat sama Tuhannya. Itu kan gak gampang." lanjutnya.

Aku mengangguk-ngangguk. Opini dari seseorang yang berbeda agama nya memang jarang sekali ku dapatkan.

"Kalau soal orang-orang yang solat tepat waktu nya, kayak udah adzan gak lama langsung solat, pandangan kamu gimana Mey?" Tanyaku menyindir diriku sendiri, aku kerap kali melalai-lalaikan urusan ibadah yang satu ini :(. Masih banyak ini waktunya... selesaiin urusan yang ini dulu. atau orang lain juga belum solat nanti kalo solat duluan disangka gimana lagi. Malu. Aku memang payah. Mikirin yang beginian. Cu.puk. Harusnya sih malu nya sama Allah, Shin. :'

"Kenapa? Kan gak ada yang salah? Ya solat dulu aja." ucapnya enteng menusuk qolbu :')

"Kalau soal yang cadar, Mey? Kamu takut? Kan banyak stereotype yang gak enak soal cadar." Kebetulan mumas dilaksanakan dekat dengan peristiwa rentetan bom oleh terorisme. Dan di media memang sedang up mengenai cadar. Pun ada video yang ku tonton perempuan bercadar tifak diperbolehkan menaiki angkutan umum karena masyarakat merasa takut.

"Enggak, kenapa Shin? Biasa aja" jawabnya ringan.

Lantas kami larut dalam perbincangan kami (Sorry Mumas:'D). Melanjutkan perbincangan mengenal agama masing-masing.

"Point of Order!" Ucap salah satu teman yang duduk lebih depan beberapa kursi tidak jauh dariku mengacungkan jari.

"Pesiapan buka puasa sebentar lagi, sekalian solat. sampai setengah tujuh" lanjutnya pada presidium, lantas disetujui oleh peserta sidang.

Dan pembicaraan kami hari itu berakhir disitu. Sebuah perpektif mengenai keislaman dari sudut pandang non islam. mengenai penghargaan. yang kujadikan sebuah intropeksi diri. sebuah intropeksi bagi opini-opini yang selama ini aku dengar. bagi kaum islam sendiri yang sering menganggap aneh islam. padahal bukan melakukan sebuah dosa.

Setelah menikmati menu berbuka. Pikiran ku melayang, teringat hari-hari dimana aku baru mengenal Meyuni. Dua tahun yang lalu. Ketika sedang menjalani ospek jurusan tahap dua: public relation. Di ospek tahap ini kami diharuskan tampil menarik, menggunakan make up, gel rambut bagi laki-laki, baju rapih, heels dan sepatu pantofel.

kala itu, selepas menunaikan solat Maghrib aku duduk di salah satu tempat yang disediakan oleh panitia. Kebetulan saat itu orang yang duduk di sebelahku adalah Meyuni.

"Kalian enak ya, Shin." ucapnya tiba-tiba

"Apa Mey?"

"Iya solat 5x sehari. Seger. Apalagi ada kegiatan kayak gini. Kalo aku kan enggak.."

Ucapannya berhasil membuatku merenung, ketika banyak (khususnya kaum hawa) yang malas untuk menunaikan solat karena malas touch up make up karena terhapus air wudhu, ia malah melihatnya dari sisi lain, enak, katanya. Ketika banyak alasan umat muslim tidak melaksanakan solat dengan beribu alasanya, ada non-muslim yang memandang solat itu justru sesuatu yang baik.

Ah. Mey. Aku bersyukur bertemu orang sepertimu.
Let's live together.
Unity in diversity.

-
-

Ramadhan Journey: Ramadhan 1939 H, sangat berkesan bagi ku. Bulan Ramadhan yang produktif, alhamdulillah Allah memberikan ku kesibukan dan di dalamnya banyak pelajaran yang bisa di ambil. Aku banyak belajar dari orang-orang yang ku temui secara sengaja maupun gak di sengaja. Banyak juga punya waktu me-time. Perjalanan fisik dan pikiran, yang ingin ku bagikan. Semoga bermanfaat. Semoga bisa bertemu Ramadhan berikutnya, aamiin yarabal alamin.

Thought : Soal Kulit Putih...

“Enak ya kulitnya putih”

“Kamu pake apa sih kulitnya bisa putih gini?”

“Ini kulit asli ya putihnya?”

 “Keturunan chinese ya?”

“Gamau di pinggir Shintia ah. Keliatan banget item nya”

Kalimat diatas merupakan segelintir kalimat yang udah sering banget saya denger. Baik dari orang yang baru di kenal, pun orang yang udah lama kenal. Hal pertama yang orang fokuskan pada diri saya adalah warna kulit. And, to be honest, It makes me sad, really.
 
Saya sedih karena yang pertama. Kehadiran saya, seringkali, membuat saya merasa, teman sesama kaum hawa (yang warna kulitnya lebih gelap dari saya) tidak bersyukur atas dirinya. Memang tidak ada yang menyebutkan secara langsung akan ketidakbersyukuran ini dan mungkin banyak yang tidak menyadarinya. Tapi keinginan untuk memiliki warna kulit yang sama, secara tidak langsung mencerminkannya. Ketidakpercayaan diri ketika bersama saya, pun secara tidak langsung mencerminkannya.

Yang kedua, saya sedih, menyadari bahwa ternyata masih banyak yang termakan oleh kalimat-kalimat manis yang terpampang di media. Kulit yang cantik itu kulit yang putih, katanya. Dan hal ini –sedihnya- diakui bukan hanya oleh kaum hawa saja, tapi juga kaum adam. Maka berlomba-lombalah banyak orang untuk memiliki kulit yang putih.

Ketika orang-orang mulai mengungkit soal ‘kulit putih’. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benak saya. Salah satunya: Sesukses inikah kaum kapitalis mempersepsikan masyarakat mengenai kulit putih?

“Mau jadi cantik itu mahal”, katanya.

”Cantik itu gampang, asal punya modal”, merupakan kalimat-kalimat yang sering saya dengar mengenai kecantikan.

Pernah terpikir darimana asalnya standar kecantikan itu?

Darimana asalnya standar kulit yang bagus untuk perempuan itu kulit yang berwarna putih?

Siapa yang pertama menyatakan, kalau kulit putih itu berarti cantik?

Ya, Kaum kapitalis.

Buat apa mereka buat statement kalau kulit putih itu bagus?

Mudah, sebagai produsen.. kaum kapitalis ingin masyarakat terus-menerus membeli produk skincare pemutih yang mereka produksi. Caranya dengan menentukan standar kecantikan yang ditampilkan via media.

Keren komunikasi pemasarannya.

Cara berpikir kita mengenai konsep ‘cantik’ nyatanya sudah disetir.. Berlandaskan ekonomi, agar mereka memperoleh untung.

Dan saya sedih, dicemburui dari suatu hal yang dikonsep seperti itu.

Yang kita butuhkan bukan kulit putih, tapi kulit yang sehat dan (menurut saya yang) bersih, karena yang bersih enak dilihat.  

Dulu, saya sempat terima-terima saja dilontarkan kalimat-kalimat pujian atas kulit putih. Namun, sekarang, saya kurang suka. Bukan karena saya tidak mensyukuri saya punya warna kulit yang begini, tapi karena alhamdulillah Allah membuat saya menyadari bahwa cara berpikir seperti ini -yang mendewakan kulit putih- terlalu tidak sehat untuk diterapkan.

Warna kulitnya apapun, buat apa dibandingkan? Toh semua dari Allah dan sama aja. Tidak menjadikan seseorang lantas menjadi superior pun sebaliknya. Bukankah seharusnya disyukuri, bukan dikritisi?

Memang di mata masyarakat masih saja banyak yang memandang unggul warna kulit putih. Namun, setelah merasakan sendiri dipuji-puji berdasarkan warna kulit, I wonder, what have I got actually? Hanya pujian, yang tidak berarti banyak bagi saya dalam menjalani kehidupan. Hanya pujian, yang bisa membuat diri sombong. Hanya pujian dan kesenangan sesaat.


Semu.

Fisik sebagus apapun, akhirnya akan berakhir juga di masa tua. Toh, semua ini cuma titipan dari Allah, yang mana anugerah (jika bisa mensyukuri) sekaligus ujian (ketika rasa sombong sudah menggerogoti). Memang menyenangkan sih dipuji, rasanya seperti disenangi oleh orang lain.

Tapi.. semakin kesini saya pikir ada pertanyaan mendasar yang seharusnya kita miliki: Whose pleasure am I seeking? People? For what? Kita gak pernah bisa membuat semua orang senang sama kita. Karena manusia selalu memiliki celah untuk ditunjuk. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Dan hal ini berlaku juga ketika kita berusaha menyenangkan orang tertentu, sebaik apapun yang kita berikan, selalu ada celah. Apalagi dari fisik.. “Cantik-cantik tapi.....”.

It’s only weaken us, Dear.. So, whose pleasure are u seeking beside of Allah?

Buat apa cemburu?

Soal fisik yang tidak disyukuri, saya pernah merasakannya (ingin lebih berisi dan tinggi, tapi susahnya minta ampun) dan itu....begitu menyiksa. Apalagi ketika lingkungan tidak henti-henti nya mengomentari kekurangan fisik. Suka jadi lebih aware dan kurang percaya diri. That’s why Self-love-is-important! This is your life, dan mereka gak punya hak apapun untuk menentukan kita harus punya ini-itu sebagai standar kebahagiaan. Terutama kamu, wahai kaum hawa. U’re beautiful just the way you are. No matter what skin color you have. Berkulit putih, doesn’t make someone better than you.  

Di mata Allah semuanya sama aja.


Waktu kecil.. Saya sering mempertanyakan. Kenapa perempuan seringkali membanding-bandingkan warna kulit dengan mengulurkan tangan satu sama lain. Apa esensinya? Kepuasan batin? Atau kesombongan diri karena merasa ‘lebih’ dan merasa ‘sesuai’ dengan standar kecantikan yang nyatanya berlandaskan ekonomi?

Membanding-bandingkan ini terjadi bukan hanya terjadi diantara perempuan. Begitu juga dengan laki-laki. Bukan kepada dirinya sendiri. Tapi dalam menilai perempuan.

“Eh kamu kalah putih sama dia”

“Kamu sama dia kaya kopi sama susu *sambil ketawa*”

Sedih... Betapa tidak sehatnya pola pemikiran yang mendewakan kulit putih ini.

Saya menulis tulisan ini dengan harapan kedepannya baik perempuan maupun laki-laki tidak lagi membedakan orang berdasarkan appearance.  Berdasarkan warna kulit. Bentuk tubuh. Dan lainnya. Tidak ada yang unggul. Semua sama. Tidak lagi mengelu-ngelukan standar kecantikan yang menguntungkan perekonomian kaum tertentu.

Yang buat cantik itu mahal. Cantik itu ribet. Ya pemikiran kita sendiri yang terlena media. 

Semoga kedepannya tidak lagi memandang manusia lain sebagai objek yang konsepnya telah dibuat oleh kaum kapitalis. Dan lebih mensyukuri apa yang diberi oleh Allah. Lebih menghargai fisik sendiri pun oranglain. Lebih mencintai diri sendiri sebagaimana Allah menjadikan diri dengan sebaik-baiknya.
Aamiin Yarabal alamin.