Arti Kehadiran

Hari itu, sahabatku menangis tersedu di depan banyak orang. Aku diam seribu bahasa. Ya. Aku tahu apa-apa yang telah ia lalui. Dan aku tau betapa sulit untuknya melewati itu semua.

"Makasih, udah ada di kehidupan aku. Walaupun kalian gak tau apa-apa. Walaupun aku cuma cerita ke Shintia. Tapi justru dengan ke-enggak-tahuan kalian itu yang membantu aku." Ucapnya tersedu.

Mungkin, bagi sebagian orang ucapannya itu membingungkan. Tidak merasa telah membantu apapun, bahkan masalahnya pun tidak tahu, tapi merasa telah terbantu?

Namun, tidak bagiku.
Kalimat tersebut, merupakan kalimat yang manis. Begitu manis. Bagaimana dia terpikirkan untuk menghargai seseorang yang bisa dibilang tidak-peduli (karena tidak tahu apa yang dilewati) padanya?


Bagiku.. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Yang sudah mengenal aku dengan baik, pasti sering melihat sikap tidak percaya diriku saat menghadapi sesuatu. Aku terkadang melihat diri, tidak berarti di kehidupan orang lain. Melihat diri, tidak memiliki manfaat barang sedikitpun bagi orang lain. Melihat diri, tidak pantas berada disekitar orang lain.


"Justru karena kehadiran kalian yang gak tau apa-apa. Aku jadi teralihkan buat mikirin masalah aku. Kalo gak ada kalian aku gatau bakal gimana. Mungkin aku bakal sedih terus." Lanjutnya, masih tersedu.

Suasana hening. Beberapa orang ikut meneteskan air mata. Aku menarik nafas yang panjang, dan menghembuskannya dalam sekali hembusan. Sahabatku, orang yang paling tsundere yang pernah kutemui ini.. ternyata bisa mengungkapkan perasaannya dengan sedemikian apik.

Dan aku sangat berterimakasih, ucapannya telah membangunkanku dari tidur. 
Kehadiranku yang menurutku tidak penting bagi orang lain. Kehadiranku yang menurutku adalah beban untuk orang lain. Belum tentu seperti itu.


Bahkan dengan tidak melakukan apapun. Dengan ketidaktahuanku. Hanya dengan aku 'hadir' di kehidupan seseorang. Bisa menjadi kebaikan baginya. Bisa memberikan manfaat tanpa diketahui.

Dan bagi yang merasa sendirian.
Bagi yang merasa tidak berharga.
Bagi yang merasa eksistensi hidupnya tidak penting.

Ternyata tidak begitu, mungkin kehadiranmu berarti bagi seseorang. Tanpa ia ucapkan. Tanpa kamu ketahui.

#RamadhanJourney: Ketemu Teteh di Salman

Alhamdulillah, InsyaAllah sebentar lagi kita akan bertemu bulan Ramadhan 1440 H. Tapi tulisan tentang bulan ramadhan 1439 H kemarin belum ditulis semua hehehe. Bulan Ramadhan nya selesai kapan, masih belum selesai aja nulis ramadhan journey nya, yaAllah, Shintia.. :’) 

Yah, Sebenernya mau nulis tentang ramadhan journey gak jadi-jadi karena ada kendala nya.. *ngeles
Jadi, buku catatan pembelajaran bulan ramadhan tahun kemarin itu lupa disimpen dimana, setelah nyari kesana-kemari sampai sekarang belum ketemu juga :’) . Jadi gak begitu inget secara detail apa-apa yang mau ditulis. Tapi, tulisan yang sekarang insyaAllah menjadi salah-satu pembelajaran yang paling berkesan di Bulan Ramadhan tahun lalu, Alhamdulillah lebih diingat dibanding yang lainnya.


-

-


Hari itu, hari ke sekian Ramadhan. Sekitar pukul 9 pagi, aku memesan ojek online untuk pergi ke Masjid Salman ITB. Rencana nya hari itu aku akan mendaftar untuk ikut salah satu program Ramadhan yang telah disediakan. Namun, sesampainya disana, mungkin karena terlalu pagi. Booth pendaftaran belum dibuka.

Lantas saja aku melangkahkan kaki ke lantai 2 Masjid Salman. Di sana aku melihat beberapa akhwat yang sedang mengobrol, ada yang tertidur, pun ada yang sedang tilawah. Aku duduk di barisan paling belakang, bersandar ke dinding, menunggu booth pendaftaran dibuka. Memperkirakan mungkin selepas dzuhur booth pendaftarannya akan dibuka.

Aku mengedarkan pandangan sejenak, mengamati pemandangan yang jarang kulihat. Jarang sekali aku datang ke masjid ini, karena jarak yang cukup lumayan dari tempat tinggalku. Teringat, ITB pernah menjadi salah satu perguruan tinggi impian, namun pada akhirnya aku sama-sekali nggak memasukannya ke dalam pilihan perguruan tinggi saat seleksi masuk PTN.

Asyik mengamati, tiba-tiba saja dada ku terasa sesak, ingin menangis rasanya. Seperti yang aku sudah ceritakan di beberapa tulisan sebelumnya. Tahun lalu merupakan salah satu tahun yang –bisa di bilang- berat dalam hidupku. Rasa sedih sering datang menyeruak. Ku tengok kanan dan kiri, bagaimanapun, aku malu menangis di depan banyak orang. Tapi rasa sesak kian menggeliat, meminta untuk dikeluarkan.

Ada satu ucapan yang sangat ku ingat tentang kesedihan setelah menonton salah satu video milik Teh Ghaida dan Teh Ica (anak dari Aa Gym), bisa di tonton di sini.

“Kalau lagi sedih jangan langsung curhat kemana-mana atau ke manusia. Karena khawatirnya kita lebih  banyak curhat ke manusia daripada ke Allah. Cepet aja langsung ngaji, gak apa-apa sambil nangis juga bentuk curhat. InsyaAllah, air mata nya nanti bersaksi. Semoga ini bukan air mata sia-sia.”

Secepat mungkin aku membuka tas dan mengambil Al-Qur’an sebelum air mata ku tumpah. Bukan hanya dengan harapan air mata ku gak terbuang sia-sia. Namun, juga aku ingin mendistraksi pikiran negatif dengan Al-Qur’an. Yaa..syukur-syukur aku gak jadi nangis. hehehe

“Laa Tahzan Inallaha Ma’ana”, merupakan sebuah kalimat yang ku temukan ketika mulai membaca Al-Qur’an, pas sekali ketika rasa sedih hadir. Seakan Allah yang mengatakan, “Sin, jangan sedih terus. Allah ada sama kamu kok!”  iya Sin, ada Allah, ada Allah. Dan terus melanjutkan bacaan sehingga dada terasa menjadi lebih lapang. Alhamdulillah..

“Teh Maaf” ucap sebuah suara, seorang akhwat yang tadi sedang tertidur tidak jauh dari tempatku duduk datang menyapa.

“Iya teh, kenapa?”

“Bawa Charger enggak, teh? Boleh pinjem? Hp saya low”

“Gak bawa teh, tapi saya bawa powerbank. Ini..” Jawabku sembari mengulurkan benda kotak berwarna putih itu dari dalam tas.

Hening. Terbaca ada guratan tanda tanya pada raut mukanya.

‘Eh kenapa? Masa gatau powerbank?’ aku bertanya-tanya dalam hati.

Ia lantas mengambil powerbank tersebut, lantas bertanya. “Ini cara pakenya gimana teh?”

“Oh.. Sama aja kaya charger teh kayak gini (aku mencontohkan cara pemakaiannya), Cuma bedanya 
bisa dibawa kemana-mana aja”

“Harganya berapa ya teh?”

“Macem-macem teh, kalau beli kayaknya kisaran 100ribu ke atas”

“Oh gitu. Saya pinjem dulu ya teh.”

“Oh iya..”

Hening lagi. Beberapa menit tidak ada yang memulai pembicaraan. Aku ingin memulai pembicaraan. Tapi takut salah. Aku mendapati perasaan bahwa teteh ini nggak seperti orang pada umumnya. Dari cara nya berbicara, entah mengapa, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa selama ini beliau menjalani kehidupan yang rumit dan beliau selama ini kesepian. Beliau duduk-diam disampingku, sembari melihat hp-nya yang sedang dicharge.

Karena tidak enak terus-menerus dalam keheningan. Lantas, aku kembali membuka Al-Qur’an. Ingin mengisi kekosongan jiwa sebelum diisi kembali oleh kesedihan.

“Sebenernya... saya lagi sakit teh” Ungkap teteh itu tiba-tiba saat aku baru saja membuka Al-Qur’an.

“Iya teh?” Jawabku kaget.

“Oh, maaf.. sakit apa teh?”

“Ini” ucapnya sembari menunjuk kepala.

“Saya suka pusing.” Lanjutnya.

“Emm.... teteh udah minum obat sebelumnya teh? Teteh lagi puasa?”

Beliau mengangguk pelan. “Obatnya mahal. Saya sakit ini udah lama, syaraf saya yang kena.”

Aku terdiam. Bingung menjawab apa.


“Tapi teh, alhamdulillah setelah saya ketemu islam. Semuanya jadi lancar.”

“Gimana teh?”

“Dulu saya pernah karena sakit bagian syaraf, saya sampai lumpuh di bagian x (beliau menyebutkan 
bagian tubuhnya yang lumpuh, tapi aku lupa apa, detailnya ada di catatan yang hilang T_T)”.

“Sekarang alhamdulillah enggak. Padahal obat pas-pasan karena mahal.”

“Saya pisah sama suami sama anak” lanjutnya.

Aku terkejut. “Teteh..mahasiswa ITB?”

Ia jawab dengan menggelengkan kepala.

“Alumni ITB?”

Kembali beliau menggelengkan kepala.

Hening. Menyisakan aku yang kebingungan.

“Saya bukan dari sini teh. Umur saya 43 tahun (kalau gak salah ingat)”

“Oh???” Serius. Aku kaget bukan main. Aku mengira ia hanya berumur 3-5 tahun diatasku.

“Saya juga bukan orang Bandung. Saya dari Tasik. Pertama kali ke Bandung ikut konser-konser artis”
Aku terdiam, mode pendengar sedang diaktifkan.

“kalau di konser-konser artis gitu kan banyak minuman keras ya teh. Saya juga bajunya dulu pendek-pendek. Saya hilang arah teh, gak ngerti hidup.”

“Alhamdulillah nya, saya ketemu Pak/bu x (lupa namanya T_T), beliau baik banget. Sekarang beliau dosen di ITB. Sekarang saya tinggal di asrama Salman. Saya dikasih bacaan Islam, awalnya saya gak ngerti. Makin kesini makin belajar."

"Hidup jadi enteng, walaupun kondisi saya kayak gini. Gak punya siapa-siapa”
Aku termenung sebentar. Beliau cobaannya sulit banget ya. Aku gak seberapa, tapi nangis terus.

“Teteh gak pulang ke Tasik teh?” tanyaku.

Beliau menggelengkan kepala. “Udah dua tahun enggak.”

“Rencana nya saya mau ke DT (Daarut Tauhid) teh. Sebentar lagi kan 10 hari terakhir ramadhan, ada program i’tikaf. Pengen daftar jadi Keamanannya teh. Tahun kemarin saya juga jadi keamanan. Oh ya kalau teteh darimana?”

Aku tertunduk. Malu-yaAllah, malu! Beliau yang fisiknya sakit, dengan berbagai permasalahan yang ada di belakangnya. Semangat sekali. Jadi Keamanan? Dalam kondisi sakit? MasyaAllah... Aku? Aku sudah lama bersedih hanya karena satu –let’s say- takdir yang nggak sesuai dengan keinginan. Tapi masalahku ini sedikit sekali, dibandingkan dengan beliau. Jauh..

‘Bagaimana rasa nya kalau aku ada di posisi beliau?’

‘Kehilangan suami, anak, keluarga. Ditimpa penyakit’

“Saya juga suka ada di DT teh. Mau bareng nanti kesananya? Jam berapa?”

Belum sempat beliau menjawab. Suara adzan Dzuhur berkumandang.

“Teh, Makasih ya.” Beliau mengembalikan Powerbanku lantas pergi. Aku hanya melihatnya menjauh. Beliau keliatan terburu-buru sekali.

Setelah solat Dzuhur. Aku tersadar, bahwa nggak ada yang namanya kebetulan. Aku bahkan nggak tahu siapa nama Teteh itu. Begitu juga beliau. Nama saja gak saling tahu, tapi dengan begitu mudahnya, beliau bercerita padaku—pada orang asing. Lantas tiba-tiba saja aku teringat “Laa Tahzan, Inallaha Ma’ana”. Mungkin Allah kasihan melihat aku yang terus-menerus menangis, sehingga Allah berikan kepadaku kisah berat orang lain. Dan menyadarkanku, bahwa masih sangat banyak nikmat yang Allah beri.

Dibalik Kata Hampir

Dalam hidup, ada kalanya kejadian yang disangka akan terjadi, justru malah tidak terjadi.
Ketika sedang mengalami hal seperti itu. Seringkali kata "hampir"  terucap dari mulut.

"Padahal hampir aja menang!"
"Mereka hampir menikah tapi dari pihak perempuan tiba-tiba membatalkan tanpa kejelasan"


Atau terkadang, kata "hampir" mampir ketika merasa terselamatkan atas kejadian buruk.

"Tadi hampir aja keserempet"
"(tiba-tiba hujan besar setelah sampai rumah) Alhamdulillah udah nyampe, hampir aja kejebak hujan"

Setelah dipikir-pikir. Kata 'hampir' ternyata mengandung makna yang dalam. Ia menunjukkan sifat dasar manusia: Lemah.

Kata hampir memberi kejelasan bahwa... manusia tidak punya kekuatan apa-apa atas apa yang terjadi pada dirinya.

Kalau memang takdirnya kalah, ya kalah.
Kalau memang takdir bukan jodoh, ya batal nikah.

Kalau Allah berkehendak agar seseorang terserempet, ya terserempet.
Kalau selamat, ya selamat.

Sebegitu besarnya bencana tsunami di Selat Sunda kemarin.
Setelah tenggelam dan terombang-ambing dalam air. Kalau Allah menakdirkan selamat ya selamat. Kalau Allah menakdirkan mati ya mati.

Segala hal yang terjadi di muka bumi ini. Yang menimpa kita sebagai manusia. Yang menimpa makhluk-makhluk-Nya. Terjadi atas izin-Nya, atas keridhoan-Nya.

Kalau Allah ridho, segala sesuatu yang asalnya tidak mungkin, bisa berubah. Yang asalnya mungkin, menjadi tidak mungkin.

Pemilihan Presiden Amerika kemarin. Menggegerkan banyak orang, karena menyangka Trump tidak mungkin duduk di kursi kepresidenan. Manusia bisa  saja mengakatakan "Clincton hampir jadi pemenangnya." Tapi, kalau Allah sudah menggariskan, apa yang tidak mungkin?


Kompilasi video mengenai ke-'hampir'-an dan ketidakmungkinan:




Lantas apa yang membuat kita sebagai manusia pantas untuk membanggakan diri? Padahal skenario yang dialami terjadi atas izin-Nya. Apa yang harus disombongkan? Ketika kejadian-kejadian yang menimpa hidup tidak ada satu pun yang tidak dapat terjadi selain dengan izin-Nya? 

Keep On Doing Good

Siang itu, rintik hujan kian mengecil. Akhir-akhir ini rasanya hujan memang terus-menerus hadir. Aku yang sedang terduduk sembari menalikan tali-sepatu tiba-tiba disapa oleh suara lembut yang mengalihkan fokusku.

“Teteh, aku mau ngasih sesuatu buat teteh” Seorang santri menghampiriku. Sepertinya, ia baru saja kembali dari kamarnya di asrama, hal ini aku simpulkan setelah melihatnya yang masih memakai baju seragam pramuka namun sudah tidak lagi memakai sepatu sekolah melainkan sandal.

“Hm? Apa?” Tanyaku penasaran.

Hari itu, kami baru saja mengadakan sebuah acara perpisahan. Tidak terasa satu semester berlalu begitu cepat. Hampir di setiap sabtu aku datang ke pondok pesantren Al-Furqan-Lembang untuk bertemu mereka. Karena jadwal mengajar di semester ini sudah sampai di akhir, serta komunitas sosial yang aku ikuti (Garis Tawa) akan berganti kepengurusan, maka diadakanlah acara perpisahan bersama santriwan-santriwati, pengurus Garis Tawa, dan relawan pengajar.

“Tangan teteh nya sini” Jawabnya membukakan telapak tangannya ke arahku, yang segera kusambut.

“Tapi.. aku malu teh..” Raut muka-nya berubah seketika. Ada keraguan yang kubaca.

“Malu kenapa?”

“Teteh jangan liat ya” ia menggenggam erat sesuatu dibalik khimar panjangnya. Aku sebelumnya mengira ia akan memberikan sepucuk surat karena beberapa santri sebelumnya memberikan para pengurus dan relawan dari Garis Tawa surat perpisahan. Namun ketika kuperhatikan dengan baik, rasanya ia bukan memberikan surat. Surat jika digenggam sebegitu kerasnya akan menjadi tidak berbentuk dan lusuh.

“Gak apa-apa kok. Emang kenapa?”

“Aku pengen ngasih teteh sesuatu. Tapi yang aku punya cuma ini”

Aku terdiam sebentar. De Javu, rasanya.

“Gak apa-apa, makasih ya”

“Tapi malu teh..”

“Mau langsung taro di tas teteh aja?”

“Iya boleh teh sini!” jawabnya cepat sembari menyambut tas yang kuberikan.

-

Sesampainya di kosan, aku baru membuka isi tas. Lantas melihat apa yang ia beri. Wallah, ia berhasil membuatku terenyuh dan merenung panjang. Sekadar info pondok pesantren tempat kami mengajar bukan seperti pondok pesantren di perkotaan. Beberapa dari mereka yatim piatu, atau salah satunya. Dan mereka bukan dari golongan masyarakat yang bisa dikata ‘mampu’.

“Aku pengen ngasih teteh sesuatu. Tapi yang aku punya cuma ini”

She has given what she thought best to me. Ya Allah.. T_T

Teringat beberapa bulan yang lalu, aku mempertanyakan, kenapa ketika aku memberikan yang terbaik untuk seseorang, seringkali seseorang itu justru mengecewakan atau bahkan tidak menghargai nya sama sekali. Hal seperti ini mungkin bukan hanya aku yang mengalaminya.

Terkadang, ketika mendapatkan balasan yang tidak mengenakan di hati, sebagai manusia aku menyerah untuk kembali melakukan kebaikan padanya. Seakan kapok. Kok gak tau diri ya... Padahal kan... Ah dia mah gitu males ah..

Cara pandang ini, jelas salah.

Dan kejadian hari itu mengubah sudut pandangku.

“Ketika kamu melakukan kebaikan, kebaikan itu akan kembali kepadamu”

Aku selalu berpikir kebaikan balasan yang kita beri akan bersifat timbal-balik, dari orang yang diberi kebaikan, namun nyatanya tidak. 

Darinya, aku dapat memetik satu pelajaran: Ikhlas.

Tugas kita sebagai manusia hanyalah melakukan yang terbaik. Meski balasan yang didapat tidak sesuai, hal itu tidak lantas membuat kebaikan yang kita lakukan menjadi sia-sia. Semesta tidak pernah tidur. Ketika kita melakukan yang terbaik, semesta akan memberikan yang terbaik pula.

Ketika kita memberi dengan sepenuh hati. Maka akan ada orang yang memberi kepada kita dengan sepenuh hati pula. Mungkin bukan dia yang kita berikan yang terbaik yang akan membalas, tapi orang lain. Mungkin balasannya bukan versi terbaik bagi kita, tapi ia tetap melakukan yang terbaik untuk kita.


Cr: pict


Keep on doing good, everyone. Keep on doing Good, shintia. Without expecting anything. Keep doing. Keep going. Allah will take care of you.

Teknologi dan Kontemplasi Aib

Dengan cepat aku melangkahkan kaki diantara anak tangga darurat menuju kelas yang berada di lantai 6. Mampus, hari ini telat! Entah kenapa, beberapa hari ke belakang aku seringkali merasakan sakit di bagian pundak. Dan tidur-tiduran adalah obat yang -rasanya- sangat mujarab. Tapi, aku tidak sadar diri terlalu lama dalam posisi seperti itu. Mager, beginilah jadinya....


Kelas hari jum’at pagi di semester lima ini selalu menjadi kelas yang kutunggu-tunggu. Yap. Mata kuliah komunikasi online. Walaupun telat, aku lebih memilih masuk kelas dibanding bolos. Sayang kalau terlewatkan. Materi-materi yang relatable dengan kehidupan sehari-hari, tapi jarang orang yang mengetahuinya. Berasa benar-benar dididik jadi manusia cerdas bermedia. Alhamdulillah for this chance.. Givin’ you a big thanks, Pak Deni! ;’)


Ngos-ngosan, pintu kelas kubuka pelan-pelan. Ah, sudah ada dosen. Beliau sedang duduk sembari memainkan hp nya.

“Pak..” ucapku ramah sembari menganggukkan kepala.

Beliau membalas anggukan kepalaku dengan menganggukan kepala nya juga. Kulihat jajaran bangku mahasiswa, ternyata masih banyak yang belum datang. 

Tidak selang berapa lama, beberapa temanku datang, dan perkuliahan dimulai. 

Hari ini, kami belajar tentang mengidentifikasi dan memvalidasi konten dan foto yang seringkali dipelintir oleh banyak masyarakat maya. Selain itu, yang paling seru, kami belajar untuk mempreteli akun sosial media orang-orang. Bahasa ringannya, nge-kepo-in hal-hal yang tidak terungkap di permukaan. Bahasa kasarnya, merusak privasi orang lain dan menemukan aibnya!


“Kalian jangan pakai ilmu ini buat jadi pencipta hoax atau yang jelek-jelek ya. Saya ngajarin ini buat kalian pake di kebaikan.” Ujar Pak Deni di sela-sela perkuliahan.

Satu kata yang ingin ku deskripsikan setelah kelas hari ini adalah: Ngeri.

Aib seseorang ternyata semudah itu untuk di buka.

Beberapa kali aku hanya bisa geleng-geleng saat mempelajarinya. Kalau Allah berkehendak, Kun Fayakun! Dicenderungkan hati seseorang untuk kepo tentang diri. Terbukalah semua.

Preferensi politik. Grup yang diikuti. Foto yang disukai. Foto yang diminati. Jejak komentar yang tidak diketahui orang lain. Hubungan dengan orang lain. Dan sebagainya, mudah sekali... 


Sosial media diibaratkan sebagai ruang dengan sekat yang terbuat dari kaca dan sebagai pengguna kita berada didalam sekat itu. Dimana setiap orang akan memiliki ruang masing-masing, tidak berdesakkan, dan itu membuat kita nyaman. Tapi orang lain akan dengan bebas melihat apa yang kita lakukan.


Karena ini aku menjadi bertanya-tanya. 
Berapa banyak orang yang membuka aibnya sendiri di sosial media? 
Berapa banyak orang yang terbuka aibnya melalui sosial media?


Kengerian terbukanya aib ini baru aku lihat di sosial media. Di dunia nyata, betapa lebih banyak aib yang tertutupi dan bagaimana kiranya jika aib itu dibuka?

Tiba-tiba teringat aib-aib diri. Ehm. Banyak-sekali. Mungkin, beberapa orang disekitarku menganggap aku baik. Bisa jadi, salah satu nya kamu yang sedang membaca tulisan ini. Tapi sebenarnya, jujur saja, bukan merendahkan diri, aku tidak sebaik yang kamu kira. Hanya Allah saja yang hebat sekali dalam menutup aib ku. 

Kalau saja, sekarang, aib-aib ku terbuka. Aku tidak yakin, kamu akan tetap melanjutkan membaca tulisan ku ini.

Ah, kamu bisa jadi ilfil. Atau bisa jadi, untuk mengingatku saja rasanya jijik.


"Dan sungguh, Tuhanmu benar-benar memiliki karunia (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya" - An-Naml:73


“Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat” – An-Naml:22






Tersadar, masih saja banyak kenikmatan dari Allah yang jarang sekali aku ingat, salah satunya yaitu tertutupnya aib. Tertutupnya isi hati yang seringkali kotor. Tertutupnya diri dari cerminan dosa-dosa yang telah diperbuat. 


Bodohnya, aku, sebagai manusia yang hina ini seringkali merasa tinggi, seringkali merasa sombong atau bahkan ujub. Padahal, mudah, tinggal dibuka saja aib yang selama ini Allah tutupi.. Aku mungkin sudah mabuk kepayang. 


Tidak terbayangkan. Kelak, aib-aib ini mau tidak-mau akan terbuka.. saat manusia, dibangkitkan dari kubur. Kelak, manusia akan melihat bentuk sebenarnya dari dirinya bukan pemberian. Lantas, bagaimana rupamu kelak, Sin? Bagaimana baumu? 


Dan kamu, masih banyak tidak bersyukur atas nikmat yang Allah beri sampai sekarang. Kamu masih sering lupa! Kamu, masih saja melihat aib orang lain besar dibandingkan dengan dirimu sendiri. Sin, tidak malukah kamu dengan Rabbmu?


Betapa baik Allah memberikan penampilan fisik yang tetap, tidak berubah setiap melakukan dosa. Tidak berbau karena kemunafikan.

Betapa baik Allah perubahan penampilan fisik yang normal hanyalah bertambah dewasa dan bertambah tua. Dan masih saja kamu protes atas fisik yang Allah beri. Padahal, Allah sudah menciptakan kamu dengan sebaik-baiknya.


Pikiran ku semakin melayang. Beberapa minggu yang lalu, aku mendapatkan tugas untuk menulis straight news. Dalam proses mengerjakannya, aku memutuskan untuk pergi ke pengadilan umum.

Hari itu, adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pengadilan dan aku datang sendirian. Sehingga aku mengikuti persidangan dengan khusyuk, tanpa adanya teman untuk mengobrol. Aku hanya fokus mendengarkan persidangan.


Saat sidang, satu-persatu rentetan peristiwa yang mesti dipertanggungjawabkan dibacakan. Aib-aib terbuka di depan banyak orang. Bukan saja di depan orang terdekat, tapi juga orang lain yang tidak dikenal sama sekali (banyak juga mahasiwa yang datang ke persidangan untuk belajar).

Sang tersangka hanya bisa menjawab, mengiyakan, sekali-sekali tertunduk, lesu. Ada pula, tersangka yang mengelak akan rentetan peristiwa yang dibacakan, tidak terima, merasa dibohongi. Yang mana kebenarannya? Banyak yang sulit terungkap sehingga sidang harus dipending, dan dilanjutkan dalam waktu yang lain. Kelak, manusia tidak dapat berbohong. Setiap bagian tubuh yang menjawabnya. 

Bagaimanakah kiranya aku di pengadilan Allah nanti?

Rangkaian peristiwa tertulis dengan sangat rapi, semuanya terekam, dalam persidangan yang seadil-adilnya. 

Satu pertanyaan dalam kubur saja, aku kian bertanya-tanya. “Man Robbuka?”, Allah... dapatkan aku menjawab dengan menyebut namaMu?

Ketika waktu pertanggungjawaban itu datang, apa yang akan aku jawab? 

Ketika waktu pertanggungjawaban itu menghampiri, kemanakah aku akan berlabuh dengan segala amalku?

20 Tahun: Sebuah Pembuka - Dipaksa Masuk Proses Pendewasaan


Sebuah senyum dari wajah tidak asing kulihat dalam sebuah foto di timeline instagram. Dari caption, kusimpulkan sepertinya hari itu merupakan hari ulang tahun dari kakak teman masa kecilku yang ke 20. Aku yang waktu itu baru saja akan menginjak bangku SMA (15 tahun) berhenti sejenak memandangi raut wajahnya dalam foto. Menanyakan pada diri, bagaimana tampaknya raut wajahku ketika menginjak umur 20 tahun nanti? Akan menjadi seberapa tinggi tubuhku? Apa aku akan menjadi seorang mahasiswi? Dimana? Apa jurusan yang kupilih?


-

cr:acekntaufikhidayat

Sekilas kenangan masa lalu tiba-tiba datang, pada diri yang sudah berumur 20 tahun. Dulu, rasanya aku sangat menunggu-nunggu saat dimana aku akan tampak dewasa. Orang dewasa itu keren! Dasar shin, kamu korban tayangan tv :’).

Meski bisa dibilang begitu, aku menulis ini bukan karena ingin mengeluhkan apa yang terjadi di kehidupanku sekarang (yang sedikit kontras dengan tayangan tv) dengan kalimat receh seperti: “Hidup itu gak seindah FTV” atau “Kuliah di FTV itu enak, main melulu. Kenyataannya? Hadeuh”.
Aku justru bosan mendengar keluhan itu. Walaupun hanya bentuk bercanda. Rasanya, banya orang yang menggunakan jokes itu -secara tidak sadar- menjadikan tayangan tv seperti FTV, atau tayangan apapun itu menjadi ‘standar’ keindahan dan kebahagiaan hidup: cinta mulus, duit lancar, dan main-main tanpa masalah. Yah, siapa yang tidak menginginkannya?

Tapi hidup tidak berjalan seperti itu. Maka kebanyakan orang justru malah muak dengan tayangan tv yang anehnya dianggap ‘indah’ (Padahal pantas skenarionya sederhana, karena ciptaan manusia yang mengejar rating) dan malah menganggap hidup milik sendiri tidak indah (padahal Tuhan yang Maha Tahu definisi dari indah, karena Dia menciptakan skenario hidup).

Jika keindahan hanya berarti hidup dengan bunga-bunga tanpa masalah dan beban seperti FTV.  Lantas apa bedanya dunia dengan surga? Oh, Lalu omong-omong jika ‘enak’ dalam menginjak umur yang sudah masuk kepala dua ini masih dilihat sebagai main melulu dan belajar dikategorikan sebagai sesuatu yang ‘tidak enak’, lantas dimana letak keindahan dari kebodohan karena tidak belajar?

-


Kini, aku bebas memandangi raut wajahku sendiri didepan kaca. Raut wajah yang kupertanyakan akan menjadi seperti apa sudah terjawab, tinggi badanku, juga soal perkuliahan. Dan semua itu terjawab melalui waktu. 

Tapi waktu menjawab yang kunanti dengan tidak bertanggungjawab. Ia hanya menyeretku tanpa mengajariku untuk menjadi dewasa seperti bagaimana aku tampak. Ia tidak mengajariku jawaban-jawaban atas segala persoalan kehidupan. 

Sharing dengan teman-teman seumuran, nampaknya menyadarkanku bahwa diumur ini, everybody is begin to face their own serious problems. Beberapa merasa diseret dalam proses pendewasaan dan beberapa belum. Beberapa dihentak dengan masalah yang ekstrim: perceraian orangtua, minimnya keuangan, mengalami gangguan kesehatan mental, ditinggal gebetan yang disukai 8 tahun menikah, pacaran 6 tahun yang berujung berbeda visi, dan lainnya. Meski nampak baik-baik saja. Kita sebagai manusia tidak pernah tahu, benang kusut apa yang ada dalam kepalanya.

Dengan persoalan-persoalan yang mampir pada diri. Kali ini aku ingin menulis konten blog dalam bentuk lain. Walau seperti biasanya aku akan menceritakan mengenai diri, kini aku ingin menulis hasil kontemplasi dari keruwetan semenjak berganti umur menjadi kepala dua.

Aku kian bertanya soal hakikat kehidupan, yang mungkin akan terus kupertanyakan sampai mati. Beberapa aku temukan jawaban yang cocok terutama untuk diriku sendiri. Yang kuharap beberapa pembaca akan juga terjawab pertanyaannya.  Sebuah kontemplasi hidup, versiku: 20 tahun.


-




List Judul (akan berupa link jika available)

2. Membenci diri sendiri
3. Menguras Energi
4. Tentang Kebahagiaan
5. Sok Tahu
6. Teman dari Tuhan
7. (Merasa) tidak sombong
8. Gertakan
9. No Pain No Gain
10. Bodo Amat
11. Berhenti Menulis
12. Emotional Independent
13. Persepsi Hidup
14. Penantian
15. Toxic Circle
17. Mencintai Kehilangan
18. Belajar Darimu

Mengenal Homoseksual Lebih Dalam Melalui Persepsi Ilmu Psikologi

cr: evolverinc

Hidup sebagai seorang LGBT di Indonesia sering berarti hidup di dalam ketidaknyamanan. Berdasarkan laporan yang dibuat oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) masyarakat dalam seri monitor dan dokumentasi 2018 yang berjudul Bahaya Akut Persekusi LGBT tercatat LGBT seringkali dibedakan dalam hak-hak yang seharusnya didapatkan sebagai seorang manusia. Mereka yang cenderung coming out atas seksualitasnya, dalam fase hidupnya mengalami persekusi hingga pembunuhan. Hal ini membuat banyak LGBT mengalami depresi akibat tidak bisa melela (mengungkapkan jati dirinya). Bahkan sebuah studi yang diterbitkan jurnal ilmiah JAMA Pediatrics mengungkapkan remaja LGBT hampir enam kali lebih mungkin melakukan percobaan bunuh diri.

Tingginya sentimen publik dan gencarnya penolakan atas LGBT dengan mengeluarkan gerakan dan berdemo untuk memperkecil jumlah LGBT justru tidak relevan dengan realitas pertumbuhan komunitas ini meski banyak dari mereka yang mengalami tekanan hingga depresi. Di Cianjur Komisi Penanggulangan Aids (KPA) mencatat jumlah gay atau lelaki suka lelaki (LSL) terus meningkat, hingga pertengahan tahun 2017 mencapai 2000 orang. Pertumbuhan ini cukup tinggi karena ditahun sebelumnya tercatat gay di Cianjur berdasarkan data jumlahnya 1.030 orang. Data-data tersebut masih dapat dipertanyakan karena diperkirakan masih banyak yang menyembunyikan diri. Beberapa waktu yang lalu juga, terungkap Grup Gay Pelajar SMP Garut di Facebook, yang menunjukkan meningkatnya jumlah LGBT. 

Mif Baihaqi M.Si, Dosen Prodi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menerangkan ada perbedaan persepsi diantara masyarakat dan komunitas LGBT yang menyebabkan tidak adanya titik temu diantara keduanya. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai apa itu LGBT dari aspek keilmuan sehingga pendekatan yang dilakukan tidak menghasilkan apa yang diinginkan oleh masyarakat.
  



Apa LGBT itu penyakit?
Kalau dilihat dari kacamata psikologi, LGBT itu bukan penyakit. LGBT itu sebenarnya merupakan salah satu bentuk orientasi seksual. Orientasi itu artinya arah, biasanya berawal dari rasa kagum. Kalau seseorang sering berjalan dengan temannya, secara naluriah lama-lama akan ada yang dikagumi. Entah bentuk alis, cara bicara, ataupun kebiasaan. Dan itu bisa terjadi ke jenis kelamin apapun. Rasa kagum itu seperti ada hal yang membuat tertarik dari diri seseorang. Ungkapan-ungkapan seperti: “alis kamu bagus”, “rambut kamu fresh, potong di salon mana?” sebetulnya sudah menunjukkan rasa kagum. 


Bagaimana rasa kagum tersebut bisa melebihi rasa kagum kepada lawan jenis?
Tergantung tingkat keintiman diantara keduanya. Jika sering bertemu, bercerita, kebersamaan tersebut akan menimbulkan rasa nyaman dan kecocokan. Saking besar intensitasnya, lama-lama akan melupakan rasa kagum ke lawan jenis dan akhirnya masuk ke keintiman. Maka dari itu, harus dibedakan orientasi kedekatan dan orientasi seksual.  Orientasi seksual itu bagaimana kita menyukai seseorang secara seksual. Tapi seksual disini bukan berarti berhubungan badan, perilaku seksual bisa diartikan lebih luas dari itu.


Apa saja yang bisa dikategorikan sebagai perilaku seksual?
Ada tujuh perilaku yang bisa dikategorikan sebagai perilaku seksual. Dalam keseharian, bergandengan tangan sebetulnya sudah masuk ke perilaku seksual tapi kita umumnya memandang itu sebagai hal biasa, hanya sebatas interaksi. Begitu juga dengan memeluk yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kepada teman maupun pasangan. Sampai yang biasanya dilakukan dengan orang-orang yang memang intim seperti mencium pipi dan bibir, mencium kening, meraba, berhubungan badan tanpa penetrasi, sampai berhubungan badan dengan penetrasi. Jadi ada tahap, tapi kebanyakan orang melihat perilaku seksual hanya di hubungan yang terakhir. Padahal dalam hubungan dua orang belum tentu sampai yang terakhir.


Lantas semua orang punya kemungkinan yang sama dalam menyukai sesama jenis?
Iya, karena semua orang punya kemungkinan yang sama untuk berdekatan, cocok, saling berbagi persoalan, saling percaya, hingga yang intim (dalam interaksi). Betapa banyak yang seperti itu dan hal ini wajar. Namun, orang-orang yang sampai ke intim tentunya akan semakin pribadi hubungannya. Sampai pada ke hubungan tersebut, baru ada label: L-lesbian, G-gay, dan B-biseksual. Biseksual sendiri memiliki ketertarikan kepada dua gender, yang mana biasanya bisa dikatakan sebagai biseksual bila ia telah melakukan hubungan seks dengan keduanya.


Apakah homoseksual bisa kembali menjadi heteroseksual?
Tergantung penyebabnya, ada beberapa penyebab seseorang menjadi homoseksual: Pertama, karena unsur genetik dan hormon yang dominan, sehingga sangat susah untuk ditolak. Perempuan yang hormon kelaki-lakiannya banyak akan bertingkah seperti laki-laki, dan merepresentasikan dirinya seperti laki-laki. Kita mengenalnya dengan sebutan tomboy. Laki-laki yang kurang hormon kelaki-lakiannya dikenal menjadi laki-laki yang kemayu, bertingkah kewanitaan, biasanya ia kurang terlihat kegagahannya. Kalau penyebab berasal dari genetik susah untuk menjadi heteroseksual. Karena mereka sendiri tidak menginginkannya, bahkan sebenarnya ada perang-batin dalam dirinya. Masyarakat sering menyalah-artikan hal ini, tidak semua penyebab karena pergaulan, banyak dari homoseksual yang ingin menjadi heteroseksual. 
Kedua, akibat lingkungan biasanya terpengaruh oleh teman. Ketika seseorang melihat temannya lesbian dan tidak bermasalah, bisa jadi ia akan meniru perilaku tersebut. Homoseksual karena pengaruh lingkungan bisa kembali menjadi heteroseksual. Ketika ia berpindah dari lingkungan tersebut dan kembali beradaptasi. 
Ketiga, karena trend atau mode. Ketika ia berada pada lingkungan komunitas homoseksual, semisal semuanya lesbian sedangkan dia tidak. Dia akan merasa bukan hidup di zaman yang seharusnya, karena sudah masa nya untuk menjadi homoseksual. Sama seperti trend baju, trend kerudung, yang seperti ini disebut terbawa trend pergaulan. Bisa diubah dengan merubah cara pikirnya atau trend yang berubah bisa merubah dirinya juga.


Apa sikap tomboy dan kemayu bukan lifestyle?
Sebenarnya, hal ini bukan sekedar gaya hidup yang dipilih, melainkan ada hormon yang mendorong dibelakangnya. Dalam tubuh manusia, ada hormon yang membuat otot-otot yang membuat seseorang terlihat gagah, ada hormon yang membuat seseorang bertindak ketakutan atau cemas, ada hormon yang membuat memiliki ketertarikan seksual dan lainnya. Ketika hormon seimbang maka ia akan menjadi laki-laki atau perempuan biasa yang umumnya kita lihat.

cr: liputan6.com



Kebanyakan masyarakat Indonesia, kontra dengan kehadiran LGBT. Bahkan beberapa kelompok/ormas seringkali berdemo untuk menolak LGBT, apakah ini langkah yang tepat untuk menghadapi isu ini?
Sulit untuk menilai ini. Dalam sudut pandang psikologi, ketika kita berdemo pada LGBT. Justru komunitas LGBT sendiri tidak merasa melakukan kesalahan karena hanya menyalurkan dorongan diri melalui kedekatan. Mereka merasa nyaman dengan dirinya; bertemu, menonton, makan bersama. Jikapun masyarakat berteriak-teriak untuk memisahkan mereka. Dari diri mereka sendiri mempertanyakan kesalahan yang mereka lakukan. Karena mereka tidak mengancam publik seperti tidak merusak tempat peribadatan, mencuri, ataupun membuat keonaran. Tapi berbeda dengan sudut pandang agama. Hubungan keintiman yang normal adalah heteroseksual, laki-laki dengan perempuan, hubungan diluar itu (homoseksual) dosa. Jadi ketika masyarakat berteriak-teriak bisa dimengerti. Namun, ada ketidak sejalanan antara keduanya, tidak ada titik temu karena aspek yang mendominasi seseorang bisa berbeda. Ketika masyarakat memandang dari sudut pandang agama berdemo, hal ini justru tidak berdampak kepada komunitas LGBT karena secara psikologi tidak merasa bersalah.


Apa sikap kontra seperti itu dapat mengakibatkan sikap agresif dari komunitas LGBT? 
Iya, karena yang pertama mereka merasa sudah melakukan hal yang benar. Mereka berpikir hanya hidup secara naturalis. Kedua, hak asasi. Dua orang berteman dekat, makan bersama, nonton bersama, dan sebagainya. Secara psikologis, lalu dosen sebagai orang ketiga ingin memisahkan mereka berdua, hal ini tidak bisa. Lagipula, tahap keintiman (dalam interaksi) seseorang tidak terlihat secara kasat mata. Kita bisa melihat homoseksual hanya sebatas teman atau hanya dengan mengira-ngira, padahal belum tentu mereka sama-sama memiliki orientasi seksual yang sama, bisa jadi mereka hanya memiliki orientasi kedekatan. 


Apa mereka yang tidak berani coming out atas orientasi seksualnya karena lingkungan yang tidak mendukung akan merasakan tekanan dan berakhir depresi?
Depresi itu terjadi karena tumpukan stres-stres kecil untuk memenuhi kebutuhan. Stres kecil bukan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tanpa terasa. Misalnya, jika seseorang hanya memiliki uang dengan nominal Rp.20.000, uang tersebut harus dipakai untuk ongkos pulang dan makan, namun tiba-tiba ada keharusan untuk fotocopy tugas dadakan hari itu juga. Dia harus memilih merelakan salah satu karena uangnya tidak cukup. Hal seperti ini bisa disebut stres kecil dan semua orang mengalaminya. Ketika seseorang tertekan karena banyaknya stres kecil ini bisa mengakibatkan depresi. Seseorang homoseksual akan mengidentifikasi perbedaan yang ada dalam dirinya seringkali merasakan keanehan dan membutuhkan kenyamanan, lantas ada keinginan untuk bercerita dengan seseorang. Dengan tumpukan-tumpukan stres yang dialaminya ditambah tekanan kebutuhan kenyamanan bisa jadi menyebabkannya menjadi depresi. 


Berdasarkan data dari Komisi Penanggulangan Aids (KPA) di Cianjur jumlah gay atau lelaki suka lelaki (LSL) terus meningkat dari 1.030 di tahun 2016 hingga mencapai 2000 orang di pertengahan tahun 2017. Beberapa waktu yang lalu, viral pemberitaan adanya Grup gay pelajar di Garut. Jumlah Homoseksual terus meningkat, kenapa hal ini bisa terjadi?
Berangkat dari dorongan secara seksual yang dirasakan manusia saat menginjak remaja. Pertama, banyak yang ingin berpacaran namun tidak memiliki keberanian. Bisa jadi karena ketampanan, kekayaan, kepintaran yang menyebabkan seseorang tidak berani mengutarakan dorongan nya ini, ada pula yang minder karena takut diolok-olok. Jadi jalan pintas untuk mengatasi hal ini adalah dengan berkumpul bersama laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Dengan cara ini dorongannya tersalurkan, tanpa merasa minder ataupun olok-olok.
Yang kedua, ia mengetahui konsep pacaran didalamnya terdapat dorongan menggebu-gebu. Hubungan diluar nikah, ada resiko besar yaitu hamil. Masalah akan ditambah lagi dengan keluarga pasangan, keluarga sendiri dan lainnya. Mereka yang menginjak usia remaja, kalau sampai memiliki anak, mesti dibesarkan. Namun di sisi lain, umur sendiri masih terlalu muda, hal ini menyebabkan kebingungan. Hal seperti ini muncul dalam pemikiran kelompok-kelompok tersebut. Ketika ingin menyalurkan dorongan tapi tidak berani menanggung resiko. Salah satu jalan keluarnya yaitu dengan berhubungan sesama jenis.
Yang ketiga, adanya media sosial. Kalau dulu, ingin mengetahui sesuatu selalu berjenjang ada tahapan-tahapannya. A diketahui setelah lulus SD, B saat SMP, dan C setelah SMA. Namun sekarang semuanya terpampang didepan mata. Tanpa orangtua tahu, tanpa guru tahu. Dan  pemikiran mereka yang belum kritis, belum tahu resiko mengonsumsi konten media sosial begitu saja. Yang menyebabkan mereka meniru begitu saja apa yang dilihatnya.


cr: nadia_bormotova/iStock



Apa dorongan yang biasa ada pada lawan jenis bisa disalurkan begitu saja kepada sesama jenis?
Seorang laki-laki bertemu dengan perempuan cantik dan mengakui kecantikannya sebetulnya hal itu sudah bisa dibilang dorongan. Dan walaupun seorang laki-laki tidak bertemu dengan perempuan, dorongan hasrat itu setiap hari ada. Tergantung ingin menyalurkan dorongan tersebut atau tidak.


Apa perilaku yang berawal dari dorongan seperti itu bisa menjadi homoseksual berkelanjutan?
Ada orang-orang yang karena rekam jejak di masa lalu, ketika kecil berhubungan, dicabuli, dan sudah merasa adiktif bisa berkelanjutan menjadi homoseksual. Tapi bisa berbeda juga ketika dorongan seperti kasus pelajar SMP di Garut karena masih mencari jati diri, meniru-niru, istilahnya angin-anginan.


Bagaimana harus menyikapi isu tersebut?
Sebaiknya KOMINFO dengan tegas memblokir situs-situs porno, situs film yang mengandung unsur-unsur yang bisa memunculkan dorongan sedari awal internet menjamur. Meski telat, hal ini tetap harus dilakukan. Dibantu dengan diawasinya remaja oleh guru dan orangtua, pemberian penyuluhan terus-menerus, dan dikawalnya oleh agama, saya kira tidak akan memunculkan jumlah homoseksual dengan jumlah yang besar. Karena banyak yang belajar untuk menjadi homoseksual dari media sosial dan lingkungan dibanding homoseksual yang genetik. Dan akan sulit untuk kembali ketika sudah kecanduan bertahun-tahun. Homoseksual dengan motif trend seperti ini yang harus dicegah sedini mungkin. Namun, bila berbicara mengenai homoseksual genetik memang sampai sekarang penanganannya masih sulit, meski bukan berarti tidak mungkin ia menjadi heteroseksual.