Ramadhan Journey: Berbohong Demi Kebaikan

"Boleh gak kita berbohong?" Tanya salah satu dosen di sela-sela perkuliahan mata kuliah Hukum dan Etika Komunikasi.

"Boleh buuu..."

"Asal demi kebaikaaan"

Entah sudah ke-berapa kali nya aku mendengar pembicaraan dengan topik seperti ini. Dengan pertanyaan sama dan jawaban yang sama. Biasanya, aku tidak begitu mengindahkan pembicaraan dengan topik ini, karena toh bukanlah hal yang baru dalam hidupku.

Tapi hari itu, entah dari mana asalnya. Di otak ku lantas terdapat pesan pop up.


"Bukannya berbohong itu semuanya demi kebaikan ya?"


Eh... iya juga ya... jawab ku pada diriku sendiri membatin. Berbohong selalu memberi keuntungan (yang mana merupakan sesuatu yang baik) dari sudut pandang yang melakukannya, beda lagi dengan sudut pandang yang dibohongi atau orang ketiga yang tahu kebohongan tersebut. Biasa nya berbohong dilakukan karena takut dengan sanksi yang akan di dapatkan, untuk membela diri, menghindari kritik, atau menghindari tanggung jawab.


Berbohong demi kebaikan..


Pun berbohong untuk memanipulasi orang lain agar mendapatkan sejumlah uang (penipuan). Tetap terlihat demi kebaikan -dari sudut pandang pelaku nya- karena mendapatkan uang yang banyak secara instan. Beda lagi dengan korban atau yang bukan pelaku/pun korbannya, berbohong seperti itu bukan lah demi kebaikan.


Contoh lain..


Anggap saja ada seorang pekerja yang bangun terlambat karena begadang menonton pertandingan sepak bola, ketika masuk kantor ia beralasan "macet di jalan" atau "tadi ban nya bocor" untuk menghindari pertanggungjawaban atas kelalaiannya semalam, menghindari kritik dan menghindari terkena sanksi dari atasan atau dan teman sekantor nya -yang dirasa- tidak akan mengenakan.


Atau kadang dalam perkuliahan, ada tugas yang sudah lama tidak diminta untuk dikumpulkan oleh dosen, seakan dosennya lupa. Tapi pada suatu pertemuan, beliau tiba-tiba meminta mahasiswa untuk mereview dan meminta tugas tersebut dikumpulkan. Lantas -katanya- demi kebaikan, kompak, tanpa aba-aba, satu kelas pura-pura tidak ingat pernah ada tugas yang seperti itu. :')


Beberapa waktu lalu, ketika dalam perjalanan menuju kampung halaman. Aku menjumpai supir elf yang mendapatkan telepon dan ia menyebutkan bahwa ia sudah sampai di suatu tempat yang mana bukan tempat dimana ia berada saat itu, masih jauh untuk mencapai tempat tersebut.


"Bohong sedikit bu, habis nantinya kalau bilang masih jauh gak bakal jadi" ucapnya tertawa pada penumpang yang duduk di sebelahnya, seorang ibu-ibu yang terlihat memasuki usia kepala 5.


"Hahaha iya gimana lagi ya, cari rezeki" balasnya ikut tertawa.


Aku menulis seperti ini bukan berarti aku lebih baik atau tidak pernah berbohong. Justru karena aku pun kerap kali berbohong, maka aku menulis ini. Apalagi ketika keadaan sudah terpepet. Kadang karena nyali ciut takut mempertanggungjawabkan ini-itu yang memiliki konsekuensi tidak mengenakan antar-manusia.


"Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar" [2:155]


Aku baru saja menyadari, ternyata aku sering menyepelekan melakukan sebuah kebohongan dengan dalih "demi kebaikan". Menyepelekan berbuat dosa dengan sesuatu yang menurutku akan menjadi baik-baik saja, karena toh orang lain tidak tahu. Karena toh dosa kecil, tanpa sadar sudah berapa kali aku menyepelekan dosa kecil, tanpa sadar bahwa dosa kecil pun menggunung dan akan di hisab.


"Sebenernya yang berbohong itu bukan cuma membohongi orang lain, Shin. Dia juga membohongi dirinya sendiri  kalau dengan berbohong bakal baik-baik aja." Ucap umi (salah satu teman dekatku) ketika aku menceritakan apa yang ku pikirkan ini.


Iya juga.. :')


Baik-baik dengan manusia, tapi tidak dengan hubungan dengan Tuhan. Karena orang lain tidak tahu tapi Tuhan? Maha tahu.


Baik-baik di dunia, tapi tidak dengan beban pertanggungjawaban yang semakin berat di akhirat kelak.


Terlihat baik padahal tidak. Tertipu.. Banyak tipu daya...


 cr on pict
Lantas aku bertanya-tanya. Berbohong apa yang diperbolehkan? Dan menemukan ini.. Berbohong demi kebaikan.

Catatan: Aku menulis ini bukan berarti sekarang aku sudah bisa tidak terjerumus. Menulis ini dengan harap, semoga bisa berproses bersama. Aamiin.


-

-


Ramadhan Journey: Ramadhan 1939 H, sangat berkesan bagi ku. Bulan Ramadhan yang produktif, alhamdulillah Allah memberikan ku kesibukan dan di dalamnya banyak pelajaran yang bisa di ambil. Aku banyak belajar dari orang-orang yang ku temui secara sengaja maupun gak di sengaja. Banyak juga punya waktu me-time. Perjalanan fisik dan pikiran, yang ingin ku bagikan. Semoga bermanfaat. Semoga bisa bertemu Ramadhan berikutnya, aamiin yarabal alamin.

Ngobrol Sama Mama: Harapan dari Nama

“Ngapain ai teteh?” Tanya mama tiba-tiba membuka pintu kamar. Beliau tertawa kecil melihat tingkah anak sulungnya yang sedang menyelimuti diri dari kepala sampai kaki, meringkukan badan berusaha agar menjadi sebulat mungkin. 

Saya yang kaget lantas membalas dengan cengiran malu. Saya sedang tidak memiliki kerjaan yang spesifik -jelas- haha. Hanya sedang berpikir dan merasakan kebuntuan. Saya memang orangnya pemikir banget-nget-nget. Beberapa teman bahkan pernah melontarkan candaan bahwa saya ‘Sering mempertanyakan hal yang jarang dipikirkan orang lain, alias enggak penting!’ :’D. Tapi saya tetap melakukannya, yaa biarlah, saya menyukai nya. (Introvert pasti merasakan keasikan yang sama :’).)

“Mah kenapa nama teteh Shintia Mustika?” Akhirnya saya mengeluarkan apa isi kepala saya setelah beberapa detik Mama berada dalam kamar.

“Kenapa gening mikirin teh yang kayak gitu” Ah.. pertanyaan yang sama yang sering dilontarkan orang-orang ketika saya mengeluarkan apa yang ada di kepala saya.

“Cuma penasaran”

Ya. Penasaran. Saya baru saja memikirkan tentang “Semua hal di dunia ini pasti terjadi atas Ridho Allah”. Bahkan daun jatuh pun, terjadi atas Ridha Allah. Berarti saya dinamai Shintia Mustika, pastinya terjadi karena ridha Allah. Teman-teman saya namanya x-y-z pun, terjadi atas Ridha Allah. Keren banget gak sih Allah tuh T___T

Setelah merasakan kekaguman bahwa Allah itu keren banget. Lantas muncul beberapa pertanyaan, saya ingin makin mengenal bagaimana Allah meridhoi hal-hal yang terjadi pada diri saya. Dimulai dari hal kecil: nama.

Gimana ya caranya ada ide yang pop up di otak orangtua saya sehingga terpikirkan menamai saya ‘Shintia Mustika’?

Hal apa yang menjadikan orangtua saya terpikir untuk memberikan nama depan saya Shintia dan nama belakang saya Mustika?

Apakah orangtua saya memiliki beberapa option nama yang Allah tunjukan dari beberapa hari/bulan sebelumnya, Apa saja option-nya dan kenapa keputusan berakhir di ‘Shintia Mustika’?

Apa orangtua saya terinspirasi dari sesuatu? Apa itu? Bagaimana Allah memunculkan inspirasi itu pada orangtua saya? Apa dari TV? Seperti.. Allah menggerakan hati orangtua saya untuk menonton Televisi pada waktu tertentu, juga pada saat itu Allah menggerakan orang yang bekerja di pertelevisian untuk menyiarkan hal-hal yang menginspirasi kedua orangtua saya? Lantas, dengan ridho Allah. Akhirnya orangtua saya terinspirasi dari seseorang yang bernama Shintia atau Mustika?

Apa orangtua saya terinspirasi dari toko perhiasan mas mustika? :’)

Atau orangtua saya membaca buku tentang nama yang bagus untuk anak?

Atau adakah kakak, adik, teman atau tetangga dari orangtua saya yang datang menjenguk Mama dan memberi ide?

Dan lain-lain. Pusing ya? Gaje ya? Iya hehe. Maap.

“Memang yang kasih nama teteh siapa, Ma?” tanya saya lagi.

“Bareng-bareng sih.” Jawab Mama memasang muka kebingungan.

Waktu kecil saya juga pernah nanya tentang nama. Tentang arti nama. Katanya shintia itu cinta, mustika itu mutiara. Jadi artinya.. mutiara cinta ehhehehe (malu banget nulis ini x’D).

“yang jelas mustika itu singkatan” lanjut mama melangkah keluar kamar

“Bercanda ya ma? Masa sih? Singkatan apa?”

Mama sudah berada tepat di pintu, menatap saya sebentar, lantas menunduk, seperti sedang berpikir, menimang-nimang, terbaca ada sedikit guratan malu sebelum Mama melanjutkan kalimatnya.

“Mustika itu... Mutiara... S...(nama mama:p) dan K..(nama bapak:p)”

Hening.

Saya masih mencerna, apa mama sedang bercanda sekarang? Apa mama sedang melakukan cocoklogi?!! Apa ini sebuah konspirasi?!!! Kenapa pertanyaan bercanda nya diabaikaannn?!

“Mutiara nya Mama sama Bapak.” Terangnya. Terdapat jeda, mungkin sedetik sebelum beliau melanjutkan.

“Mamah sama Bapak teh pengen Tia kayak mutiara. Ditempat yang kotor juga tetep cantik, tetep bersinar, gak terbaur sama kotoran yang lain”

“Bisa baik terus sama oranglain walaupun kena kotoran dari yang lain, walaupun disakitin. Tia yang menyinari oranglain. Tia yang bantu oranglain. ”

Deg.

Saya lantas ingin mewek guys. Hahaha

Entah dari mana Allah membuat orangtua saya memiliki pemikiran seperti itu.  

Saya akhirnya hanya bisa menyimpulkan sendiri, walau tidak pasti. Mungkin.. tidak ada tanda khusus yang membuat Mama juga Bapak jadi terpikir untuk menamai saya Shintia Mustika. Karena Mama pun terlihat kebingungan. Jelas sih, menanyai penamaan bayinya -dari bayi nya itu sendiri yang kini sudah besar- yang mana artinya menanyakan kejadian yang terjadi 20 tahun yang lalu. Atau.. mungkin ada tanda khusus, tapi orangtua saya tidak menyadarinya. Ah saya jadi bingung sendiri T__T

Yang jelas saya menyadari ternyata Allah itu keren banget. Hal yang diridhoi-Nya. Walaupun cuma tentang nama saya, bisa terjadi sangat kompleks. Banyak kemungkinan-kemungkinan kenapa orangtua saya bisa terpikirkan untuk menamai nama saya, yang mungkin kalau kemungkinan nya di buat list bisa menghabiskan buku berlembar-lembar. Makin kerennya nih ya, dari sekian banyak kemungkinan itu, Allah lantas meridhoi yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

Waktu saya lahir, tentunya di tempat lain juga ada bayi lain yang lahir ke dunia. Di hari yang sama, bisa banyak sekali bayi yang lahir. Dan di tiap-tiap pikiran orangtua dari bayi tersebut, Allah meridhoi adanya ide nama. Yang asal muasal nama nya kadang terinspirasi dari sesuatu yang jelas (bisa jadi buku nama anak dan lainnya), atau yang inspirasi nya tidak disadari. Dari segala stimulus yang masuk ke otak manusia di setiap detik nya, Allah  meridhoi orangtua untuk sadar dan terinspirasi akan sebuah kata, untuk dijadikan nama bayi nya. Masih ada hari-hari berikutnya, di menit yang sama berapa banyak bayi yang lahir di dunia? di jam yang sama? dan masih terus ada lagi bayi yang lahir. Dimana bayi lahir ke dunia juga terjadi atas ridho-Nya. Dan juga masih terus ada ide orangtua untuk menamai buah hati nya. Bayangkan, Allah itu sibuk banget dalam sehari aja, mengatur ini-itu, memberi yang terbaik buat setiap manusia. Itu baru sehari dan baru tentang nama.

Di sisi lain, ada banyak kegiatan manusia yang terjadi. Bukan cuma menamai orang, ada belajar, makan, ibadah. 

Seseorang lulus kuliah di universitas A, itu terjadi karena Allah meridhoinya. Kalau Allah merasa universitas A tidak pantas untuk orang itu, lantas di gagalkannya karena bukan yang terbaik. Allah meridhoi orang itu memikirkan universitas A sebagai pilihannya lewat stimulus-stimulus yang Allah sampaikan padanya. Jika dia gagal masuk universitas itu, bisa jadi Allah meridhoi menjadikan universitas A sebagai pilihannya, karena dia butuh merasakan kegagalan, agar dirinya menjadi pribadi yang kuat, agar dia bisa menjadi manusia yang bekerja keras, agar dia tidak menjadi manusia yang sombong karena hal yang diinginkannya selalu tercapai, agar dia menjadi manusia yang bersyukur, agar semakin dekat kepada-Nya. 

Seorang kakek terpikirkan untuk beribadah di masjid A. Allah meridhoi-Nya dan akhirnya ia bisa melangkah kan kaki nya di masjid A. Kalau tidak? Mungkin bisa jadi diperjalanan ia mengalami kecelakaan. Dan jika mengalami kecelakaan pun, kecelakaan bisa terjadi atas ridho-Nya, karena jika tidak mengalami kecelakaan, bisa jadi orang-orang terdekat si kakek, seperti anak-anaknya yang sudah berkeluarga, tidak menghampiri nya dalam waktu dekat, padahal si kakek sudah sangat merindukan kehadiran anak-anaknya, atau bisa jadi umur si kakek sudah singkat dan Allah Maha Tahu kalau tidak terjadi kecelakaan yang menimpa nya ia tidak akan dipertemukan dengan keluarga nya sampai akhir hayatnya. Ah banyak sekali yang terpikirkan. Kompleks-nya kehidupan di dunia ini. Dan Allah bisa merancang semua nya.

Tiba-tiba teringat sebuah lirik lagu: “Semua yang terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah misteri ilahi”

Ya. Saya menyetujui nya. Sangat. MasyaAllah ya.

Kembali pada diri ini yang tidak lagi meringkukan badan melainkan menghempaskan badan di kasur.

Mama akhirnya keluar kamar dan menutup pintunya kembali. Tanpa tambahan sepatah-katapun. Menyisakan saya yang tenggelam dalam pertanyaan, mustika memang artinya batu mulia atau mutiara, tapi.. apa mama tadi bercanda ya? Juga pertanyaan-pertanyaan baru mengenai refleksi diri: Jika itu benar, apa saya telah memenuhi harapan dari kedua orangtua saya? Jadi apa yang harus dibenahi agar diri ini sesuai dengan nama yang Allah Ridhoi?

Ngobrol Sama Mama: Perjuangan Menjadi Ibu

"Nah teh kalo lagi hamil harus sering-sering kayak gini ngepelnya" ucap mama tiba-tiba meraih lap pel yang sedang kupakai dan langsung memeragakan gerakan mengepel.

"Kalo kayak gini, kan jadi olahraga. Harus sering bergerak kalau hamil, jangan diem aja, teu sehat. Nanti melahirkannya InsyaAllah lancar" lanjutnya.

Kemudian aku tertawa. Ya ampun, lulus kuliah aja belum, ketemu siapa laki-laki yang bakal jadi suami aja belum. Udah kepikiran sampai situ....

"Tia belum tentu punya umur sampai situ sebenernya, Maa." Jawabku setelah tertawa.

Kemudian hening sejenak.

"Waktu Bi Yanti melahirkan, udah kerasa mules-mules tapi nyempetin beres-beres rumah. Ngepel, Nyapu.. Di-olahragain" Mama seakan tidak mendengar apa yang aku katakan.

Aku hanya menatapnya, berusaha mendengarkan. Teringat di usia-ku Mama sudah menjadi seorang Yatim. Dan sebelum aku dilahirkan, mama sudah menjadi Yatim-Piatu. Tidak ada bimbingan langsung dari seorang ibu saat masa kehamilan, melahirkan, pun saat mendidik. 

Yah, bukan hanya aku yang tidak tahu akan umurku. Begitu pula mama akan umurnya. Walaupun inginnku jangan sampai terjadi. Lagipula, tidak ada salahnya mendengarkan.

"Alhamdulillah anak-anak mama pada baik-baik. Mama gak mual-mual. Lahirin juga ga berjam-jam apalagi sampe berhari-hari. Gak pakai pembukaan 1, pembukaan 2, langsung aja melahirkan"

Dalam hati aku mengaminkan: aku dan adikku merupakan anak yang baik. Ya, mungkin selama di kandungan aku dan adikku tidak begitu merepotkan, tapi sekarang? Karena aku tau benar, betapa belum pantas nya aku di sebut anak yang baik. Semoga kedepannnya, aamiin. 

"Kalau waktu lahiran teteh cuma dapet 3 jahitan, dedek 5 jahitan. Itu teh di sobek lagi teh vagina nya pake gunting kalau susah"

"Hah?" aku bergidik ngeri, ngilu membayangkannya. 

Mama yang melihat ekspresi-ku lantas melanjutkan, "Pas lahirannya mah ga kerasa digunting, cuma mules yang kerasanya. Mulesnya mules banget, sampe gemeter gitu"

Gusti, kulit digunting aja gak kerasa. Mulesnya kayak gimana..

"Cuma sakit luar biasa, kerasa nya pas di jahit itu. Pereus teh. Bener perjuangan seorang ibu teh, ia"

Lantas mama bercerita mengenai proses kelahiran beberapa orang yang ku kenal. Ada yang sampai 32 jahitan! Kebayang sakitnya?

Langsung terlintas dosa-dosa yang aku lakukan pada mama. :(

Berapa banyak aku menyakiti hatinya..

Berapa kali aku bermalas-masan ketika diperintah olehnya...

Berapa kali aku berbuat dosa yang berdampak padanya..

"Waktu lahiran Tia kan ga nyangka, 2 minggu dari waktu yang diperkirakan. Mama belum sempet beli bantal bayi, rencana nya besok nya mau beli. Da dulu mah di pisah bantal guling nya ga sepaket kayak sekarang. Eh malah lahiran" ucapnya tertawa kecil.

"Mama abis maskeran sambil dengerin ceramah di masjid. Ada mualaf dari Bali gitu yang jadi penceramah. Cuma mama di larang bapak buat pergi ke masjid, perut udah gede sih takut kenapa-napa. Beres jam 12-an"

"Pas mau tidur tiba-tiba basah kayak pipis. Mama kan gak tau ya. Jadi ke wc pipis bersih-bersih. Tapi gak kaya pipis. Ternyata kaya gitu teh ketuban pecah"

"Gak lama kemudian, mules banget. Mana di luar ada anjing lagi pada berantem, da tengah malem mungkin ya teh. Pergi ke bidan teh deg-degan"

YaAllah.. dengernya sedih. Usaha nya :'))

"Jadi perempuan mah susah, Teh" ucapnya sebagai penutup pembicaraan kami.

Ketika menjadi ibu.. Melahirkannya sulit.. Mendidiknya sulit.. Anak nya nakal.. Sabar.. Anaknya seringkali tidak menuruti.. Anaknya seringkali rewel.. sabar..

Mama :"

Pikiranku membuncah. Datang kekhawatiran-kekhawatiran.

Takut menjadi istri yang gagal. Takut menjadi ibu yang gagal.

Kemudian tersadar kembali, belum tentu umurku sampai. Belum tentu apa yang dikhawatirkan akan terjadi.

Berusaha menjadi baik hari ini, terus dan terus memperbaiki, sekiranya sudah lebih dari cukup. 

Mempersiapkan kiranya memanglah baik. Namun, yang terpampang nyata sekarang yang harus ku khawatirkan.

Perangai ku terhadap orangtua yang sekarang harus lebih kuperhatikan.

Cacatnya perilaku ku yang harus ku ubah.

Semoga diriku yang lemah ini dapat membahagiakan orangtua.. aamiin.

Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu.' – Hadis


Mother was our door to this Dunya, Mother will be our door to Jannah. Let's take care of this door.

Ramadhan Journey: Tenggelam dalam Kesia-siaan

Ramadhan tahun ini memberikan banyak pembelajaran bagiku.

Hari itu, hari ke-sekian ramadhan. Aku terdiam, memandangi benda yang harusnya (dari dulu) ku-prioritaskan dalam hidup.

Detik itu, aku bertanya pada diriku sendiri. "Kamu kemana aja selama ini, Shin?"

Ya, benda itu adalah Al-Qur'an. Sebuah buku tebal dengan cover pink dan ungu. Sebuah buku pemberian teman saat umur-ku menginjak tahun ke-18.

Tahun ini, aku men-set goals Ramadhan, berusaha menjadikannya nyata tanpa omong-kosong. Salah satu goal nya, seperti banyak orang, ada di dalam buku ini.

Walaupun pasti si merah datang bulan ini. Aku berusaha menekadkan diriku, Pasti bisa!

Nyatanya di ramadhan tahun ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku....begitu sibuk.

Laporan Pertanggung Jawaban akhir kepengurusan, UAS tertulis, UAS Project, dan segala kegiatan di luar kampus. Saking padat nya, bahkan aku jarang sekali tidur di kosan, aku tidur di rumah/kosan teman, tidur di sini, dan di sana. 

Ketika pulang ke kosan, hal yang pertama kali aku lakukan adalah mencari sebuah tabung kecil, sebuah minyak angin aromatik, untuk menghilangkan pegal-pegal.   

Bahkan beberapa teman mulai protes karena aku sangat slow respond. 

"Slow Respond, sabar." tulisku di status message line. Karena seringkali mendapat spam chat. Aku bahkan sering lupa untuk membuka hp. Hanya beberapa waktu kubuka, ketika aku merasa butuh menghubungi seseorang dan ketika aku akan tidur.

Memangnya sesibuk itu? Aku pikir, selama menjalani hidup, aku tidak pernah merasakan sesibuk itu. Itu yang pertama kali.

Tapi, dalam kesibukan itu karena aku bertekad. Aku jadi berusaha menyempatkan diri untuk membuka Al-Qur'an. Mumpung bulan Ramadhan, mumpung bulan pengampunan. 

Bukan karena aku baik, melainkan..

Dalam beberapa bulan terakhir, aku mengalami sebuah keterpurukan. Saking terpuruknya, aku mengalami sakit 3x dalam kurun waktu sebulan. Yang mana setiap sakitnya dibutuhkan masa pulih selama 3-7 hari.

Sebelumnya, ada sebuah kejadian dalam hidupku dan sangat sukses menamparku.

Dalam keterpurukan itu, aku merasa bahwa diriku adalah manusia yang paling hina dan paling kotor.

Tidak terbayang dalam benakku, bagaimana kiranya jika aku mati saat keadaan seperti ini.

Maka bulan ramadhan adalah momen yang ingin ku menangkan.

Salah satu nya dengan mendekatkan diri ke Al-Qur'an.

- 

Ramadhan tahun ini memberikan banyak pembelajaran bagiku.

Hari itu, hari ke-sekian ramadhan. Aku terdiam, memandangi benda yang harusnya (dari dulu) ku-prioritaskan dalam hidup.

Dalam diam, lalu lintas di dalam otakku padat merayap.

"Apa yang selama ini ku prioritaskan dalam hidup?" tanyaku membatin.

Aku meringis, mendengar jawaban dari batinku sendiri.

Handphone. Sebuah benda kecil yang selalu ku genggam. Benda yang selalu kusempatkan untuk membuka nya. Baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Baik ketika ada yang menghubungi, baik ketika ingin menghubungi, pun ketika tidak dihubungi dan tidak ingin menghubungi siapapun.

Scroll up dan scroll down, tak henti-henti.

Instagram. Line. Whatsapp. Dan lainnya..

Menghabiskan waktu yang kupunya.

Aku melihat diriku di bulan ini. Sibuk. Tapi ternyata masih memiliki waktu, jika menyempatkan, ternyata sempat untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an.

Lantas, ku buka benda yang selama ini seringkali ku genggam, "Slow Respond, sabar" baca ku melihat status message line sendiri.

Ah..

Barangkali, aku selalu seperti ini kepada Al-Qur'an.

Barangkali, aku selalu slow respond pada perintah Sang Maha Kaya untuk membaca nya.

Barangkali, aku membuka Al-Qur'an di saat aku merasa aku butuh menghubungi Sang Khalik saja. Hanya ketika butuh, selain dari sedikit waktu yang kusisakan dalam sehari untuk membukanya.

Aku merasa begitu sibuk dengan aktivitas ku, sehingga hanya menyisihkan sedikit waktu untuk  membacanya.


-

Ramadhan tahun ini memberikan banyak pembelajaran bagiku.

Hari itu, hari ke-sekian ramadhan. Aku terdiam, memandangi benda yang harusnya (dari dulu) ku-prioritaskan dalam hidup.

Kurasakan pegal di badan. Sebuah senyum tersungging tidak terasa, Alhamdulillah bulan ini waktu ku tidak banyak terbuang tidak jelas.

"Memangnya biasanya apa yang selama ini kulakukan ketika lapang?" pikirku kembali menggerayang.

Handphone? 
Bukan,
Selain itu.
Oh. 
Drama korea. 

Kali ini senyum ku menjadi kecut. Ternyata terlalu banyak waktu yang kubuang untuk menonton nya.

Kadar nya bukan lagi sekedar menjadi hiburan. Melainkan, menjadi penggerogot waktu.

Lagi ah. Satu Episode lagi ah..

Ah mungkin.
Anime juga. 

 وَالْعَصْرِ
wal ‘ashr

1. Demi masa.

إِنَّ الْإِنسٰنَ لَفِى خُسْ
innal insaana lafii khusr

2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,

إِلَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِالصَّبْرِ
illal ladziina aamanuu wa’amilus shoolihaati watawaashoubil haqqi watawaashoubis shobr
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.

Dalam diam, aku berkaca diri, merasa ditipu oleh diri, selama ini merasa menggunakan waktu dengan baik.
Nyatanya aku adalah orang yang lalai akan waktu yang kupunya.

Berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk berinteraksi dengan Allah melalui Al-Qur'an? dibanding dengan berapa banyak waktu yang ku habiskan sia-sia?

Dalam kekecewaan diri, terlintas kalimat yang pernah kubaca:
"Betapa banyak manusia yang lalai sementara kain kafan nya sedang di tenun?" - Imam Syafii
-

Ramadhan tahun ini memberikan banyak pembelajaran bagiku.

Hari itu, hari ke-sekian ramadhan. Aku terdiam, memandangi benda yang harusnya (dari dulu) ku-prioritaskan dalam hidup.

"Bulan ini alhamdulillah Allah kasih kesibukan" gumamku.

Lantas teringat beberapa waktu sebelumnya aku mengeluhkan segala kelelahanku.

Mengeluh seakan beban yang dijalani pantas di sebut 'berat'.

Kini, jika boleh memilih.

Aku ingin terus menjadi sibuk. Seperti ini.

Meski dalam kesibukan itu,  aku sering kali diri meringis. Pengen istirahat yaAllah..

Nyata nya aku hanya kurang bersyukur.

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
  waja’alnaa nawmakum subaataan
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba: 9). 

Ya. Aku masih punya waktu untuk tidur, bahkan sebelum tidur aku sempat membuka hp (mendapatkan hiburan). Scroll up dan scroll down selama beberapa menit. 

Aku pun masih punya waktu untuk bersendagurau bersama teman-teman.

24 jam itu waktu yang panjang, tapi seringkali aku merasa waktu dalam sehari itu sempit.

Faktanya, bukan waktu yang sempit. Melainkan, aku yang tidak bisa memproduktifkan waktu.

Seakan sempit, karena banyak waktu yang kugunakan dalam kesia-siaan.

Benar sebuah tulisan yang sempat kubaca di line.

Bahwa waktu luang adalah ancaman besar.


-

Ramadhan tahun ini memberikan banyak pembelajaran bagiku.

Hari itu, hari ke-sekian ramadhan. Aku terdiam, memandangi benda yang harusnya (dari dulu) ku-prioritaskan dalam hidup.

Lantas aku berdiri, bersiap melanjutkan aktivitasku.

Menyadari Ramadhan akan segera berakhir.

Dan menyemogakan hasil muhasabah ini akan ku terapkan.

Hingga (InsyaAllah) kematian menjemput.

 Aamiin Yarabal alamin



Ramadhan Journey: Manusia Seperti Keris

Setelah menginjak bangku perkuliahan saya jadi lebih mengenal dunia perempuan, salah satu nya make up. Walau bisa nya ya begitu-begitu aja, tapi seenggaknya saya jadi kenal. Waktu SMA, saya mana tau, gak kenal barang-barang yang identik dengan cewek ini. 

Karena memang ada beberapa juga mata kuliah yang mengharuskan pakai make up, jadi saya belajar. Temen-temen juga kebetulan suka ngobrolin make up, saya jadi paham dan kadang ikut-ikutan ngobrolin (hehehe). Ternyata, bukan saya aja yang mengalami hal ini. Banyak perempuan. Dan katanya, wajar.

Selain make up, fashion pun menyokong penampilan perempuan. Walaupun saya gak gitu ngerti soal fashion, tapi saya cukup paham apa-apa yang sekiranya cocok untuk saya pakai. 

Sebenernya ada satu hal yang saya rasakan dan pertanyakan. Saya rasa, semakin besar seorang perempuan, ternyata perempuan makin dinilai dari fisiknya. Ditambah lagi kalau pulang, ketemu temen-temen dari orangtua atau keluarga besar. Kalimat yang pertama kali keluar dari mulut orang-orang sekitar pasti tentang fisik, puji ini atau itu, komentar ini atau itu. Ada yang salah, kenapa concern orang-orang selalu berpaku pada fisik?

Tentunya, yap, saya gak bisa memungkiri, dipuji berdasar fisik memang menyenangkan, tapi (saya sendiri) sering lupa kalau pujian adalah ujian. Dari kata nya pun, jelas, pujian merupakan ujian yang cuma di tambah huruf "P". Perempuan berlomba-lomba mempercantik diri dengan rangkaian skincare dan make up nya. Namun, ada sesuatu yang sering dilupakan..

 “Manusia itu kayak keris” ucap salah satu ustad, menyampaikan ceramahnya saat hendak melaksanakan solat terawih di masjid yang kebetulan saya datangi.

“Keris punya penutup, biasanya sering di lap sama pemiliknya, biar mengkilat, biar keliatan kegagahan dari keris itu.”

“Tapi fungsi keris ada di dalamnya, pisaunya. Kalau pisaunya nggak di asah, dia akan berkarat, dia akan tumpul.” Lanjutnya.

“Boleh jadi dari luar keris ini terlihat gagah karena sering di lap, tapi ketika dicabut oleh pemiliknya susah. Karena berkarat, gak diasah, jadi tumpul. Susah buat dicabut”

“Begitu juga dengan manusia, fisik di rawat, di reka. Tapi bagian dalam juga harus diasah, harus dirawat. Jangan sampai ketika Pemilik dari manusia, Allah, mencabut ruh, magol, susah, kayak keris yang berkarat tadi.”

Inalillahi, Ngeri.

Ngeri, membayangkan kematian.

Proses sakaratul maut saya gimana ya? Rasulullah aja yang bersih merasakan sakit sebegitu nya. Apalagi saya yang kotor... T_T

Ngeri, gimana nanti kalau ruh saya sulit dicabut. Naudzubillahimindzalik, YaAllah..

Bukan berarti mempercantik diri, merawat fisik itu salah. Tapi karena bagian dalam gak terlihat, bagian dalam jarang sekali dikomentari orang lain. Jadi jarang ngeh, suka lupa, buat mempercantik akhlak, mempercantik diri di depan Allah. Suka merasa udah baik, padahal masih jauuuh dari kata baik. Padahal bukan udah baik, tapi Allah yang Maha baik, yang menutupi aib, sebegitu hebatnya menutupi, sampai aib sendiri pun sering gak keliatan.

Untuk teman-teman satu kaum, wahai kaum hawa. It’ll be hard for us. Cause we should look beautiful in both.. Semoga fokus pada penilaian manusia semakin berkurang dan lebih berfokus pada penilaian Allah. Bismillah, semangat memperbaiki diri lillahitaala teman-teman, mari berproses.

اَللَّهُـمَّ كَمَا حَسَّـنْتَ خَلْقِـيْ فَحَسِّـنْ خُلُقِـيْ
Allaahumma kamaa hassanta kholqii fa hassin khuluqii 
Ya Allah, sebagaimana Engkau ciptakan baik rupaku. Maka perbaiki pula akhlakku.



-
-
-
-



Ramadhan Journey: Ramadhan 1939 H, sangat berkesan bagi saya. Bulan Ramadhan yang produktif, alhamdulillah Allah memberikan saya kesibukan dan di dalamnya banyak pelajaran yang bisa di ambil. Saya banyak belajar dari orang-orang yang saya temui secara sengaja maupun gak di sengaja. Banyak juga punya waktu me-time. Perjalanan fisik dan pikiran, yang ingin saya bagikan. Semoga bermanfaat. Semoga bisa bertemu Ramadhan berikutnya, aamiin yarabal alamin.

Pembual

Akhir-akhir ini saya sering merutuki diri, karena sering terlalu percaya kepada ucapan manusia. Sebegitu terpengaruhnya -tanpa sadar- padahal namanya juga manusia, bisa aja cuma berbasa-basi (karena merasa gak enak), bisa aja berbohong. Bukan dalam hal-hal besar, melainkan hal-hal kecil.

"Kenapa ya manusia suka bohong?" Tanya diri, di suatu malam. Sembari menyadari, mungkin saya pantas terkena bualan karena memang saya sempat (bahkan ternyata sering) berbual.

Bualan.. akan waktu. Bualan.. akan alasan. Atau bualan, omong kosong akan janji-janji kecil lain, iya seakan kecil padahal tetap Janji.

'Ketemu jam 10 ya!' Ah bualan, omong kosong, Jam 11 baru datang.
'Gak bisa datang soalnya gak ada yang jemput' Ah bualan, omong kosong, Padahal bisa naik motor sendiri.

Terkena bualan orang lain, sukses menampar saya. Sedih rasanya, menyadari saya sebal sama sesuatu yang nyatanya pun saya lakukan. Sedih, menyadari sebegitu bobroknya saya dalam perihal ucapan. Lidahmu itu pantas dipotong berapa kali di akhirat kelak, Shin?

Semakin sedih saya menyadari, ternyata saya gak bisa mengelak, memang saya ini pembual ulung!
Karena saya sering sekali membual bukan hanya terhadap manusia, tapi juga begitu berani nya pada Sang Pencipta.


إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمْحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 
Inna solati wanusuki wamahyaya wammamati lillahi rabbil’alamin. 
Merupakan doa yang dibaca tiap sholat, doa iftitah (Surah Al-An'am ayat 162) yang beberapa waktu lalu saya renungi setelah membacanya.

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Wah, bener tuh Shin? Hidupmu digunakan hanya untuk Allah? Berapa sering kamu melanggar perintah Allah pakai hidupmu yang katanya digunakan hanya untuk Allah itu? Berapa sering kamu melakukan sesuatu bukan karena Allah melainkan untuk making a great impression? Berapa kali kamu minta maaf sama Allah bilang bakal taubat, tapi dilakuin lagi? Pembual. 
Kamu jalan aja bahkan jarang banget mikir apa Allah Ridho sama langkahmu. Kamu ketawa aja suka asyik sendiri, lupa, Allah ridha atau enggak sama kamu. Pembual! Pembual Ulung!

Allah. Yaa Ghafar.

Semoga Allah mengampuni dosa hamba-Nya yang pembual ini. Baik berbual pada-Nya, pun pada makhluk-Nya yang bisa jadi menyisakan luka di hati nya. (Saya minta maaf sangat, dear pembaca yang pernah saya bual)

Bantu saya selalu mengingat, bahwa diberi omong kosong itu gak enak sama sekali.

Bantu saya selalu mengingat, bahwa seharusnya hidup hanya untuk Allah, lancang sekali saya membual untuk keuntungan diri sendiri melainkan Allah murka.

2 Syawal 1939 H
Taqaballahu Minna Wa Minkum.
Mohon maaf lahir dan batin, teman-teman.

Ngobrol Sama Mama: Menjadi Istri dan Ibu

"Teteh inget waktu mamah sakit sampai di operasi?" Tanya Mama tiba-tiba, sembari mengoleskan lidah buaya ke kakinya.

"Iya inget, Ma. Kenapa?" Saya menjawab mengangguk. Yajelas saya ingat. Waktu itu saya baru saja duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya dilarang ikut untuk menginap di rumah sakit bahkan menjenguk pun dilarang. Saya disuruh untuk fokus belajar di sekolah, padahal nyatanya kekhawatiran saya terus-menerus terasa..

"Beda kalau jadi perempuan sama laki-laki teh tanggungjawabnya"

Saya mengerutkan kening, gak ngerti maksudnya apa kenapa tiba-tiba mama ngomong gitu.

"Kalau nanti teteh udah jadi kayak mama, teteh juga gak bisa kaya sekarang"

"Maksudnya, Ma?" Akhirnya saya angkat bicara

"Iya, sekarang kan teteh lagi sakit nih. Bisa pulang dari Bandung ke rumah. Sengaja, biar ada yang rawat." Mama kemudian melirik saya. Saya membalasnya dengan cengiran manja.

"Tapi kalau nanti jadi istri, jadi ibu. Gak bisa kita full dirawat orang."

"...."

"Bapak sakit kemarin, bisa istirahat, bisa tidur tanpa ada kekhawatiran jangka pendek kayak... anak pulang jam berapa, anak kok belom pulang, anak pulang makan sama apa, uang jajan anak udah dikasih buat les atau belum. Full dirawat sama Mama, istrinya."

Memang, sebelum saya jatuh sakit. Bapak sakit terlebih dahulu. Rentang nya cuma satu minggu.

"Tapi kalau perempuan yang sakit, mau gak mau kita harus bisa ngerawat oranglain. Buat nyiapin sarapan, nyiapin perlengkapan sekolah anak, nyiapin lain-lainnya. Walaupun se-dirawatnya perempuan kalau nanti jadi istri apalagi ibu, kita harus bisa tetep ngerawat oranglain walaupun diri butuh dirawat."

Saya tetap diam, menyimak.

"Bahkan waktu mama mau operasi, mama nggak cuma mikirin tentang gimana operasi. Tapi gimana orang sekeluarga. Mamah harus tetep nyiapin baju-baju yang di pack apalagi kan si dede juga masih kecil, mikirin uang sekolah teteh perhari-nya kayak uang buat teteh makan, uang buat teteh les, dipisah-pisahin, keperluan-kepeluan lainnya juga dipikirin biar tuntas. Biar pas di rumah sakit, tenang"

"Tapi kan, Ma. Hal yang kayak gitu bisa sama bapak?"

"Bisa memang, Teh. Tapi kan bapak gak ngurusin keluarga secara keseluruhan di kesehariannya. Kalau bapak yang ngerjain nanti ada yang kelupaan atau apa-apa kan susah lagi"

Saya mengangguk, iya juga ya.

"Lagian Mama mah mandiri, Mamah kan dapetnya bapak....hmm...kebetulan dapet laki-laki yang.....manja:p" Lanjut Mama, kami berdua tertawa.

Kemudian saya teringat kabar tentang teman yang baru saja menikah. Nikah di umur yang muda, karena kebetulan teman satu angkatan Jadi umurnya kira-kira antara 19 atau 20 tahun.

"Kalau dipikir-pikir ya ma. Kemarin temen teteh kan ada yang nikah, baru-baru ini"

"Oh gerakan anti pacaran?"

Saya mengangguk. "Berarti dia hebat ya mah. Kalo Tia sih masih belum kebayang bakal gimana kalau sekarang. Tia tuh pulang kuliah pengennya tidur-tiduran, males-malesan, main hp. Kadang bete di kampus, pulang-pulang cemberut. Ada masalah, kadang mau nya nangis. Kalo ada suami mah jangan gitu mereun, Tia teh harus nyiapin apa-apa kalo pulang, harus ngelayanin. Tia teh harus senyum kalo bete dari kampus"

Kini giliran mamah yang diam, menyimak.

"Apalagi pas sakit, ini mah sebelum pulang, Tia juga kepikiran yang kata Mamah tadi. Nanti kalo lagi sakit kayak gini harus ngurusin anak ngurusin suami. Tia kepikiran aja berarti temen teteh ditemuin cepet sama jodohnya karena emang Allah tau dia udah bisa lewatin hal-hal kaya gitu. Hebat ya ma. Walau sepele ya sih, Ma. Tapi berguna yakan ma di rumah tangga?"

"Iya berguna. Jodoh mah beda-beda datangnya sesuai dengan kesiapan" Jawab Mama, yang kini sudah selesai mengoleskan lidah buaya ke kaki nya.

"Jadi keingetan Tia teh. Soal hidup jangan berlomba-lomba teh bener. Kayak kita lahir beda-beda, nikah beda-beda, mati juga beda-beda. Punya jalannya sendiri. Semuanya punya pilihan sama takdirnya ya ma?"

"Iya memang bener." Jawab Mama dengan nada penekanan gak kayak biasanya

"Mangkanya jangan panas sama orang lain. Lahir, nikah, mati punya waktunya sendiri. Yang penting jadi diri dari versi terbaik aja terus kita gak tau apa yang bakal dateng. Jangan manas-manasin oranglain juga kalau udah punya apa yang mereka belum." Lanjutnya

Saya mengangguk.

"Jaga lisaan" Tambah Mama

Kemudian terdengar adzan Dzuhur.

"Wah ma, harus dihapus lagi tuh lidah buaya nya" ucap saya meledek

"Iya, aduuh lupa liat jam kalau mau dzuhur" Kami berdua tertawa lagi. Dan tawa kami menjadi penutup pembicaraan mengenai istri dan ibu kemarin.