Bagian Diri



Pernah tidak bertanya pada diri sendiri tentang hal apa yang membuat diri kita merasa tidak hidup kalau sehari saja tanpa hal tersebut? Hal-hal lain selain kebutuhan dasar sebagai manusia seperti makan, minum, olahraga dan lainnya. Kebutuhan akan sesuatu yang tidak semua orang sama kebutuhannya.

Di hari karantina ke sekian pandemi covid-19 ini.
Aku menyadari ada satu kegiatan yang membuatku hidup: Menulis dengan jari sendiri. Aku tidak bisa hidup tanpa buku catatan.

Sebenarnya hal ini sudah ku sadari di bulan Juli tahun lalu tapi diingatkan lagi di karantina ini.

Saat mengontrak mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kala itu, aku hanya berbekal baju dan buku untuk dibaca dalam kebutuhan satu bulan. Di minggu pertama mengikuti KKN merupakan waktu-waktu adaptasi dengan lingkungan dan teman baru. Aku tidak merasakan ada keanehan dalam diri yang tidak menulis. Masuk minggu ke-dua, aku tiba-tiba merasa hampa. Aku merasa malas menjalani hari. Aku bertanya-tanya apa yang hilang dalam diri tapi tidak kutemukan. Sampai akhirnya,

"Ada yang mau nitip? Aku mau ke alfamart." Tawar seorang teman satu hari.

Mendengar tawaran itu, aku lantas memintanya membeli buku catatan kecil beserta pulpen. Aku tidak tahu kenapa, yang terpikirkan di otakku adalah aku ingin menulis.

Uniknya, setelah menulis. Rasa hampa itu hilang, lebaynya, aku merasa hidup kembali.
Hal ini juga terjadi beberapa waktu yg lalu.
Ceritanya, aku mencoba melepaskan diri dari aktivitas menulis. Mumpung sedang dalam karantina. Lagipula, buku catatanku tertinggal di kosan, sedangkan aku sudah di rumah.

Hasilnya, berantakan. Hidup jadi tidak terarah. Meski sudah meniatkan dalam hati, kegiatan-kegiatan yang direncanakan tidak terlaksana kalau tidak ditulis di buku catatan. Aku sudah mencoba menulis di catatan yang ada di hp, bahkan saling berkoordinasi mengirimkan list kegiatan dengan seorang teman. Tapi ternyata tidak berhasil. Selain itu, isi otak juga terasa penuh, karena tidak dicurahkan lewat tulisan (aku biasanya menumpahkan apa isi hatiku dengan menulis).

Sebenarnya ketika aku menyebut menulis, bukan berarti aku menulis cerpen atau hal-hal yang 'wah'.
Aku menulis apapun: curhat, kontemplasi, rencana kegiatan, ide, bahkan dulu waktu sekolah selalu menulis rangkuman, kalau tidak, biasanya aku menulis ulang apa yang dipelajari di hari itu. Kalau tidak menulis, aku tidak akan paham. Kalau menulis, aku akan lebih paham.

Aku baru menyadari ternyata sudah sebegitu dalamnya bersandar dalam aktivitas menulis. Aku mulai rajin menulis sedari SD, menulis cerpen dan curhatan dengan awalan seperti anak perempuan pada umumnya "dear diary". Hanya saja dulu, aku tidak seberani ini untuk mempublish beberapa tulisanku. 

Jangan salah sangka. Aku tidak pintar nulis. Well, aku harap bukan tidak tapi belum.
Hanya, dengan melakukannya aku menjadi lebih terarah.

Tulisan yang ku buat sering sekali terdapat banyak salah tulis, banyak salah diksi, dsb.
Banyak sekali orang-orang di luar sana, yang bisa menulis lebih baik.

Sejujurnya, sekilas, sebelum menulis catatan ini aku terpikir "wah shin kamu sombong banget bilang gak bisa hidup tanpa menulis" hahaha. 
Rasanya malu, ada yg lebih pantas untuk berkata seperti itu. Orang-orang yang memang dikenal sebagai penulis. Yang biasa berbagi tulisannya.

Tapi, kini aku tahu, aku tidak perlu menjadi "siapa" dulu, untuk melakukan sesuatu.
Meski banyak di luar sana orang yang lebih pantas untuk mengatakannya, tapi ini juga fakta dari diriku sendiri. Bagian dari diriku yang baru kutemukan dalam usaha mengenal diri sendiri.

Karena pada akhirnya, aku tidak butuh orang lain menerima tulisanku, meski aku akan sangat bersyukur jika ia membaca bahkan menerimanya. Lebih dari itu, menulis membantuku untuk hidup. Ia menyembuhkanku. Ia menyemangatiku. Hanya itu.

Lantas, bagaimana denganmu? hal apa yang membuatmu menjadi hidup?

Perempuan

Perempuan suka pujian.

Perempuan suka dicintai.

Tapi hal itu yang membuat perempuan sering lupa, ia dilahirkan di dunia ini bukan untuk kesia-siaan.

Ia dilahirkan ke dunia untuk memilih perannya.

Menjadi fitnah.

Atau menjadi fitrah

Puisi-Puisi Choi, Jun:Eloknya Bumi Pertiwi

Oleh: Ayip Sepudin



Pukul empat sore, danau di pusat kota
mulai gelap oleh bayangan pohon
Sebelum matahari terbenam
pohon-pohon terlebih dulu menunjukkan
bayangan matahari
(Choi, Jun, “Tato di Udara”)

Penggambaran suasana yang detail akan suatu tempat berhasil ditulisakan oleh salah satu penyair ternama Korea masa kini, Choi, Jun. Dalam bukunya yang berjudul “Kumpulan Sajak Orang Suci, Pohon Kelapa” yang diterjemahkan oleh Kim Young Soo dan Nenden Lilis Aisyah ini berhasil menciptakan gambaran bumi pertiwi yang elok. Banyak penyair-penyair tanah air yang tidak menggunakan diksi seperti pisang, papaya, orang utan, bahkan nama-nama kota dalam setiap judul puisinya. Akan tetapi, bagi Choi, Jun diksi tersebut menjadi sangat indah jika dituangkan ke dalam puisi. Dalam 61 sajaknya ini, penyair sangat apik menceritakan dengan sangat detail peristiwa yang diamati serta dijalaninya selama lima tahun berada di Indonesia.

Buku kumpulan sajak Orang Suci, Pohon Kelapa ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2019 ini mempunyai sampul yang sejuk dipandang. Dengan dominasi warna putih sebagai warna utamanya ditambah nuansa daun berwarna hijau tua dan hijau muda menjadikan buku tersebut menjadi lebih elok jika berlama-lama dipandang. Burung disamping judul pada buku tersebut memberikan simbol bahwa cuitan yang ditulis oleh penyair tetang pengalaman selama berada di Indonesia semuanya tertuang di dalam buku tersebut.

Penyair kelahiran 1963  kota Jeongseon, Provinsi Gangwon, Korea ini banyak menyoroti alam Indonesia, baik flora dan fauna, aktivitas masyarakat, dan lain-lain. Berikut ini akan dipaparkan beberapa puisi Choi, Jun yang menggambarkan keelokan Bumi Pertiwi. Salah satunya adalah pada puisi berjudul Sketsa Terakhir Tentang Pisang. Puisi tersebut menggambarkan tentang ciri fisik pohon pisang beserta kehidupannya. Penyair memilih pohon pisang sebagai objek tulisannya mungkin dikarenakan di Negara asalnya (Korea) tidak ada pohon pisang. Oleh karena itu penyair dengan sangat rinci berhasil menuliskan sketsa tentang pisang. Seperti dalam kutipan berikut: 

Dia bukan pohon
Seumur hidup hanya mekar sekali
Dia adalah rumput tanpa tulang dan otot
Hidupnya tidak berulang
Saat angina bertiup, saat itu tubuhnya berguncang

Dalam penggalan puisi di atas terasa bahwa penyair kagum dan terpesona kepada pohon pisang. Beliau berimajinasi jika pohon pisang tersebut adalah orang yang jarang dipandang atau dikagumi banyak orang, akan tetapi mempunyai peran penting dalam kehidupan. 

Pohon pisang yang dianggap bukan pohon tersebut terkesan diremehkan karena tidak mempunyai batang kayu layaknya pohon pada umumnya. Dianggap lemah karena tak bertulang dan berotot, sehingga lebih menyerupai rumput daripada pohon. Akan tetapi, meski pohon pisang hidupnya tidak berulang dan hanya sekali setelah berbuah, bisa menghasilkan buah yang manis serta tunas yang banyak. Mati satu tumbuh seribu.

Selain pohon pisang, hal lain yang dituliskan oleh Choi, Jun yang hanya bisa beliau temui di Indonesia adalah Bali dan Borobudur, Keduanya berjudul Cara Bertamasya di Bali dengan Sedap dan Candi Borobudur. Sajak pertama menceritakan tentang kisah pertemuannya dengan bali. Banyak rencana yang sebenarnya tidak perlu repot-repot kita susun ketika hendak berlibur ke Bali, hanya cukup berimajinasi. Karena di Bali semua yang dibutuhkan ada, sekali pun baru pertama kali mengunjunginya. Penyair dengan sangat detail menggambarkan kehidupan dan kondisi alam di pulau Bali. Salah satunya adalah pada kutipan “tidak usah khawatir, orang-orang yang akan kau temui di jalan senasib denganmu, begitu turun dari pesawat, kau akan menemukan Denpasar, hotel, dan sewalah sepeda motor”.

Selain Bali, candi Borobudur juga termasuk dalam salah satu dari 61 sajak yang penyair tulis selama berada di Indonesia selama lima tahun (2000-2005). Puisi tersebut menceritakan tentang peristiwa yang dialami oleh patung Budha selama erupsi gunung merapi. Banyak kisah pilu dalam sejarah keberadaan candi Borobudur tersebut. Turis yang berkunjung hanya menyuarakan kegembiraannya karena berada di salah satu keajaiban dunia tanpa memperdulikan betapa ajaibnya patung Budha tersebut yang masih hidup meski tanpa memiliki kepala.

Sajak-sajak di atas pada umumnya merupakan sajak lirik, namun bukan hanya untuk mengungkapkan perasaan, tapi juga kritik yang memberi penyadaran kepada setiap aspek yang ada pada negeri ini. Seperti halnya keindahan Bali yang banyak diceritakan orang-orang kepada dunia, tetap saja Bali adalah Indonesia, dan tetap mempunyai kriminalitas, polisi, serta pegawainegeri yang suka korupsi. Kemudian tentang Candi Borobudur yang jika tidak bisa sama-sama kita jaga maka keagungannya lambat laun akan hilang, seperti mencoret-coret dinding candi, berswafoto pada candi yang sedang dalam tahap renovasi, atau yang sering dilakukan orang-orang pada umumnya yaitu membuang sampah sembrangan.

Buku puisi yang ditulis oleh Choi, Jun sangat membuka wawasan bagi seseorang yang gemar menulis. Bagaimana tidak, banyak puisi-puisi yang beliau tuliskan dengan  mencampurkan dua budaya yang berbeda Korea dan Indonesia. Konsistensi penyair dalam menulis ini yang patut untuk diapresiasi. Karena seperti penyair pada umumnya tidak mungkin membiarkan segala sesuatunya berlalu tanpa dituliskan, baik sebagai arsip, maupun pengingat. Maka sudah sewajarnya kita meniru konsistensi Choi, Jun ini. Seperti yang disamoaikan oleh Pramudya Ananta Toer:
“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari”.

Berhenti Menulis

Beberapa bulan yang lalu, aku sempat ingin berhenti menulis.

Tidak lagi menulis di blog, di wattpad, maupun di instagram. 

Rasanya malu sekali membayangkan tulisanku di baca orang lain melalui gadget nya. Rasanya sangat tidak pantas bagiku menumpahkan isi kepala yang kadang menjadi ujian bagiku: aku tidak sebaik yang kamu bayangkan dari tulisan-tulisanku.

Untuk beberapa orang, aku disanjung-sanjung, katanya betapa dewasanya cara berpikirku. Katanya, aku memiliki sudut pandang lain dalam melihat sebuah perkara.
Untuk sebagian orang lainnya, aku terlihat seperti orang yang hidup secara membosankan--terlalu serius. Katanya, tidak asyik jika berteman denganku.

"Kamu yakin mau terus nulis di social media? rawan lho. Nanti kalau ada yang gak suka kamu gimana?" tanya seorang teman, berkali-kali yang membuatku terus bertanya pada diriku sendiri. Siapa sih manusia di bumi ini yang ingin tidak disukai?


-
Suatu waktu, aku melihat ke sekelilingku. Banyak sekali orang-orang yang suka menulis, dan mereka menulis dengan baik. Tidak sepertiku yang hanya bisa sampai sini. 

Aku sempat berada di posisi di mana aku bertanya-tanya mengenai bagaimana pendapat mereka jika melihat tulisanku? 
Betapa 'sok' nya aku menulis di berbagai platform, bukan?

Mungkin di masa itu, aku sedang dalam proses mengenal diri. Aku tidak tahu arahku hingga aku lebih memperdulikan pendapat orang lain dibandingkan melangkahkan kaki ku.

-

Keinginan untuk berhenti itu, sempat semakin mantap. 
Ya. untuk apa aku menulis dan mempublish nya di internet.
jika aku menulis dan menyimpannya sendiri, sepertinya tidak ada salahnya. 

Dalam kebingungan itu. Handphone ku tiba-tiba bergetar.

"Shin, makasih ya udah nulis" tulis temanku di direct message instagram.
Aku terdiam ketika membacanya, kenapa harus berterimakasih? Bukannya aku yang harusnya berterimakasih karena dia sudah repot-repot mau membaca tulisanku yang sebegininya?

"Makasih ya Shin. jadi reminder. Boleh aku repost?" tulis teman yang lainnya. 
"Oh iyaa boleh, makasih kembali yaa" jawabku, kemudian kembali terdiam... 
Apa ini? Perasaan apa ini?

Hatiku menghangat. 
Aku ingin menulis lagi...

Pikiranku melayang, ke hari-hari di mana aku menulis secara diam-diam di platform tumblr. Waktu itu, kelas 1 SMA: Tidak apa-apa, tidak di baca oleh orang lain. Aku hanya ingin mengutarakan perasaan-perasaan yang ku rasakan di tempat yang bisa aku kunjungi setiap saat. Tulisan-tulisan itu semakin hari, semakin banyak. Tapi suatu hari aku nekat menghapus semuanya. Ada ketakutan, barangkali akan ada yang membacanya. Aku malu.

Malu jika tulisanku di baca oleh orang lain. Orang lain akan menyangka aku orang seperti A, B, C, D. Merangkai ekspektasinya sesuai dengan apa yang aku tulis.
Aku juga merasa tidak pantas untuk menulis, karena aku sadar benar kapasitasku.
Tapi aku tidak bisa mengelak. menulis menciptakan kebahagiaan tersendiri.
Mungkin karena aku bisa mengekspresikan apa yang ku rasa. 
Aku lebih lancar berbicara melalui tulisan dibandingkan dengan lisan. 

Tapi aku selalu takut, pandangan orang lain atasku. Aku selalu risau dengan penilaian orang. Lantas bagaimana caranya perasaan itu tersampaikan?

Aku kemudian tersadar, aku kembali ke titik itu ternyata. Titik dimana aku tidak percaya akan diriku sendiri. Di mana aku lebih mementingkan apa yang orang lain pikirkan dibandingkan keinginanku sendiri.


-
Aku bertanya pada diriku sendiri:
"kenapa kamu menulis?"
"karena senang, karena dengan menulis aku merasa memiliki teman"
"Lantas, kenapa kamu memostingnya di sosial media Shin?"
"Kamu lupa?, katamu kamu ingin memiliki bekal kematian"

-
Bulan oktober kemarin, aku mengikuti salah satu kelas dari makna akshara (sebuah komunitas yang mengusung diskusi psikologi) mengenai penyembuhan luka.

Pemateri kelas hari itu adalah seseorang yang pernah di bully, bukan hanya dibully di sekolah tapi juga di rumahnya. Ia bercerita, bahkan pernah berpikir bahwa mungkin ia lebih baik mati dibandingkan hidup. Ia merasa tidak diinginkan.

Kamu tahu apa yang menyelamatkannya? Tulisan. 
Ia suka membaca majalah gadis.
Tulisan yang bahkan tidak terkoneksi atas apa yang ia rasakan, tapi itu membuatnya memiliki harapan untuk hidup.
Ia merasa memiliki teman.

Sejak itu, ia ingin bekerja di perusahaan majalah tersebut. Memiliki keinginan sampai berani untuk mengikuti rangkaian tes jurnalistik meski tidak memiliki latar belakang yang memadai, namun akhirnya ia terpilih menjadi salah satu penulis di sana. 
Menurutnya, mungkin di luar sana, ada orang-orang yang juga membutuhkan bantuannya melalui tulisan. Sebagaimana ia membutuhkannya. 

Setelah mengikuti kelas itu, aku sedikit berkontemplasi. Aku terkikik geli melihat diri yang ternyata menomorutamakan pendapat orang lain atas apa yang aku lakukan. 
Aku tidak harus disukai semua orang untuk melakukan sesuatu. Karena aku tidak bisa disukai oleh semua orang, akan selalu ada orang yang tidak menyukaiku. 
Yang menjadi PR adalah apakah yang aku lakukan benar atau tidak. Positif atau negatif.
Barangkali, tulisan yang tidak seberapa itu bisa membantu orang lain.

Selebihnya, biarkan pandangan orang menjadi angin lalu. Karena bisa jadi, apa yang kuupayakan dapat menyelamatkan seseorang.

-
Shintia, mungkin suatu hari, di masa depan, kamu akan merasakan yang sama. 
Dan aku harap kamu membaca ini. Sebagai pengingat mengapa kamu berani untuk memulai, berani untuk keluar dari zona nyamanmu dan berusaha mempertahankannya sampai sekarang. 
Teruslah melakukan apa yang ingin kamu lakukan selagi itu baik dan tidak bertentangan dengan nilai dan agamamu. 

Jika kemarin, teman-teman mu yang mengucapkan terimakasih atas tulisanmu yang tidak seberapa itu. Sekarang, aku yang berterimakasih. Karena sudah berani untuk menunjukkan apa yang kamu suka. Kamu harus tahu shin, aku baru saja membaca tulisan-tulisanmu yang telah lalu. Kamu ternyata berkembang, dan kamu bahkan menjadi pengingat bagi dirimu sendiri. Bahkan di setiap tulisan, terdapat kenangannya tersendiri. 
Terimakasih ya. Jangan menyerah hanya karena kata orang lain, ya. :)

Menurunkan Ego

cr: rakyatku

Dalam percakapan kemarin hari dengan seorang teman. Ia mengutarakan bahwa ia cukup merasa lelah. Orangtua dan adik-adiknya menjadi tanggungannya.
Di sisi lain, ia melihat teman-teman seumurannya bebas. Bisa meraih ini-itu. Bisa membeli ini-itu.
Sedangkan ia harus menurunkan ego nya. Uang hasil kerja kerasnya, tidak bisa digunakan seperti apa yang ia inginkan. Untuk makan enak pun, ia harus banyak berpikir. Demi melihat adik-adiknya sekolah. Demi melihat orangtuanya tidak berada dalam kesulitan.

Dalam diskusi dengan seorang sobat. Ia bercerita mengenai kakak sepupunya yang memiliki hobi mengoleksi mainan. Karena di usia muda nya, ia tidak sanggup membeli mainan tersebut. Setelah bekerja, kakak sepupunya itu memilih untuk menggunakan uangnya memenuhi egonya.
Tapi, pada akhirnya ia juga harus menurunkan egonya. Koleksi mainan-mainan tersebut, di jual. Untuk memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya dalam berkeluarga.

Perempuan-perempuan di luar sana. Perempuan-perempuan yang memang fitrahnya menginginkan keindahan, termasuk dalam bentuk tubuhnya sendiri. Merelakan dirinya. Menurunkan ego nya untuk mengandung anaknya.
Menjadi gemuk. Kesulitan tidur. Memakai sepatu perlu perjuangan. Bahkan hidupnya sendiri bisa selesai karena kandungannya. Padahal, ia bisa saja memilih untuk tidak menjalani itu semua.

Perihal ego.
Semakin tumbuh besar, entah bagaimana, kita lebih banyak dituntut untuk menurunkan ego oleh kehidupan.

Saat kecil dulu, kita berpikir, mengasumsikan:
Semakin bertumbuh besarnya kita,
Semakin bebas untuk menjalani seseuatu,
Semakin mudah untuk meraih cita-cita,
Semakin mudah untuk meraih pencapaian-pencapaian (terutama dalam standar sosial: rumah, kendaraan, berlibur, dsb).

Pada akhirnya, alih-alih meraih.
Hidup banyak mengajarkan kita untuk merelakan.

Merelakan hal-hal yang kita pikir dulu luar biasa.
Merelakan mimpi-mimpi.
Merelakan waktu.
Bahkan merelakan nyawa.

Selamat belajar menurunkan ego.
Selamat belajar untuk berdamai dengan diri sendiri.
Selamat belajat dalam membentuk pribadi yang kuat untuk mengarungi kerasnya kehidupan! :)


Tentang Hijab: Bukan capaian kecantikan


kutipan artikel magdalene


Tidak pernah sama sekali terpikirkan olehku akan menggunakan hijab di umur enam belas tahun. Aku ingat sekali, pernah membenci hijab sebegitunya. Bagiku, hari-hari dimana sekolah tempatku mengenyam pendidikan mengharuskan murid-murid perempuannya berkerudung (bagi muslim) sangat menyebalkan.

Nanti aja deh pakai kerudung, kalau udah kuliah. Atau udah nikah aja kali ya? - Inner shintia, 12-15 tahun.

Entah ke-berapa kali nya, setiap aku mengucir kuda rambutku, anak-anak perempuan akan berusaha memegangnya. "Bagus ih rambutnya!", ujar mereka, memuji. Sebagaimana perempuan lainnya, kelemahan ku adalah pujian. Rasanya, jika dipuji apalagi berdasarkan penampilan fisik, waktu itu, begitu menyenangkan.

Berbeda di hari-hari dimana aku memakai kerudung di sekolah, selalu dihiasi dengan celetukan "Kamu lebih cantik gak pakai kerudung deh". Ucapan itu terus berulang, sejak aku duduk di kelas satu sampai tiga SMP. Bisa dibayangkan seberapa banyak ucapan sama yang kuterima?

Membaca artikel di magdalene.co, yang kutipannya ku taruh di atas. Sangat mengingatkanku akan hari-hari itu. Setelah mantap berhijab, aku sangat setuju karenanya. Terdapat pergeseran makna mengenai hijab. Komodifikasi agama yang menjadikan hijab sebagai komoditas bisnis (akan ku tulis di tulisan selanjutnya), dan lagi-lagi yang paling utama adalah perihal capaian kecantikan. 

"Lebih cantik berhijab deh" adalah cara yang menurut banyak dari kita baik untuk mendukung perempuan agar mantap berhijab.

Entah dari kapan, masyarakat kita memandang hijab 'wajar' menjadi capaian kecantikan seorang perempuan. Meski niat baik bisa berawal dari apa saja. Termasuk, merasa cantik dengan balutan hijab. Namun, rasanya, memaknai hijab 'hanya' untuk mengukur capaian kecantikan perempuan, baiknya dibenahi. 

Hijab memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap perempuan dan tidak melulu mengenai kecantikan. Begitupun bagiku.

Dibandingkan dipuji-puji, perjalanan dalam menggunakan hijab bagiku merupakan perjalanan dengan penolakan teman-teman yang mengukur kecantikan berdasarkan penggunaan hijab. Membuatku membenci hari-hari dimana aku harus mengenakan hijab. Tidak jarang, setelah sekolah selesai aku melepas kerudung yang kukenakan. Alasannya macam-macam, mulai dari; "panas", "pusing" dan sebagainya. Meski memang hal itu kurasakan, hal yang paling mendasar adalah aku tidak percaya diri. Aku malu memperlihatkan wajahku, yang disebut-sebut tidak cocok menggunakan hijab.

Allah akhirnya mengantarkanku pada titik dimana aku menyadari bahwa hijab bukanlah capaian kecantikan. Jika saja, hijab sebagai capaian kecantikan ini terus-menerus tertanam di otakku, mungkin sampai detik ini, aku tidak akan menggunakan hijab. Hijab is more than beauty. 

Aku mulai mengenakan hijab di kelas satu SMA, butuh penyesuaian berbulan-bulan bagiku dalam memantapkan hati untuk mengenakannya secara permanen. Berawal dari tidak melepaskan kerudung sampai pulang sekolah di hari Jum'at (karena hari Jum'at sekolah biasa berbusana muslim). Lalu, ditambah dengan membeli seragam berlengan panjang untuk ku pakai di hari senin, seiring berjalannya waktu, ditambah dengan hari selasa. Dan alhamdulillah proses itu mengantarkan ku sampai hari ini.

Percayalah dalam prosesnya, karena aku seringkali dibilang tidak cocok menggunakan hijab. Aku bahkan sempat takut tidak akan ada laki-laki yang tertarik padaku jika aku mengenakan hijab. Karena omongan itu, aku memiliki pandangan sempit akan hijab yaitu memandang hijab sebagai capaian kecantikan. Dan juga memandang laki-laki hanya akan tertarik dengan kecantikan rupa. Padahal  perihal jodoh sudah di atur oleh Sang Maha Kuasa.

Hijab adalah hubunganmu dengan Tuhanmu, jalannya, kesulitannya, maknanya berbeda-beda dan hanya kamu sendiri yang akan mendapatinya.

Keyakinanku tidak datang begitu saja. Banyak sekali orang-orang yang merangkulku dengan akhlak. Sampai di hari itu, aku membuka beranda Facebook, dan postingan yang kubaca adalah mengenai hijab pertama dan terakhir yang berasal dari kain kafan. Entah bagaimana, Allah menggerakan hatiku menjadi yakin. 

Tidak apa-apa dianggap tidak cantik dalam pandangan manusia. Kecantikan dalam ukuran manusia tidak dapat dibandingkan dengan sudut pandang Tuhanku, bukan?

Setelah aku memakai hijab. Tolak ukur hijab sebagai capaian kecantikan yang dilontarkan padaku tidak berhenti di situ. Di lain waktu, dalam perjalanan.. Ada yang memprotes "Kamu pakaian nya Syar'i sih coba kalo nggak, kan lebih cantik", "Kalau kamu gak pakai hijab dijamin deh gampang dapet pekerjaannya, percaya deh". atau sebaliknya "kamu cantikan pakai hijab syar'i deh, lebih anggun". Di sini, aku tidak ingin menjadi double standard. Nyatanya di kedua sisi, memakai hijab maupun tidak, syar'i maupun tidak selalu dikait-kaitkan sebagai capaian kecantikan. Aku mengerti,  masyarakat secara tidak sadar mengaitkan hijab dengan capaian kecantikan karena memang pada dasarnya tahu, bahwa perempuan senang menjadi cantik. Tapi percayalah, setelah mengobrol dengan teman-teman perempuan lainnya. Banyak perempuan yang malah menjadi ilfil, menjauh tidak ingin memakai hijab, tidak simpati, karena jujur saja bagi sebagian perempuan, kecantikan dan hijab merupakan hal yang sensitif untuk dikait-kaitkan.

Aku tidak menggunakan hijab untuk dipuji-puji sedemikian rupa. Aku memakai hijab bukan untuk menyenangkan mata orang lain. Aku memakai hijab bukan karena membutuhkan uang.

Rasanya, pandangan masyarakat dengan hijab sebagai capaian kecantikan ini justru menyetir hak perempuan untuk menggunakan hijab menjadi sekedar pandangan atas fisik (menjadi sempit sekali). Padahal hijab adalah hubungan antara kita dengan Tuhan. Berhijab adalah keputusan masing-masing individu yang karena merupakan bentuk komunikasi transedental, tidak seharusnya disamakan dengan pandangan horizontal. Bukankah, kita begitu merendahkan nilai hijab dengan menyamakan sudut pandang Tuhan sebagai sudut pandang manusia?

Selain kecantikan fisik, seseorang yang mengenakan hijab tidak berarti pasti berakhlak baik. Aku sangat malu, jika dengan hijab yang kupakai membuat orang-orang bersimpati, berpikir sedemikian rupa. Hijab ini bukan capaian kecantikan akhlak sebagaimana hijab bukan capaian kecantikan rupa. Banyak sekali yang mematok standar jika hijab syar'i maka orang tsb demikian, jika hijabnya tidak syar'i maka orang tsb begini, jika ia tidak memakai hijab maka orang yang bersangkutan begitu. Jika tidak memenuhi standar tsb, maka akan di cemooh, "Berhijab sih... tapi ..." Bukankah capaian kecantikan ini sangat tidak terdefinisikan? Baik-tidaknya seseorang hanya Tuhan yang tahu, maka berhentilah menjadi penilai karena manusia tidak memiliki kapasitas untuk menilai.

Bagiku, hijab adalah hubungan dengan Tuhanku. Hijab adalah pilihan hidupku. Yang tahu makna nya, rasa nya adalah diriku sendiri. Maka, tolong berhentilah mengaitkan hijab dengan standar kecantikan (rupa pun akhlak). Karena hijab terlalu luas untuk dimaknai sesempit itu.

Belajar Menjadi Manusia



"Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Tapi manusia kadang lupa, bahwa ia pun merupakan makhluk yang juga tidak sempurna. Sebuah kenyataan yang bertentangan dan membingungkan, sempurna tapi tidak sempurna"
Akhir-akhir ini aku sedang dalam usaha untuk lebih mencintai diri. Hal ini disebabkan beberapa bulan yang lalu aku sempat sakit. Bukan karena faktor eksternal melainkan faktor internal. Yaitu: cara diri menyikapi suatu persoalan.

Dulu aku sempat ragu, apa mungkin seseorang sakit hanya karena pikirannya? Dan... yap! siapa kira, aku akan mengalaminya. Hakikatnya manusia menyukai kelembutan, maka berbuat baik kepada orang lain adalah salah satu sikap yang sangat dianjurkan. Lantas, bagaimana jika kita berbuat baik kepada orang lain namun tidak berbuat baik kepada diri alias menyakiti diri sendiri?

Ada banyak cara seseorang menyikapi persoalan. Ketika merasa kecewa, beberapa orang melakukan evaluasi secara sehat dan yang lainnya tidak (menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain atau menyalahkan apapun itu). Aku adalah salah-satu orang yang melakukan evaluasi secara tidak sehat, terutama dengan self-blame. Aku selalu menyalahkan diri. Aku sangat kasar terhadap diriku-sendiri.

Setelah melakukan kontemplasi. Ternyata akar dari self-blame ini adalah aku yang lupa memanusiakan diri. 

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Tapi manusia kadang lupa, bahwa ia pun merupakan makhluk yang juga tidak sempurna. Sebuah kenyataan yang bertentangan dan membingungkan, sempurna tapi tidak sempurna.

Namun banyak orang (aku) yang berusaha menjadi sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Lupa bahwa manusia pasti melakukan kesalahan dan jauh dari sempurna. Dan kunci dari semua ini adalah belajar memanusiakan diri (self-acceptance): Belajar mewajarkan ketika melakukan salah. Belajar memaafkan kesalahan yang dilakukan. Belajar menerima kegagalan diri.

Aku sering kali mengomeli diriku sendiri. Misalnya aku melakukan kesalahan seperti salah kirim file tugas. Seringnya ketika sudah ada di posisi tersebut, aku mulai menyalahkan diri. 'YaAllah Shin kok kamu bisa gitu? 'Kenapa sih kamu tuh gagal fokus melulu". Sekarang aku pelan-pelan belajar mengubahnya "It's okay, Shin. kamu manusia kamu melakukan kesalahan. Sekarang jalan keluarnya apa?"

Atau biasanya, ketika aku melakukan sebuah pekerjaan yang hasilnya tidak sebaik orang lain. "yaampun Shin begini aja gak bisa?", "Liat orang lain pada bisa, kamu engga?" sekarang harus diganti dengan lebih mengapresiasi diri "Ok, Shin. Good job. Kamu udah bisa segini" "It's okay, Shin. kamu udah bisa sampai sini. Semua orang punya kelebihannya masing-masing. Terus belajar ya!"

Seringkali aku merasa sedih ketika tidak mencapai goals yang seharusnya. Mulai dari hal-hal kecil seperti yang sudah ku tulis diatas. Sampai ke hal-hal yang sangat berdampak dalam diri (baik secara batin maupun secara fisik). 

Self-blame -yang aku rasakan- akan menjelma menjadi self-guilt dan self-shame karena saking toxic nya kebiasaan ini. Pernah suatu waktu, aku sangat kecewa akan suatu hal dan seperti biasa aku blaming diri sendiri. Aku sampai di titik tidak ingin bertemu banyak orang, kurang percaya diri dan jujur saja (waktu itu) jika aku diberi kesempatan untuk lahir kembali mungkin aku akan memilih jalan tersebut. Sayangnya, hidup tidak bisa begitu. Seberapa kecewa pun aku dengan diri, kehidupan tidak akan menungguku, hidup mesti harus berjalan. Dari situ aku belajar, selain self-acceptance yang seringkali aku lupakan adalah self-forgiveness.

Memaafkan diri ini....sangat membutuhkan kesabaran karena butuh waktu yang lama. Dan secara tidak sadar, seringkali kita kabur dari tanggungjawab memaafkan diri dengan menumpuk hal yang mengganggu dengan hal-hal lain yang diharap dapat mendistraksi keruwetan masalah (menonton, belanja, dsb). 

Masalahnya, masalah terus menerus datang, pun kekecewaan terus-menerus hadir. Maka self-forgiveness adalah kegiatan yang juga harus dilakukan berulang-ulang. 

Kita tidak bisa membiarkan keruwetan ini menumpuk begitu saja. Sampai akhirnya aku mengerti kunci dari self-forgiveness adalah ikhlas dan bertaubat. Ikhlas mengakui kesalahan diri yang menyebabkan efek besar pada diri sendiri, ikhlas menerima rasa sakit sebagai bentuk pembelajaran, ikhlas menerima konsekuensi yang akan hadir dimasa depan karena kesalahan diri, dan bertaubat karena selama ini seringkali merasa bisa melakukan sesuatu dengan baik dengan segala usaha diri yang lemah, tanpa melibatkan Yang Maha Kuasa, padahal karenaNya lah aku dapat melakukan sesuatu. 

Butuh waktu yang lama bagiku menyadari ada yang salah dalam diri ini. Aku harap sampainya diri pada titik realisasi ini, dapat membentukku menjadi pribadi yang lebih positif. Dan menerima segala yang hadir pada diri. Belajar mencintai diri berarti berdamai dengan diri dari sudut pandang lain. Mendewasakan diri agar terdorong mencari jalan keluar, instead of hurting my own self.

Semoga dengan membiasakan belajar memanusiakan diri ini selain manambah peduli terhadap diri sendiri. Pun menjadikan ku pribadi peduli terhadap orang lain dan (juga) lebih memanusiakan mereka. 

Yang memandang orang lain yang melakukan salah karena mereka pun pembelajar, mereka pun manusia. "Dia manusia bikin kesalahan juga, sama kayak kamu...". Dibanding menghabiskan tenaga, kesal sendiri (ini susah banget memang T_T tapi harus belajar), dan memiliki harapan yang tinggi terhadap orang lain (berharap mereka 'sempurna' dengan standar yang ada di otak kita, agar tidak selalu merasakan kecewa..