Belajar Menjadi Manusia



"Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Tapi manusia kadang lupa, bahwa ia pun merupakan makhluk yang juga tidak sempurna. Sebuah kenyataan yang bertentangan dan membingungkan, sempurna tapi tidak sempurna"
Akhir-akhir ini aku sedang dalam usaha untuk lebih mencintai diri. Hal ini disebabkan beberapa bulan yang lalu aku sempat sakit. Bukan karena faktor eksternal melainkan faktor internal. Yaitu: cara diri menyikapi suatu persoalan.

Dulu aku sempat ragu, apa mungkin seseorang sakit hanya karena pikirannya? Dan... yap! siapa kira, aku akan mengalaminya. Hakikatnya manusia menyukai kelembutan, maka berbuat baik kepada orang lain adalah salah satu sikap yang sangat dianjurkan. Lantas, bagaimana jika kita berbuat baik kepada orang lain namun tidak berbuat baik kepada diri alias menyakiti diri sendiri?

Ada banyak cara seseorang menyikapi persoalan. Ketika merasa kecewa, beberapa orang melakukan evaluasi secara sehat dan yang lainnya tidak (menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain atau menyalahkan apapun itu). Aku adalah salah-satu orang yang melakukan evaluasi secara tidak sehat, terutama dengan self-blame. Aku selalu menyalahkan diri. Aku sangat kasar terhadap diriku-sendiri.

Setelah melakukan kontemplasi. Ternyata akar dari self-blame ini adalah aku yang lupa memanusiakan diri. 

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Tapi manusia kadang lupa, bahwa ia pun merupakan makhluk yang juga tidak sempurna. Sebuah kenyataan yang bertentangan dan membingungkan, sempurna tapi tidak sempurna.

Namun banyak orang (aku) yang berusaha menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Lupa bahwa manusia pasti melakukan kesalahan dan jauh dari sempurna. Dan kunci dari semua ini adalah belajar memanusiakan diri (self-acceptance): Belajar mewajarkan ketika melakukan salah. Belajar memaafkan kesalahan yang dilakukan. Belajar menerima kegagalan diri.

Aku sering kali mengomeli diriku sendiri. Misalnya aku melakukan kesalahan seperti salah kirim file tugas. Seringnya ketika sudah ada di posisi tersebut, aku mulai menyalahkan diri. 'YaAllah Shin kok kamu bisa gitu? 'Kenapa sih kamu tuh gagal fokus melulu". Sekarang aku pelan-pelan belajar mengubahnya "It's okay, Shin. kamu manusia kamu melakukan kesalahan. Sekarang jalan keluarnya apa?"

Atau biasanya, ketika aku melakukan sebuah pekerjaan yang hasilnya tidak sebaik orang lain. "yaampun Shin begini aja gak bisa?", "Liat orang lain pada bisa, kamu engga?" sekarang harus diganti dengan lebih mengapresiasi diri "Ok, Shin. Good job. Kamu udah bisa segini" "It's okay, Shin. kamu udah bisa sampai sini. Semua orang punya kelebihannya masing-masing. Terus belajar ya!"

Seringkali aku merasa sedih ketika tidak mencapai goals yang seharusnya. Mulai dari hal-hal kecil seperti yang sudah ku tulis diatas. Sampai ke hal-hal yang sangat berdampak dalam diri (baik secara batin maupun secara fisik). 

Self-blame -yang aku rasakan- akan menjelma menjadi self-guilt dan self-shame karena saking toxic nya kebiasaan ini. Pernah suatu waktu, aku sangat kecewa akan suatu hal dan seperti biasa aku blaming diri sendiri. Aku sampai di titik tidak ingin bertemu banyak orang, kurang percaya diri dan jujur saja (waktu itu) jika aku diberi kesempatan untuk lahir kembali mungkin aku akan memilih jalan tersebut. Sayangnya, hidup tidak bisa begitu. Seberapa kecewa pun aku dengan diri, kehidupan tidak akan menungguku, hidup mesti harus berjalan. Dari situ aku belajar, selain self-acceptance yang seringkali aku lupakan adalah self-forgiveness.

Memaafkan diri ini....sangat membutuhkan kesabaran karena butuh waktu yang lama. Dan secara tidak sadar, seringkali kita kabur dari tanggungjawab memaafkan diri dengan menumpuk hal yang mengganggu dengan hal-hal lain yang diharap dapat mendistraksi keruwetan masalah (menonton, belanja, dsb). 

Masalahnya, masalah terus menerus datang, pun kekecewaan terus-menerus hadir. Maka self-forgiveness adalah kegiatan yang juga harus dilakukan berulang-ulang. 

Kita tidak bisa membiarkan keruwetan ini menumpuk begitu saja. Sampai akhirnya aku mengerti kunci dari self-forgiveness adalah ikhlas dan bertaubat. Ikhlas mengakui kesalahan diri yang menyebabkan efek besar pada diri sendiri, ikhlas menerima rasa sakit sebagai bentuk pembelajaran, ikhlas menerima konsekuensi yang akan hadir dimasa depan karena kesalahan diri, dan bertaubat karena selama ini seringkali merasa bisa melakukan sesuatu dengan baik dengan segala usaha diri yang lemah, tanpa melibatkan Yang Maha Kuasa, padahal karenaNya lah aku dapat melakukan sesuatu. 

Butuh waktu yang lama bagiku menyadari ada yang salah dalam diri ini. Aku harap sampainya diri pada titik realisasi ini, dapat membentukku menjadi pribadi yang lebih positif. Dan menerima segala yang hadir pada diri. Belajar mencintai diri berarti berdamai dengan diri dari sudut pandang lain. Mendewasakan diri agar terdorong mencari jalan keluar, instead of hurting my own self.

Semoga dengan membiasakan belajar memanusiakan diri ini selain manambah peduli terhadap diri sendiri. Pun menjadikan ku pribadi peduli terhadap orang lain dan (juga) lebih memanusiakan mereka. 

Yang memandang orang lain yang melakukan salah karena mereka pun pembelajar, mereka pun manusia. "Dia manusia bikin kesalahan juga, sama kayak kamu...". Dibanding menghabiskan tenaga, kesal sendiri (ini susah banget memang T_T tapi harus belajar), dan memiliki harapan yang tinggi terhadap orang lain (berharap mereka 'sempurna' dengan standar yang ada di otak kita, agar tidak selalu merasakan kecewa..

Tentang Perasaann Suka

Terkadang, kita harus banyak bertanya pada diri kita sendiri. 

Misalnya, ketika hati kita memiliki kecondongan pada seorang insan..

Apa kita benar menyukai sosoknya?
Atau kita menyukai sosoknya yang ada dalam pikiran kita?

Jangan-jangan kita hanya menyukai ekspektasi kita akan dirinya. Bukan menyukai dia yang sesungguhnya.

Kita membuat asumsi sedemikian rupa, berandai-andai masa depan yang akan dirakit dengannya.

Bukankah ekspektasi itu akan menghancurkan kita menjadi sosok penuntut?
Bagaimana jika sosoknya ternyata berbeda dengan ekspektasi.

Jika dia yang dimaksud ternyata tidak seperti ekspektasi, kenapa kita harus menyalahkannya?
Kenapa kita memaksa seseorang untuk menjadi dia yang ada dalam pikiran kita?

Jadi, kamu menyukai sosoknya?
Atau menyukai sosoknya yang kamu buat dalam pikiranmu?

Menyendiri

Semakin mendalami diri. Yang semakin terlihat adalah kekurangan. Banyak sekali. Malu rasanya, karena ada waktu-waktu di mana diri merasa cukup---cukup baik. Pun, ada waktu di mana diri melangit, merasa lebih dari siapapun.

Ketika menyendiri. Diam. Berdua dengan Sang Illah. Tabir itu terkuak. Diri yang rapuh. Diri yang bukanlah apa-apa.

Sisakanlah waktumu. Demi dirimu sendiri. Demi menyelami relung-relung yang tidak dilihat orang lain. Demi kesehatan mentalmu.

Karena pada akhirnya, dapat menumbuhkan keinginan untuk berbuat baik karena menyadari bahwa diri yang merasa baik itu palsu.

Cerpen: Tempat Menetap

Perempuan itu menggertakan gigi nya, menahan perasaan kecewa yang membuncah.


"Perempuan cantik mah banyak, bisa dicari. Aku cari yang akhlaknya cantik juga."


Air mata nya mengalir lembut. Lagi-lagi ia tidak bisa menahannya.


"Aku gak takut buat melepas kamu", lanjut laki-laki itu, mantap.


Sarah menatap langit-langit. Tidak ada apa pun di sana. Ia hanya ingin air mata nya berkurang dengan menegadahkan kepala nya ke atas. Entah ke berapa kali nya ia menangis hari ini. Hati nya benar-benar hancur. Kejadian kemarin sore, ucapan dari sang kekasih, terus-menerus terulang dalam benaknya.


"Tapi aku salah apa? Aku udah berusaha menjadi pasangan yang baik. Aku gak pernah minta dibelikan apapun. Aku gak melarangnya melakukan apa yang ia senangi. Aku cuma mau dia menetap ya Allah. Aku cuma minta sedikit" ucapnya, rapuh.

cr: hipwee

Kini ia memandang ke depan, ke arah cermin yang memantulkan bayangnya.


"Aku gak tau. Apa aku harus senang atau sedih karena memiliki ini." Isaknya.


"Memangnya aku mau punya wajah kayak gini? Kenapa ada saja yang menginginkan nya? Sedangkan hal ini selalu menjadi alasan bagi seseorang datang dan meninggalkanku"


Ia semakin tersedu.


"Apa yang dimaksud akhlak yang cantik? Maksudnya akhlak ku seburuk itu?" nada nya meninggi, kesedihan itu bercampur dengan amarah.


Sarah tahu benar dirinya begitu hina dan memang akhlaknya begitu buruk. Ia tahu dirinya tidak memiliki akhlak seperti sahabiyyah atau teman-teman shalihah lainnya.


Namun ia melempar dirinya begitu jauh. Hanya karena kalimat dari seseorang yang mengisi relung hatinya.  Ia merasa dirinya tidak lebih dari sekedar manusia sampah. Bahkan, merasa dalam dirinya tidak ada satupun kebaikan.


Ia melirik rak buku di bawah cermin tempat ia melihat pantulnya. Sebuah Al-Qur'an terpatri rapi di sana.

Tarikan nafasnya dalam. Ia masih tersedu-sedu. Tangannya meraih kitab suci itu.

"Seenggaknya.. Mungkin, jika manusia melihat kebaikan akhlak berdasarkan standar. Jika memang bukan manusia. Aku yang akhlaknya buruk ini. Aku yang dipenuhi keburukan ini. Aku yang gak lebih dari sekedar sampah ini. Memiliki tempat untuk kembali. Memiliki tempat untuk menetap."

(Bukan) Tujuan

cr:pxhere



Aku bukan tujuanmu.
Dan tidak menginginkan untuk dijadikan sebagai tujuan.


Jika kamu kemari, hanya karena tertarik pada apa yang ada pada diriku.
Aku tidak bisa menjamin ketertarikanmu, tidak akan berubah menjadi penyesalan.
Aku tau segala kebaikan dapat berawal dari hal-hal kecil yang begitu menarik.
Tapi jika itu landasanmu, siap-siaplah menyesal.


Jika kamu menghampiri karena ingin bahagia.
Aku tidak bisa memberi nya.
Karena kebahagiaan bukan berasal dariku.
Tapi dari persepsimu memandang rahmat Tuhan.


Jika kamu datang hanya ingin mendapatkan cinta dari ku.
Cepat atau lambat,
Aku dan kamu akan sama-sama menjadi makhluk egois.
Aku dengan semua perasaanku.
Dan kamu dengan segala logikamu.
Saling berebut kasih sayang atas ekspektasi masing-masing.


Aku tidak ingin menjadi tujuanmu.
Karena memang tujuanmu seharusnya bukan aku.


Tujuanmu seharusnya lebih luas, dibanding sekedar seorang perempuan yang tidak bisa apa-apa.


Aku bukan tujuan karena di depan sana, ada hal yang lebih penting yang harus kamu dan aku raih.


Pasangan, hanya satu dari sekian langkah hidup bukan tujuan.
Yang dengannya, diambil keputusan untuk melangkah.
Beriringan searah, bukan untuk meringankan beban.
Melainkan sebagai teman untuk menuju tujuan yang seyogyanya adalah tujuan.

LGBT: Sebuah perspektif

cr: pxhere
“Kamu kan religius, kenapa ngambil topik skripsi semacam LGBT bahkan ini… transgender pengidap AIDS?” Tanya dosenku hari itu.

Aku diam.

Banyak hal yang harus aku jelaskan walaupun beliau hanya memberikanku satu pertanyaan. Dan aku rasa, aku harus menuliskan juga perpektifku terhadap isu yang sangat-sensitif ini.
-

Pertama, aku tidak religius.

Aku tidak mengerti apa yang dinilai dari diri seseorang sehingga ia bisa disebut sebagai religius. Jika religius berarti patuh dalam menjalankan aturan agama, jawabannya adalah tidak, aku tidak religius. Aku masih begitu banyak memiliki kecacatan dalam perjalanan mematuhkan diri dengan Sang Ilahi. Aku belum sepenuhnya patuh.

Mungkin, banyak yang menilai aku religius karena pakaianku. Tapi ada yang harus ku tekankan, pakaian hanyalah satu dari sekian banyak aspek yang ada dalam diri seseorang, oleh karena itu aku menolak digeneralisir dengan penilaian religius hanya karena pakaian.

Aku menolak disebut religius, karena aku sangat-belum-cukup untuk dikelompokkan ke dalam kelompok manusia-manusia baik. Aku hanyalah manusia, yang -berusaha- menjadi patuh. Mungkin lebih tepat, jika pertanyaannya ditambah, “Kamu kan orang yang berusaha menjadi religus”, aku baru akan menerimanya—Karena mungkin, orang yang melabeli aku sebagai “religius” adalah orang yang lebih “religus” (lebih taat, lebih patuh, lebih tinggi derajatnya di sisi Allah) daripada aku.


Kedua, aku tidak memandang kelompok LGBT sebagai kelompok yang mesti aku jauhi.

Beberapa orang menyalah-artikan maksudku ini sebagai….aku adalah orang yang menerima LGBT atau aku termasuk ke dalam kelompok islam liberal. Fyuh. Bismillah, semoga perpektif yang aku punya setidaknya sedikit menjelaskan maksudku yang sebenarnya.

Aku ingin menekankan dulu sebelumnya, aku tidak menerima LGBT. Karena nilai yang mereka punya sangat bertentangan dengan nilai yang aku punya. Aku heteroseksual dan agama ku melarang hubungan homoseksual/biseksual, pun merubah status kelamin sebagaimana ia dilahirkan adalah sesuatu yang dilarang atau bisa disebut sebagai “perilaku dosa”. Tapi aku tidak mau memusuhi mereka.

Pertama, dalam perspektif ku, meskipun mereka berbuat dosa bukan berarti derajatku lebih baik dibanding mereka di sisi Tuhan. Aku pun sama, melakukan dosa. Banyak? Ya, sangat-banyak-sekali. Hanya saja, perbedaannya, aku melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi (kadang aku pun tidak merasa sedang melakukan dosa). Sedangkan mereka, lebih “terlihat”.

Ada beberapa orang yang mungkin akan menyanggahku dengan “Tapi mereka kan melakukan dosa besar”. Ya, aku setuju, tapi bukan berarti aku tidak melakukan dosa besar, jujur saja--kamu hanya tidak melihatnya. Selain itu, dosa-dosa kecil yang aku lakukan, aku tidak tau sudah seberapa besar jumlahnya, aku tidak tau apakah dosa-dosaku sudah diaampuni atau belum, yang bisa aku lakukan hanyalah berusaha bertaubat. Dosa kecil pun lama-lama akan menumpuk, itu sebabnya kita tidak boleh meremehkan dosa kecil bukan?

Dan karena segala tumpukkan dosa yang ku punya tidak bisa dibandingkan dengan dosa yang mereka punya, karena tidak terlihat, aku tidak bisa menghitungnya. Lantas, kenapa aku harus memposisikan diri menjadi sosok yang ‘lebih tinggi’ dibandingkan mereka?

cr: grid.id

Masih ada beberapa alasan lain.

Kedua, aku memandang mereka sebagai orang-orang yang harus berjuang dengan melawan nafsu nya, sama sepertiku. Bedanya, untuk yang homoseksual seperti lesbian dan gay, mereka harus berjuang melawan hawa nafsu kepada sesama jenis. Sedangkan aku, kepada lawan jenis. Apalagi bagi homoseksual yang sedari kecil, tidak pernah sama sekali merasakan perasaan suka kepada lawan jenis, dalam tanda kutip mereka disebut sebagai homoseksual karena hormon yang ia miliki (karena manusia lahir berbeda-beda), atau yang merasakan salahnya didikan orangtua sehingga tidak familiar dengan hubungan heteroseksual. Dan mungkin teman-teman biseksual, lebih berat lagi dalam melawan nafsunya.

Kenapa aku memiliki perspektif ini? Aku beberapa kali melakukan wawancara dengan yang bersangkutan. Dan beberapa dari mereka mengaku merasa ingin menjadi heteroseksual tapi tidak bisa. Mengerti bahwa agama melarang sehingga ingin menjadi heteroseksual. Berusaha sehingga mereka terkadang merasa diri mereka orang-yang-dilahirkan-dengan-sangat-buruk, frustasi bahkan depresi. Meski beberapa dari mereka pun, merasa tidak ada yang salah dengan diri mereka, itu adalah pilihan mereka bukan pilihanku jadi tidak berpengaruh apapun pada diriku.

Kembali fokus ke homoseksual yang ingin menjadi heteroseksual dan berjuang melawan hawa nafsunya. Aku pun sama, berjuang dengan hawa nafsuku. Ada beberapa waktu di mana aku tidak bisa menahan hawa nafsu ku kepada lawan jenis. Aku pernah sangat ingin memiliki seseorang. Pernah berusaha menjadikannya agar menjadi pasangan hidup dengan cara yang salah. Aku pun pernah merasa diri ini orang-yang-sangat-buruk karena tidak dapat mengontrolnya. Kita semua sama-sama berperang melawan hawa-nafsu.

Dan untuk transgender, keinginannya menjadi gender yang berlawanan. Mereka pun berjuang dengan keinginannya menjadi lawan jenis, memakai pakaian yang dinginkan, dan lainnya. Aku pun sama, meski tidak ada keinginan untuk berubah gender. Aku ada keinginan untuk memakai apa yang aku inginkan. Misalnya? pakaian pendek, dengan potongan yang lucu-lucu, modis nan trendy. Tapi aku mau-tidak-mau harus menahannya.

Aku tau betapa sulitnya mengontrol hawa nafsu ini, kenginan-keinginan yang tidak diperbolehkan, oleh karena itu, apa yang membuatku pantas merasa ‘lebih-baik’ sehingga aku ‘layak memusuhi’ mereka? Padahal aku sendiri berjuang melawan itu semua.

cr:tribunnews

Dan yang terakhir, poin yang paling inti. Aku tau mereka melakukan dosa besar. Jika aku memusuhinya, lantas apa peran dakwahku terhadap mereka? Dimana peranku padahal aku di tempatkan oleh Tuhannku berada di era di mana LGBT menjadi isu hangat. Bagaimana jika suatu hari nanti, di hari pertanggungjawaban, aku di tanya oleh Tuhan mengenai hal ini?

Aku tau, tidak semua dari mereka menginginkan untuk didakwahi. Menurutku, itu bukanlah sebuah masalah. Aku tidak ingin memaksa mereka. Peranku, adalah menghadirkan dengan akhlak (meski aku tau akhlak yang kumiliki sangat amburadul), bahwa menjadi beragama bukan berarti orang yang bersangkutan suci sehingga dapat merendahkan orang lain. Peranku adalah menghadirkan dakwah melalui obrolan dan perilaku. Meski aku tau beberapa orang dari mereka berpegang-teguh dengan nilai yang dipunya. Tidak apa-apa. Aku pun memiliki nilai yang ku pegang dan aku pun tidak ingin seseorang mengganggu nilai-nilai yang ku punya. Yang penting, aku sudah melakukan suatu ‘action’---kepada diriku sendiri untuk tidak menjadi sombong, dan kepada mereka. Soal hasilnya, kan bukan urusanku. Aku serahkan pada Tuhan. Aku yakin Tuhan hanya melihat usahaku. Aku tidak ingin memaksa karena setiap orang tidak suka keinginannya dipaksakan. Karena aku dihisab oleh apa yang aku kerjakan, bukan apa yang orang lain kerjakan.

Setidaknya, aku ingin menghadirkan “tempat-untuk-kembali” jika mereka ingin, meskipun aku tidak dapat begitu memfasilitasi, tapi aku ingin mengusahakannya. Karena aku juga ingin melakukan apa yang ingin aku dapatkan dari orang lain, yaitu, ketika aku melakukan sebuah dosa, aku tidak distigma, aku tidak dihindari, aku tidak dikucilkan melainkan dirangkul, melainkan aku-memiliki-orang-dimana-aku-bisa-kembali.

Aku terinspirasi dengan adanya pesantren Al-Fatah di Yogyakarta bagi waria atau pesantren “Senin-Kamis” untuk para homoseksual. Memang paradoks, antara agama dan apa yang dilabeli dengan ‘dosa’ disatukan. Tapi bagiku… semua orang memiliki hak untuk kembali pada Tuhannya. Tanpa terkecuali.

Itu sebabnya. Aku tidak setuju dengan pembatasan lapangan pekerjaan kepada kelompok LGBT., pembatasan fasilitas kesehatan, dan lainnya. Jika kamu adalah orang yang pernah membaca buku mengenai stigma kelompok LGBT, pasti kamu tau. Karena adanya diskriminasi yang diberikan, mereka tidak dapat hidup layak, mereka semakin terjerembab dalam jurang. Banyak lho dari mereka yang menjadi PSK karena tidak adanya lapangan pekerjaan yang diberikan. Kamu bisa baca buku-buku yang berkaitan dengan stigma untuk mengetahui lebih lanjut (uhuy yang lagi berusaha nyusun mah beda x’D) atau membuka diri dengan mengobrol dengan mereka yang kamu anggap berbeda. Aku tidak mau kehadiranku karena melakukan hal yang sama, alih-alih menyelamatkan mereka, malah semakin memperburuk keadaan yang mereka alami.

Menurutku, menghukumi seseorang atas perilakunya bukanlah tugasku, tugasku adalah melakukan sesuatu yang kuanggap benar untuk membantu mereka.

Sekian perspektif yang sangat panjangnya.

Jika ada perbedaan nilai, aku harap kamu sebagai pembaca dapat menghargai perspektif ku dengan tidak melakukan cancelling. Atau menghukumi ku sebagai liberal, karena pada kenyataannya aku tidak merubah satu pun aturan dari agama. Ini merupakan pilihan aksi yang ku pilih.
Terimakasih. <3


Kok Dia Bisa Gitu Ya? Munafik atau..


Pernah gak melihat seseorang yang kamu anggap sebagai “orang yang baik”, melakukan hal-yang-sangat-burukyang gak pernah terpikirkan bahwa orang seperti dia akan melakukannya? Misalnya, seorang ustadz di suatu daerah yang ku tahu, mengadakan pengajian untuk anak-anak agar lebih mendalami Al-Qur’an, eh, tapi malah.…menghamili salah satu muridnya. Atau kejadian serupa di Boston Amerika, yang diangkat menjadi film berjudul Spotlight (harus nonton), bahwa di tahun 2002 terungkap bahwa ratusan -bahkan berbentuk jaringan- pastor di AS melecehkan anak-anak.

Atau kamu pernah mendengar hal yang lebih mengagetkan lainnya?

Maka hari ini, ingin menulis mengenai.. Kok dia bisa gitu ya? Padahal kan….

Dari sini jelas bisa disimpulkan, bahwa dunia ini nggak cuma terdiri dari warna hitam dan putih. Semua manusia memiliki warna nya sendiri. Kita kerap kali merasa bisa menilai seseorang dengan baik, tapi sering kali penilaian itu gagal.

Hal ini dijelaskan oleh Prof. Deddy Mulyana dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi. Beliau menuliskan bahwa kesalahan persepsi terhadap seseorang ini disebut sebagai Halo Effect. Merujuk kepada fakta bahwa kita membentuk kesan menyeluruh karena sifat-sifat yang menonjol dari pribadi seseorang. Bila sifat negatif yang menonjol, kita sulit mengakui bahwa ia memiliki beberapa sifat positif. Pun, sebaliknya. Dengan kata lain, kita mengelompokkan sifat-sifat seseorang secara kaku.

Maksudnya, aku beri contoh seorang-yang-sepertinya-semua-orang-kenal: Awkarin. Dengan akun Instagramnya, ia menampilkan bahwa ia adalah seorang bad girl. Banyak hujatan mendatangi nya di kolom komentar. Bahkan seringkali ia di cap sebagai bad influencer.  Nah. Sekarang pertanyaannya.. apa dia benar-benar seburuk yang dipikirkan?

Beberapa waktu yang lalu, sosok Awkarin ini pergi ke Palu membantu korban gempa. Yang kemudian, menggetarkan (yaila?) jagat internet :p. Salah satu komentar yang ku baca (dan masih teringat) dari sebuah postingan, seperti ini: Awkarin udah berubah ya. Yups! Bisa jadi dia berubah, atau bisa jadi kita yang mengelompokkan dan menggeneralisir sifatnya secara kaku. Kalau yang kita lihat bernilai buruk, maka kita mempersepsikan ia orang yang seperti itu. Padahal belum tentu. Semua orang selalu punya sisi kebaikan dan keburukan. Dan kita nggak pernah tau, sebenarnya keburukan atau kebaikan yang mendominasi dalam diri seseorang itu.

Selain menggeneralisir seseorang melalui sikap nya yang kita lihat, Prof. Deddy Mulyana juga menyatakan bahwa kita mempunyai ekpektasi sifat seseorang melalui penampilannya. Yang ganteng dan cantik mah…dinilai punya kebaikan lebih.

Contoh nya, beberapa waktu yang lalu (bahkan sampai sekarang), dunia per-kpop-an heboh dengan kasus Burning Sun. Buat yang enggak tahu apa itu Burning Sun… Burning Sun ini nama sebuah club malam di Korea Selatan. Kasus ini rame banget karena yang punya club malam ini adalah salah-satu anggota Boyband terkenal Korea, Bigbang. Kasus ini menarik.. karena ternyata di dalamnya terdapat kasus penyuapan petinggi polisi Korea, pengedaran narkoba, penjualan perempuan dengan membiusnya, bahkan merekam hubungan seksual dengan diam-diam dan menyebarkannya! Makin gila nya lagi, setelah kasus semakin didalami, yang termasuk di dalam kasus ini bukan hanya pemilik club malam Burning Sun, tapi banyak nama idol lain yang terseret dalam kasus pelecehan seksual. Ah, panjang banget kalau diceritain, bisa klik di sini aja buat penjelasan lebih lengkapnya.

Yang bikin kagetnya, yah itu idol kan mukanya ganteng-ganteng.. bukan muka kriminal lah, siapa sangka. Nah, salah satu hal yang sering kita lupa adalah semua orang ingin menunjukkan sisi terbaiknya. Selain para idol yang secara manusiawi ingin menunjukkan sisi baik dirinya, dalam dunia entertainment, pasti seseorang dibuat sedemikian rupa agar ia terlihat memiliki sikap yang baik. Yah.. bak perfect. Bahkan salah satu idol yang terlibat kasus ini yang ku tahu, suka memberi donasi uang untuk yang membutuhkan (diluar variety shows). Ketika kasus ini pertama kali muncul, banyak orang yang nggak percaya idolnya melakukan hal buruk seeprti itu. Bahkan sempat masih mensupport idolnya.

Padahal kembali lagi manusia tetaplah manusia. Dia baik, tapi pasti selalu ada keburukan didalamnya. Dia buruk, tapi pasti selalu ada kebaikan didalamnya. Karena kita manusia, bukan setan pun malaikat. Dia cantik, pasti dia punya kebaikan dan keburukan. Dia ganteng, sama! Dia punya kebaikan dan keburukan. Karena kita semua manusia, bukan iblis pun bukan malaikat.

Manusia pasti melakukan salah dan pasti melakukan kebaikan. Soal derajat siapa yang lebih baik, kita tidak pernah tau. Karena kita bukan lah penilai yang baik---yang kita nilai baik ternyata buruk, yang buruk pun sebaliknya.  Dan tugas kita di dunia ini pun bukan untuk menjadi penilai. Hihi, kita adalah makhluk yang nggak tau apa-apa, tapi sering sok tau T__T.

Manusia dengan keunikannya membawa banyak kejutan. Seorang yang terlihat ahli di bidang agama, bisa jadi menipu banyak orang. Seorang yang periang, bisa jadi melakukan tindakan bunuh diri. Seorang pencuri, bisa saja melakukan tindak pencurian karena ingin membahagiakan anaknya. Seorang yang berpenampilan sederhana, bisa jadi adalah seorang miliyader. Seorang yang pemarah, bisa jadi adalah seorang yang penyayang. Singkat kata, karena keunikan yang terdapat pada masing-masing individu kita seyogyanya berhati-hati dalam mempersepsikan seseorang, karena Halo Effect ini dapat menipu setiap orang.

Pada akhirnya, aku ingin mengutip kalimat yang sangat terngiang dari Yasmin Mogahed, bahwa manusia yang baik bukanlah manusia yang nggak pernah melakukan kesalahan (keburukan). Tapi manusia yang melakukan kesalahan, namun menyesalinya dan bertaubat, serta terus-menerus berusaha memperbaiki dirinya. 

Dan karena kita tidak pernah tahu siapa itu orangnya, sudah sepantasnya kita tidak menilai orang lain. Karena kita -sebagai manusia- tidak memiliki kapasitas dalam melihat itu.